Saturday, January 3, 2026

MURTI SARI DEWI, TAKUT DITUDUH MURAHAN

 


MURTI SARI DEWI, TAKUT DITUDUH MURAHAN, Sejak kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta dan sekaligus terpilih sebagai pemeran Lasmini dalam film "Saur Sepuh" Murti Sari Dewi masih tetap diliput kebimbangan. Paling tidak mengingat iklim perfilman yang cenderung mengeksploitasi bagian-bagian tubuh wanita yang tergolong sensitif. Misal paha, buah dada yang dirancang sedemikian rupa melalui skenario agar sang pemain tak bisa menghindar dari kenyataan itu. Misalnya saja dalam film "Catat Namaku Rintan", (Berubah judul menjadi Cinta Punya Mau) yang dibintanginya. 

Masih beruntung bagi Murti, sutradara Chris Helweldery mau mengerti tentang dirinya. Cukup dengan busana renang dan bukan bikini sesuai tuntutan skenario. Meski begitu , Murti yang berperan sebagai Rintan masih merasa kikuk. 

Pada kenyataanya, gadis hitam manis yagn dijuluki si Gingsul ini telah tiga tahun malang melintang sebagai Lasmini. Dan tampil dalam tiga episode kisah "Saur Sepuh" di bawah pengarahan sutradara Imam Tantowi. Untuk tampil sebagai Lasmini, bagi Murti ternyata tidak ada problem yang begitu mendasar. Kecuali sikap Lasmini yang agak kemayu, kata Murti.

Sedangkan dalam film Catat Namaku Rintan ia merasa ibarat gadis desa yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kota besar seperti Jakarta. Hidup dan pribadinya begitu kontras dengan tokoh Rintan yang diperaninya. Bukan saja lidah Jawa yang begitu kental, cukup sulit bagi Murti untuk berlakon dengan gaya Jakarta yang cuek. 

"Tapi saya tetap berusaha untuk itu. Terlebih artis-artis lainnya cukup ngemong dan mau mengarahkan murti. Apalagi Mas Chris cukup sabar dan mau mengerti kekurangan Murti," kata Murti saat suting adegan kolam renang di Kelapa Gading Sport Club Jakarta utara. 

Saat wawancara mengabadikan dirinya dengan busana renang, ia selalu berusaha menutupi bagian pahanya. "Bukan apa-apa mas, saya takut dituduh sebagai artis murahan dan buka bukaan. Ia kalau masyarakat mau mengerti, kalau nggak? untuk adegan film nggak apa apa deh, " pintanya.

Selain soal busana minim, Murti ternyata serba salah dalam menghadapi filmnya ini. Karena selain dengan busana renang yang menurutnya cukup risih, juga adegan 'ci uman" yang bakal dilakoni bersama Mathias Muchus. 

"Soalnya belum pernah sih mas, jangankan dengan pacar , lha punya saja belum", kilahnya. 


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Friday, January 2, 2026

LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA

 


LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA. (Berita lawas) . Siapa nama asli Farida Pasha? dan Apa film pertama Farida? Bagi Farida Pasha, kecantikan agaknya bukan suatu yang utama. Sebab seperti diakuinya, ia tak terlalu ngotot merawat tubuhnya agar tetap kelihatan cantik. "Soalnya cantik itu kan relatif. Tergantung masing-masing orang." ujarnya. Sebaliknya, menurut Ida apa yang selalu dijaganya adalah imej masyarakat terhadapnya selama ini. "Imej yang baik itu pula yang membuat saya enggak berani datang dan keluar sendirian dari hotel. Sebab wanita yang keluar masuk  hotel sendirian, kecuali dia memang pegawai hotel tersebut, bisa menimbulkan imej macam macam. Dan saya takut menghadapi imej tersebut," katanya. 

Ketakutan itu menurutnya karena selama ini masyaakat sudah mengenalnya sebagai wanita 'baik-baik'. Sebagai ibu rumah tangga yang baik. "Sejak pertama saya main film, saya sudah tanamkan sikap seperti itu. Pertama main film, saya minta agar di beri penginapan di hotel. Saya lebih suka tinggal di satu keluarga yang punya anak wanita," katanya. Dan tentang film berikut petikan wawancara dengan Farida Pasha saat pembuatan film "Misteri Dari Gunung Merapi" di Pangandaran. 

Kenapa saban main film anda kebagian peran antagonis dan melulu film-film bertema horor?

Sejak pertama main film saya memang sudah kebagian peran antagonis. Mereka pikir saya berhasil untuk peran itu. Saya sendiri enggak pernah tanya pada produser atau sutradara kenapa mereka pakai saya untuk peran-peran antagonis melulu. Padahal saya mampu lho main dengan peran-peran yang lembut. Tapi kayaknya orang tidak yakin karena saya terlalu sering dapat peran antagonis dan kasar. 

Bagi kehidupan pribadi ada dampak peran-peran tersebut?

Enggak ada tuh. Tapi emang orang-orang apalagi di daerah suka kaget bila bertemu saya. Mereka bingung kok Farida di film beda dengan sehari-hari. Kok bisa ya orang selembut anda jadi galak di film. Saya jawab saja, itulah namanya akting. Dari situ saya jadi tahu pula, ternyata masih ada masyarakat kita yang menganggap penampilan artis di film begitu juga penampilannya sehari-hari. 

Mulanya main film, gimana ceritanya?

Saya main film enggak sengaja kok. Kebetulan saja. Waktu itu tahun 1979 saya sudah berumah tangga dan punya anak satu. Waktu itu saya buka dagangan di rumah dengan seorang teman pengusaha batik. Tiba-tiba seorang teman saya datang meminta foto saya. Saya enggak tahu kalau foto itu bakal di berikan ke sutradara film yang lagi suting di bandung.  Mereka sedang bikin film "Guna Guna Istri Muda" dan sutradaranya BZ Kadaryono . Mereka sedang mencari pemain katanya sudah dua minggu tapi belum juga ketemu. Saya datang kerumah teman tersebut. Tapi dirumah itu ternyata sudah menunggu BZ Kadaryono. Waktu itu bayangan saya yang namanya sutradara itu gemerlapan lho. Ternyata biasa saja, saya lalu ditest. Saya mau karena ingin cepat pulang dan mendapatkan foto saya yang dibawa teman tersebut. Eh, ternyata malah saya lulus. Mulanya sih saya menolak, tapi akhirnya saya kalah dengan rayuan BZ Kadaryono. Di film itulah saya langsung dapat peran utama dan langsung antagonis . 

Lantas ganti nama?

Tidak, tapi BZ Kadaryono yang menggantinya. Nama saya yang asli adalah NUNUNG FARIDA, BZ kemudian menggantinya dengan Farida Regina. Tapi saya kok kurang sreg dengan nama itu, lalu saya ganti sendiri dengan Farida Pasha. Nama Pasha itu sendiri saya ambil dari nama keluarga saya. Soalnya saya kan blasteran Sunda Pakistan. Tapi saya enggak percaya lho kalau nama bisa memberi keberuntngan pada pemakainya. 

Pernah Menolak Peran yang Di berikan?

Pernah beberapa kali. Misalnya ketika saya ditawari peran dalam film "Bibir Bibir Bergincu" Saya menolak peran di film itu hanya karena ada adegan yang meminta saya membuang BH. Saya menolak peran itu karena saya percaya penonton kita sudah pintar pintar kok. 

Sejak 79, sampai sekarang pengalaman apa yang di dapatkan dari bermain film?

Banyak sekali. Paling tidak buat pribadi saya. Selain pergaulan, saya banyak melihat orang-orang film pun banyak yang masih berpegang pada keteguhan imannya. Aedy Moward almarhum misalnya. Dia tidak pernah meninggalkan sholatnya sekalipun waktu suting. Ini pelajaran baik buat saya. Bagi saya sendiri main film adalah main film. Setelah suting selesai, semuanya selesai. Saya kembali sebagai manusia biasa. Saya memang selalu berusaha untuk menjadi artis waktu suting saja. Kalau di rumah atau waktu tidak suting, saya tetap ibu rumahtangga. 

Pernah merasa di ganggu waktu memerankan tokoh dalam film horor?

Sampai sekarang mudah-mudahan tidak. Tapi sebagai muslim kita harus percaya pada yang gaib. Bahwa setan itu ada. Memang sayang sering dengar bahwa ada orang yang kesurupan waktu sedang suting. Tapi saya pikir itu karena dia sedang kosong jiwanya. Saya sendiri saban suting selalu baca ayat ayat. berdoa. Saya baca ayat apa saja yagn saya ingat agar saya tidak diganggu. Malah waktu ikut dalam film "Panasnya Selimut malam" saya terus menerus berdoa. Minta ampun sama Allah. Soalnya di film itu saya kebagian peran sebagai orang yang minta tolong pada setan. Itu kan syirik jadinya, bagi saya kalau kita yakin pada kekuasaan Allah dan niat kita baik, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI

 


LOKASI SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI, Lampu lampu sudah dinyalakan, pemain juga sudah bersiap-siap untuk pengambilan gambar. Malam hari yang tanpa purnama di suaka alam Pangandaran itu, Sutradara Liliek Sudjio akan mengambil adegan fight antara Sembara (Fendy Pradana) dengan anak buah Raisman (Asrul Zulmi). Adegan baru berjalan beberapa saat ketika Liliek selesai berteriak "Kamera action," seorang pemain tiba-tiba saja keluar dari kamera dan melopat-lompat kesakitan. "Cut"! teriak Liliek melihat tingkah pemainnya. 

Orang-orang saling berpandangan. Ada apa? "Gerakan itu tak ada dalam latihan kan?", tanya Liliek pada sang pemain. Sambil terus meringis sang pemain tetap tak menjawab. Setelah di selidiki, sang pemai yang meringis bukan karena Fendy terlalu keras memukul musuhnya, tapi , nah ini pemain tersebut rupanya menginjak pecahan botol dan luka. 

Loho kok bisa ada kaca di lokasi tersebut? setelah tanya sana tanya sini, ternyata seorang bule yang teler (mabuk) memecahkan botol di lokasi itu. Dan Liliek cuma bisa geleng kepala. 

Kejadian kecil itu adalah bagian dari pernik-pernik suting "Misteri Dari Gunung Merapi", di Pangandaran, jawa Barat. Suting yang direncanakan memakan waktu selama 15 hari di lokasi tersebut memang kerap terganggu bukan cuma oleh tingkah polah monyet beneran yang usil, tapi juga oleh ledakan pengunjung yang menyaksikan suting dan sulit di terbitkan. Dan memang beberapa kali suting ditunda dari jadwal yang direncanakan hanya karena repotnya ngatur pengunjung yang ingin menyaksikan cara membuat film. 

"Saya cuma ingin melihat bintang filmnya saja kok. Bukan mau tahu bagaimana bikin film. Saya sudah tahu. Pangandaran kan sudah sering di jadikan tempat bikin film," kata Yati, salah seoran gpenduduk pangandaran. Dan motivasi seperti itu nyatanya tak cuma ada dalam diri Yati, tapi hampir semua pengunjung yang berjubel "Pengin lihat dari dekat wajah Iasha", Kata Nano, penduduk Tasik Jawa Barat yagn mengaku sengaja datang ke Pangandaran untuk santai sekaligus bertemu Ida Iasha. 

Namun masyarakat yang berjubel itu nyaris tak perduli dengan kepentingan para pembuat film. "Padahal ranting pohon patah saja di Pangandaran ini, kita diharuskan bayar ganti rugi," tutur Sindhudarma Pimpinan produksi film "Misteri Dari Gunung Merapi". Tak cuma itu beberapa kru juga sering mengombel karena tiba-tiba saja kabel lampu terseret kaki pengunjung yang hilir mudik. "Tapi kit akan tak bisa mengusir mereka?" keluh kru yang lain. 

Film yang katanya menghabiskan biaya Rp. 1 Milyar ini selain di Pangandaran juga melakukan suting di Jakarta, Bogor, Tegal, Solo dan Semarang. Tapi memang saban suting di tempat tersebut kami di serbu penonton. Yang pingin kenal lah, yang minta tanda tanganlah, Tapi kita mau bilang apa? Ya, terpaksa kita layani, Kalau nggak nanti dibilang sombong", tutur Farida Pasha yang berperan sebagai Mak Lampir. 

Di Pangandaran sendiri menurut Liliek, Suting film ini selain untuk pengambilan panorama asli cerita juga  alamnya sesuai dengan tuntutan cerita juga mengambil beberapa adegan fight dan special effectnya. 

Tapi kenapa harus di banyak lokasi? Adalah Liliek Sudjio yang kemudian menjawab "Kalau mengambil secara murni dari sandiwara radionya, mestinya lokasi dan cerita film ini terjadi di Sumatera. Tapi saya tidak mau menimbulkan imej film ini dbuat hanya untuk masyarakan Sumatera. Saya ingin menjadikan film ini film untuk semua masyarakat Indonesia, dengan wawasan nusantara," katanya. "Dan itulah alasan mengapa mengambil lokasi di banyak daerah, " tambahnya. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

SI GOBANG, DAUD SUMADINATA SEBELUM BERGANTI ERICK.

 


SI GOBANG, DAUD SUMADINATA SEBELUM BERGANTI ERICK. 

Ini sebuah film yang diangkat dari cerita yang berlatar belakang kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu. Cerita ini pernah dimuat di harian Pos Kota karya Hadi Noor, dengan skenario di tulis oleh Cut Djalil. Film ini di sutradarai oleh Atok Suharto. Suting di daerah Tangerang Jawa Barat (sekarang Banten), dimulai pertengahan Desember 1988, yang selesai sekitar 40 hari suting. 

Gobang (Daud Sumadinata) yang telah berubah jadi pemuda yang saleh, karena diusir oleh ayahnya Haji Madun, kembali ke kampung halaman. Namun semuanya telah berubah. Kehadiran Gobang telah membuat marah Jufri (Advent Bangun). Jufri menuduh Gobang membunuh Bek Madi (Jack Maland). Juragan Naning menugaskan Jabrik menangkap Gobang tapi kedatangan Haji Somad (Him Damsyik), guru Silat Gobang dan Jabrik berhasil mendamaikan keduanya. 

Pemain-pemain lain yang mendukung film ini adalah Yurike Prastica sebagai Nio, Doddy Wijaya sebagai Haji Solihun, Lina Budiarti sebagai Empok Hindun, Bram Adrianto sebagai Mandor. Para pekerja lain yang mendukung film ini adalah Suryo Susanto sebagai juru kamera, Henry Winarto penata artistik, Ermis Tahir editor. "Si Gobang" di produksi PT. Virgo Putra Film dengan produser Ferry Angriawan, pimpinan produksi Beslah. 

"Sebagaimana film-film silat pada umumnya , dalam film saya ini membicarakan tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan, kata Atok yang sebelum menyutradarai film ini telah membuat Putri Duyung, Langganan, Bukit Berdarah, Perempuan Malam, Putri Kuntilanak, dan Si Doi. 


~MF 066/34/Tahun V/7-20 Januari 1989

NIKE ASTRINA, DARI NYANYI KE FILM

 


NIKE ASTRINA, DARI NYANYI KE FILM. Tidak Kecil, bukan anak-anak lagi. Sudah belia, cantik, jangkung, semampai, rambut panjang, terurai dan sederhana. Demikian sosok artis penyanyi dari Bandung yang lagi meniti karir dalam dunia film. Penampilannya, sepintas memang seperti pendiam. Padahal jika sudah akrab, ia keluarkan aslinya sebagai periang, supel dan ramah. Itulah Nike Ratnadilla alias NIKE ASTRINA. Putri bungsu dari tiga saudara keluarga R.E Kusnadi, karyawan Pusdiklan PJKA Bandung. 

Nike Ratnadilla lahir di Bandung, pada 27-12-1975. Pelajar SMP Negeri 30 Bandung, tinggi 160 ini berat tidak tahu (soalnya Nike takut ditimbang badan). Warna kulit yang kuning langsat tada bule, punya latar cerita, konon tatkala "Nike" masih dalam kandungan sang ibu, sang ayah sempat mengIslamkan bule dari Australia. Ada-ada saja, Nike, nike!.

Ada lagi sebuah cerita ihwal Nike, syahdan, tatkala suting film "Kasmaran" yang berlangsung di Bandung, sutradara Slamet Rahardjo Djarot sempat pusing setengah keliling. Apa pasalnya? Slamet beserta balanya kesulitan mencari pemeran adik Ida Iasha dalam film yang digarapnya. 

Kesulitan Slamet Rahardjo segera pupus ketika penulis MF menyodorkan foto Nike Ratnadilla dan bertutur ihwal apa dan siapa gadis belia yang rada bule itu. Setelah ditatap dan ditilik, ternyata sosok Nike pas untuk peran yang dimaksud. Maka, Nike pun di koling dan besoknya langsung suting. 

Dalam film "Kasmaran" itu, biarin porsi Nike cuma sebagai pemeran pembantu, tetapi aktingnya tidak mengecewakan, Bahkan Slamet Rahardjo sempat berkomentar, "Gadis yang cantik ini miliki bakat untuk jadi bintang film, lain kali jika memang ada casting untuknya, saya bakal orbitkan Nike, " katanya. 

Tatkala berlangsung acara final "Lomba Calon Bintang 1988" yang diselenggarakan PARFI cabang Jawa Barat bekerjasama dengan Majalah Film, di hotel Homann Bandung, Nike sempat bertlalala melantunkan dua lagu. 

~MF 

Wednesday, December 31, 2025

SUTING FILM "PANCASONA"

 


SUTING FILM "PANCASONA", Cara menyabet dengan Tombak. 

Situ Gunung, Taman wisata yang punya hutan lindung dan air terjun indah, letaknya cuma sekitar 25km dari Sukabumi. Sayangnya, jalan menuju kesana sudah termasuk rusak berat. Aspal mengelupas membuat jalan berlubang-lubang. Akibatnya perjalanan dengan mobil terpaksa memakan waktu sampau satu setengah jam. 

Ketempat inilah sutradara M. Abnar Romli dan krunya dari PT. Kanta Indah Film datang utuk membuat film silat "Pancasona". Sejak pukul enam pagi mereka sudah berangkat dari tempat menginapnya di Wisma PGRI Sukabumi. Begitu sampai kamerawan Thomas Susanto langsung mengatur lampu, disekitar sebatang pohon jati tua yang tinggi menjulang. 

Dalam lembah Belukar Situ Gunung inilah akan dibuat adegan pertarungan menentukan antara Barry Prima kontra Sutrisno Widjaya. Sebelum suting, Sutrisno yang juga menjadi Penata Kelahi berembug lebih dulu dengan  Barry. "Mula-mula saya menyabetkan tombak, Barry melompat ke kanan lalu saya berbalik menyodokkan tombak ke arah leher, Barry menyambut dengan jepitan sepasang telapak tangan. 

Barry yang tak pernah banyak bicara, cuma manggut saja. Keduanya mulai berlatih, Barry yang mengenakan rompi bersisik memperlihatkan dadanya yang bidang, Sedangkan Sutrisno Widjaya berpakaian kulit macan dan bersenjata tombak bermata dua. 

Dua tiga kali berlatih, Barry yagn memang memiliki dasar Taekwondo sudah mahir melancarkan ajaran Sutrisno Widjaya. "Oke kita take", seru Romli

Barry menaiki sebuah tangga dari ketinggian ia melompat, "jleg" tepat di depan Sutrisno. Dalam film nanti tentu saja tangganya tidak kelihatan, seolah-olah Barry lompat turun dari puncak pohon. 

Sutrisno yagn sudah petantang petenteng dengan tombaknya justru melupakan dialognya, terbata-bata salah ngomong. Terpaksa suting harus diulang lagi. Khusus Sutrisno di close up ketika berdialog. Maka Barry mundur dulu untuk merokok sebentar. Setelah tiba gilirannya barulah ia maju lagi. Asisten Penata Rias menyemprot-nyemprotkan air agar Barry kelihatan berkeringat di wajahnya. 

Kali ini suting berjalan lancar. Sutrisno menyodokkan tombaknya, tepat di jepit dengan sepasang tangan Barry. Semua penonton muda mudi yang sedang berwisata Minggu di situ Gunung bertepuk tangan memuji atraksi gratis ini. Selain Barry dan Sutrisno, film silat ini juga dibintangi oleh Yoseph Hungan dan artis malaysia Ziela Jalil. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Monday, December 29, 2025

OBITUARI NAWI ISMAIL

 


OBITUARI NAWI ISMAIL. Perginya seorang Tokoh. Nawi Ismail adalah sutradara 3 jaman, Sosok seorang tokoh perfilman yang dirawat di RS St. Carolus dan beliau meninggal dunia pada pukul 13.33 Kamis 8 Februari 1990 dan dikebumikan keesokan harinya. 

Sebelum meninggal dunia, Nawi Ismail sudah menderita penyempitan syaraf tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan, juga mengidap penyakit darah tinggi. Sementara sebelum meninggal, terjadi komplikasi karena asma kronisnya kambuh, paru-parunya terisi air dan jantungnya terserang. Sehari sebelum meninggal tepatnya Rabu Sore, almarhum Nawi Ismail dinyatakan dalam keadaan koma dan dirawat di Unit Perawatan Intensif. 

Perjalanan karirnya mulai terjun ke film setelah menyelesaikan pendidikan MULO. Film pertama, Macan Ketawa telah melibatkannya sebagai pemain film figuran, dibuat tahun 1940 setelah itu, tahun 1941 sebagai pemain pembantu dalam Melati Van Agam.

Tahun 1940an, almarhum mulai mengabdi di film sebagai pembantu juru kamera, pembantu editor dan petugas lab. Kemudian ia juga ikut main dalam film Ikan Doejoeng dan Selendang Delima pada tahun 1941.

Ia jadi tentara waktu perang kemerdekaan dan berhenti pada tahun 1950 dengan pangkat Letnan Dua. Sebelumnya, almarhum bekerja pada Nippon Eigasha sebagai pembantu editor dan pencatat skrip film-film berita Nampo Hodo. 

Di tahun 1950, setelah keluar dari TNI, bekerja pada PFN, mengedit film cerita seperti Sedap Malam dan untuk Sang Merah Putih, sambil menuliskan skenarionya yang pertama Inspektur Rachman dimana ia juga sebagai pembantu sutradara. 

Film pertama yang di sutradarainya berjudul "Akibat" yang dibuatnya pada tahun 1951. Menyusul film Solo Di Waktu malam, yang dibuat tahun 1952. Namanya kemudian mulai diperhitungkan setelah pembuatan film berjudul Berabu produksi pertama Dewi Film tahun 1960. Sedang tahun 1970an, namanya kembali terangkat setelah film Si Pitung. Film-filmnya yang banyak melibatkan Benyamin S sebagai pemain, sangat di gemari masyarakat. Dia pulalah yang mengangkat nama Warkop lewat bisokop pada tahun 1979. Film terakhir yang di sutradarai , Si Pitung Murid yang Baik (judulnya berganti ya), tahun 1986

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Sunday, December 28, 2025

DIAH PERMATASARI GANTIKAN MERIAM BELLINA DALAM LUPUS V


 DIAH PERMATASARI GANTIKAN MERIAM BELLINA DALAM LUPUS V (Berita lawas). Achiel Nasrun hampir setengah tahun mempersiapkan film lupus jilid 5. Menurut perhitungannya, film ini termasuk alot dalam proses suting, bukan disebabkan dana produksi dikeluhkan banyak produser, tapi untuk mencari pelakon utama cewek yang bikin kepala dalang muda itu pusing tujuh keliling. Meriam Bellina yang dicalonkan, menolak tanpa alasan pasti. Akhirnya pilihan jatuh pada cewek model asal Solo, Diah Permatasari. 

Lahir 25 Januari 1971 sebagai putri ke tiga dari empat bersaudara keluarga Djon Sangideo dan Insiah Ratna Wedaningrum. Adalah Bobby Sandi orang pertama yang mencumpai Didi (nama intimnya) sewaktu pembuatan film Selamat Tinggal Jeanette. Kemudian sutradara lain tergiur memanfaatkan lewt film-film mereka antaranya Tutur Tinular , Perwira Ksatria, Barang Titipan dan Bernapas Dalam Lumpur. Lewat film terakhirnya ini, Didi berlakon sebagai 'pela cur' murahan mendampingi Meriam. 

Didi mengaku bahwa tak ada kesulitan memerankan pela cur, bahkan berkesan biasa saja, seperti peran ini cocok biar kenyataannya tidak lincah dan kurang genit. Namun melihat pose-pose Didi di berbagai mass media cetak, Masya Allah. Barangkali orang tidak percaya kalau yang setengah bugil itu adalah cewek Solo. "Kebetulan orang tua saya ngerti sekali. Keluarga kami menganut kehidupan modern dan tradisional yang di padukan. Kalau tidak modern, mana mungkin saya bisa main film?, tangkis Didi. 

Didi memang sudah siap luar dalam untuk menekuni film yang tak pernah dimimpikannya itu. Bahwa menurutnya, dunia film akan mencelakakan diri sendiri manakala disertai dengan perasaan setengah-setengah. "Biarin aja pandangan orang terhadap artis yang cenderung berbuat negatif, karena mereka selalu berpatokan pada peran-peran yang di bawakan. Malah saya musti siap dengan gosip yang akan menghantam sewaktu-waktu", jelas Didi.

Penampilan Didi sebagai bintang bolehlah, namun ia juga sadar, masih mentah dalam penguasaan, seni peran. Sayang, tawaran Arifin C Noer batal, Didi oleh sutradara senior itu dianggap tidak disiplin. Suruh datang ke kantor PT. Inova Bintang yang memproduksi 'Bibir Me. Didi beralasn nyasar. "Bagaimanapun jadi pemain, berbohong saja kamu tidak mampu?" tukas seorang staff dri kantor yang sudah memproduksi film Zig Zag. 


~MF 140/107/Th. VIII/ 9 - 22 November 1991