LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA. (Berita lawas) . Siapa nama asli Farida Pasha? dan Apa film pertama Farida? Bagi Farida Pasha, kecantikan agaknya bukan suatu yang utama. Sebab seperti diakuinya, ia tak terlalu ngotot merawat tubuhnya agar tetap kelihatan cantik. "Soalnya cantik itu kan relatif. Tergantung masing-masing orang." ujarnya. Sebaliknya, menurut Ida apa yang selalu dijaganya adalah imej masyarakat terhadapnya selama ini. "Imej yang baik itu pula yang membuat saya enggak berani datang dan keluar sendirian dari hotel. Sebab wanita yang keluar masuk hotel sendirian, kecuali dia memang pegawai hotel tersebut, bisa menimbulkan imej macam macam. Dan saya takut menghadapi imej tersebut," katanya. Ketakutan itu menurutnya karena selama ini masyaakat sudah mengenalnya sebagai wanita 'baik-baik'. Sebagai ibu rumah tangga yang baik. "Sejak pertama saya main film, saya sudah tanamkan sikap seperti itu. Pertama main film, saya minta agar di beri penginapan di hotel. Saya lebih suka tinggal di satu keluarga yang punya anak wanita," katanya. Dan tentang film berikut petikan wawancara dengan Farida Pasha saat pembuatan film "Misteri Dari Gunung Merapi" di Pangandaran.
Kenapa saban main film anda kebagian peran antagonis dan melulu film-film bertema horor?
Sejak pertama main film saya memang sudah kebagian peran antagonis. Mereka pikir saya berhasil untuk peran itu. Saya sendiri enggak pernah tanya pada produser atau sutradara kenapa mereka pakai saya untuk peran-peran antagonis melulu. Padahal saya mampu lho main dengan peran-peran yang lembut. Tapi kayaknya orang tidak yakin karena saya terlalu sering dapat peran antagonis dan kasar.
Bagi kehidupan pribadi ada dampak peran-peran tersebut?
Enggak ada tuh. Tapi emang orang-orang apalagi di daerah suka kaget bila bertemu saya. Mereka bingung kok Farida di film beda dengan sehari-hari. Kok bisa ya orang selembut anda jadi galak di film. Saya jawab saja, itulah namanya akting. Dari situ saya jadi tahu pula, ternyata masih ada masyarakat kita yang menganggap penampilan artis di film begitu juga penampilannya sehari-hari.
Mulanya main film, gimana ceritanya?
Saya main film enggak sengaja kok. Kebetulan saja. Waktu itu tahun 1979 saya sudah berumah tangga dan punya anak satu. Waktu itu saya buka dagangan di rumah dengan seorang teman pengusaha batik. Tiba-tiba seorang teman saya datang meminta foto saya. Saya enggak tahu kalau foto itu bakal di berikan ke sutradara film yang lagi suting di bandung. Mereka sedang bikin film "Guna Guna Istri Muda" dan sutradaranya BZ Kadaryono . Mereka sedang mencari pemain katanya sudah dua minggu tapi belum juga ketemu. Saya datang kerumah teman tersebut. Tapi dirumah itu ternyata sudah menunggu BZ Kadaryono. Waktu itu bayangan saya yang namanya sutradara itu gemerlapan lho. Ternyata biasa saja, saya lalu ditest. Saya mau karena ingin cepat pulang dan mendapatkan foto saya yang dibawa teman tersebut. Eh, ternyata malah saya lulus. Mulanya sih saya menolak, tapi akhirnya saya kalah dengan rayuan BZ Kadaryono. Di film itulah saya langsung dapat peran utama dan langsung antagonis .
Lantas ganti nama?
Tidak, tapi BZ Kadaryono yang menggantinya. Nama saya yang asli adalah NUNUNG FARIDA, BZ kemudian menggantinya dengan Farida Regina. Tapi saya kok kurang sreg dengan nama itu, lalu saya ganti sendiri dengan Farida Pasha. Nama Pasha itu sendiri saya ambil dari nama keluarga saya. Soalnya saya kan blasteran Sunda Pakistan. Tapi saya enggak percaya lho kalau nama bisa memberi keberuntngan pada pemakainya.
Pernah Menolak Peran yang Di berikan?
Pernah beberapa kali. Misalnya ketika saya ditawari peran dalam film "Bibir Bibir Bergincu" Saya menolak peran di film itu hanya karena ada adegan yang meminta saya membuang BH. Saya menolak peran itu karena saya percaya penonton kita sudah pintar pintar kok.
Sejak 79, sampai sekarang pengalaman apa yang di dapatkan dari bermain film?
Banyak sekali. Paling tidak buat pribadi saya. Selain pergaulan, saya banyak melihat orang-orang film pun banyak yang masih berpegang pada keteguhan imannya. Aedy Moward almarhum misalnya. Dia tidak pernah meninggalkan sholatnya sekalipun waktu suting. Ini pelajaran baik buat saya. Bagi saya sendiri main film adalah main film. Setelah suting selesai, semuanya selesai. Saya kembali sebagai manusia biasa. Saya memang selalu berusaha untuk menjadi artis waktu suting saja. Kalau di rumah atau waktu tidak suting, saya tetap ibu rumahtangga.
Pernah merasa di ganggu waktu memerankan tokoh dalam film horor?
Sampai sekarang mudah-mudahan tidak. Tapi sebagai muslim kita harus percaya pada yang gaib. Bahwa setan itu ada. Memang sayang sering dengar bahwa ada orang yang kesurupan waktu sedang suting. Tapi saya pikir itu karena dia sedang kosong jiwanya. Saya sendiri saban suting selalu baca ayat ayat. berdoa. Saya baca ayat apa saja yagn saya ingat agar saya tidak diganggu. Malah waktu ikut dalam film "Panasnya Selimut malam" saya terus menerus berdoa. Minta ampun sama Allah. Soalnya di film itu saya kebagian peran sebagai orang yang minta tolong pada setan. Itu kan syirik jadinya, bagi saya kalau kita yakin pada kekuasaan Allah dan niat kita baik, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa.
~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989