Friday, January 2, 2026

NIKE ASTRINA, DARI NYANYI KE FILM

 


NIKE ASTRINA, DARI NYANYI KE FILM. Tidak Kecil, bukan anak-anak lagi. Sudah belia, cantik, jangkung, semampai, rambut panjang, terurai dan sederhana. Demikian sosok artis penyanyi dari Bandung yang lagi meniti karir dalam dunia film. Penampilannya, sepintas memang seperti pendiam. Padahal jika sudah akrab, ia keluarkan aslinya sebagai periang, supel dan ramah. Itulah Nike Ratnadilla alias NIKE ASTRINA. Putri bungsu dari tiga saudara keluarga R.E Kusnadi, karyawan Pusdiklan PJKA Bandung. 

Nike Ratnadilla lahir di Bandung, pada 27-12-1975. Pelajar SMP Negeri 30 Bandung, tinggi 160 ini berat tidak tahu (soalnya Nike takut ditimbang badan). Warna kulit yang kuning langsat tada bule, punya latar cerita, konon tatkala "Nike" masih dalam kandungan sang ibu, sang ayah sempat mengIslamkan bule dari Australia. Ada-ada saja, Nike, nike!.

Ada lagi sebuah cerita ihwal Nike, syahdan, tatkala suting film "Kasmaran" yang berlangsung di Bandung, sutradara Slamet Rahardjo Djarot sempat pusing setengah keliling. Apa pasalnya? Slamet beserta balanya kesulitan mencari pemeran adik Ida Iasha dalam film yang digarapnya. 

Kesulitan Slamet Rahardjo segera pupus ketika penulis MF menyodorkan foto Nike Ratnadilla dan bertutur ihwal apa dan siapa gadis belia yang rada bule itu. Setelah ditatap dan ditilik, ternyata sosok Nike pas untuk peran yang dimaksud. Maka, Nike pun di koling dan besoknya langsung suting. 

Dalam film "Kasmaran" itu, biarin porsi Nike cuma sebagai pemeran pembantu, tetapi aktingnya tidak mengecewakan, Bahkan Slamet Rahardjo sempat berkomentar, "Gadis yang cantik ini miliki bakat untuk jadi bintang film, lain kali jika memang ada casting untuknya, saya bakal orbitkan Nike, " katanya. 

Tatkala berlangsung acara final "Lomba Calon Bintang 1988" yang diselenggarakan PARFI cabang Jawa Barat bekerjasama dengan Majalah Film, di hotel Homann Bandung, Nike sempat bertlalala melantunkan dua lagu. 

~MF 

Wednesday, December 31, 2025

SUTING FILM "PANCASONA"

 


SUTING FILM "PANCASONA", Cara menyabet dengan Tombak. 

Situ Gunung, Taman wisata yang punya hutan lindung dan air terjun indah, letaknya cuma sekitar 25km dari Sukabumi. Sayangnya, jalan menuju kesana sudah termasuk rusak berat. Aspal mengelupas membuat jalan berlubang-lubang. Akibatnya perjalanan dengan mobil terpaksa memakan waktu sampau satu setengah jam. 

Ketempat inilah sutradara M. Abnar Romli dan krunya dari PT. Kanta Indah Film datang utuk membuat film silat "Pancasona". Sejak pukul enam pagi mereka sudah berangkat dari tempat menginapnya di Wisma PGRI Sukabumi. Begitu sampai kamerawan Thomas Susanto langsung mengatur lampu, disekitar sebatang pohon jati tua yang tinggi menjulang. 

Dalam lembah Belukar Situ Gunung inilah akan dibuat adegan pertarungan menentukan antara Barry Prima kontra Sutrisno Widjaya. Sebelum suting, Sutrisno yang juga menjadi Penata Kelahi berembug lebih dulu dengan  Barry. "Mula-mula saya menyabetkan tombak, Barry melompat ke kanan lalu saya berbalik menyodokkan tombak ke arah leher, Barry menyambut dengan jepitan sepasang telapak tangan. 

Barry yang tak pernah banyak bicara, cuma manggut saja. Keduanya mulai berlatih, Barry yang mengenakan rompi bersisik memperlihatkan dadanya yang bidang, Sedangkan Sutrisno Widjaya berpakaian kulit macan dan bersenjata tombak bermata dua. 

Dua tiga kali berlatih, Barry yagn memang memiliki dasar Taekwondo sudah mahir melancarkan ajaran Sutrisno Widjaya. "Oke kita take", seru Romli

Barry menaiki sebuah tangga dari ketinggian ia melompat, "jleg" tepat di depan Sutrisno. Dalam film nanti tentu saja tangganya tidak kelihatan, seolah-olah Barry lompat turun dari puncak pohon. 

Sutrisno yagn sudah petantang petenteng dengan tombaknya justru melupakan dialognya, terbata-bata salah ngomong. Terpaksa suting harus diulang lagi. Khusus Sutrisno di close up ketika berdialog. Maka Barry mundur dulu untuk merokok sebentar. Setelah tiba gilirannya barulah ia maju lagi. Asisten Penata Rias menyemprot-nyemprotkan air agar Barry kelihatan berkeringat di wajahnya. 

Kali ini suting berjalan lancar. Sutrisno menyodokkan tombaknya, tepat di jepit dengan sepasang tangan Barry. Semua penonton muda mudi yang sedang berwisata Minggu di situ Gunung bertepuk tangan memuji atraksi gratis ini. Selain Barry dan Sutrisno, film silat ini juga dibintangi oleh Yoseph Hungan dan artis malaysia Ziela Jalil. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Monday, December 29, 2025

OBITUARI NAWI ISMAIL

 


OBITUARI NAWI ISMAIL. Perginya seorang Tokoh. Nawi Ismail adalah sutradara 3 jaman, Sosok seorang tokoh perfilman yang dirawat di RS St. Carolus dan beliau meninggal dunia pada pukul 13.33 Kamis 8 Februari 1990 dan dikebumikan keesokan harinya. 

Sebelum meninggal dunia, Nawi Ismail sudah menderita penyempitan syaraf tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan, juga mengidap penyakit darah tinggi. Sementara sebelum meninggal, terjadi komplikasi karena asma kronisnya kambuh, paru-parunya terisi air dan jantungnya terserang. Sehari sebelum meninggal tepatnya Rabu Sore, almarhum Nawi Ismail dinyatakan dalam keadaan koma dan dirawat di Unit Perawatan Intensif. 

Perjalanan karirnya mulai terjun ke film setelah menyelesaikan pendidikan MULO. Film pertama, Macan Ketawa telah melibatkannya sebagai pemain film figuran, dibuat tahun 1940 setelah itu, tahun 1941 sebagai pemain pembantu dalam Melati Van Agam.

Tahun 1940an, almarhum mulai mengabdi di film sebagai pembantu juru kamera, pembantu editor dan petugas lab. Kemudian ia juga ikut main dalam film Ikan Doejoeng dan Selendang Delima pada tahun 1941.

Ia jadi tentara waktu perang kemerdekaan dan berhenti pada tahun 1950 dengan pangkat Letnan Dua. Sebelumnya, almarhum bekerja pada Nippon Eigasha sebagai pembantu editor dan pencatat skrip film-film berita Nampo Hodo. 

Di tahun 1950, setelah keluar dari TNI, bekerja pada PFN, mengedit film cerita seperti Sedap Malam dan untuk Sang Merah Putih, sambil menuliskan skenarionya yang pertama Inspektur Rachman dimana ia juga sebagai pembantu sutradara. 

Film pertama yang di sutradarainya berjudul "Akibat" yang dibuatnya pada tahun 1951. Menyusul film Solo Di Waktu malam, yang dibuat tahun 1952. Namanya kemudian mulai diperhitungkan setelah pembuatan film berjudul Berabu produksi pertama Dewi Film tahun 1960. Sedang tahun 1970an, namanya kembali terangkat setelah film Si Pitung. Film-filmnya yang banyak melibatkan Benyamin S sebagai pemain, sangat di gemari masyarakat. Dia pulalah yang mengangkat nama Warkop lewat bisokop pada tahun 1979. Film terakhir yang di sutradarai , Si Pitung Murid yang Baik (judulnya berganti ya), tahun 1986

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Sunday, December 28, 2025

DIAH PERMATASARI GANTIKAN MERIAM BELLINA DALAM LUPUS V


 DIAH PERMATASARI GANTIKAN MERIAM BELLINA DALAM LUPUS V (Berita lawas). Achiel Nasrun hampir setengah tahun mempersiapkan film lupus jilid 5. Menurut perhitungannya, film ini termasuk alot dalam proses suting, bukan disebabkan dana produksi dikeluhkan banyak produser, tapi untuk mencari pelakon utama cewek yang bikin kepala dalang muda itu pusing tujuh keliling. Meriam Bellina yang dicalonkan, menolak tanpa alasan pasti. Akhirnya pilihan jatuh pada cewek model asal Solo, Diah Permatasari. 

Lahir 25 Januari 1971 sebagai putri ke tiga dari empat bersaudara keluarga Djon Sangideo dan Insiah Ratna Wedaningrum. Adalah Bobby Sandi orang pertama yang mencumpai Didi (nama intimnya) sewaktu pembuatan film Selamat Tinggal Jeanette. Kemudian sutradara lain tergiur memanfaatkan lewt film-film mereka antaranya Tutur Tinular , Perwira Ksatria, Barang Titipan dan Bernapas Dalam Lumpur. Lewat film terakhirnya ini, Didi berlakon sebagai 'pela cur' murahan mendampingi Meriam. 

Didi mengaku bahwa tak ada kesulitan memerankan pela cur, bahkan berkesan biasa saja, seperti peran ini cocok biar kenyataannya tidak lincah dan kurang genit. Namun melihat pose-pose Didi di berbagai mass media cetak, Masya Allah. Barangkali orang tidak percaya kalau yang setengah bugil itu adalah cewek Solo. "Kebetulan orang tua saya ngerti sekali. Keluarga kami menganut kehidupan modern dan tradisional yang di padukan. Kalau tidak modern, mana mungkin saya bisa main film?, tangkis Didi. 

Didi memang sudah siap luar dalam untuk menekuni film yang tak pernah dimimpikannya itu. Bahwa menurutnya, dunia film akan mencelakakan diri sendiri manakala disertai dengan perasaan setengah-setengah. "Biarin aja pandangan orang terhadap artis yang cenderung berbuat negatif, karena mereka selalu berpatokan pada peran-peran yang di bawakan. Malah saya musti siap dengan gosip yang akan menghantam sewaktu-waktu", jelas Didi.

Penampilan Didi sebagai bintang bolehlah, namun ia juga sadar, masih mentah dalam penguasaan, seni peran. Sayang, tawaran Arifin C Noer batal, Didi oleh sutradara senior itu dianggap tidak disiplin. Suruh datang ke kantor PT. Inova Bintang yang memproduksi 'Bibir Me. Didi beralasn nyasar. "Bagaimanapun jadi pemain, berbohong saja kamu tidak mampu?" tukas seorang staff dri kantor yang sudah memproduksi film Zig Zag. 


~MF 140/107/Th. VIII/ 9 - 22 November 1991

Saturday, December 27, 2025

RENGGA TAKENGON, UNTUK AKTING NANGIS, TERINGAT ANAK


RENGGA TAKENGON, UNTUK AKTING NANGIS, TERINGAT ANAK. Untuk mencapai akting masimal sangat susah. Apalagi menangis, tapi tidak demikian dengan Rengga Takengon. Dia punya cara. Untuk itu dia mengingat anak-anaknya, baru dia bisa menangis. Karena dia sering keras kepada anak-anaknya. 

"Untuk apa saya menangisi orang lain. Apa salah kalau saya mengingat anak?" Kata bapak 3 anak ini." Kalau menyalahi aturan akting, bantelah situ, " ujarnya dengan dialek Medan. 

Rengga Takengon pemeran Kemal dalam serial TVRI Tembang Di Tengah Padang ini, sangat baik membawakan adegan tangis. Padahal kita lihat saja wajah sehari-harinya, wajah keras dan ada kesan bengis. Apalagi kalau dia bicara, selalu meledak-ledak seakan tidak perduli dengan situasi. Begitu masuk ke Set, maka lunturlah kesan bengisnya itu. Dan keadaan seperti ini tergambar ketika suting Tembang Di Tengah Padang, di Segunung Cipanas , Jawa Barat. 

Rengga bukan bintang top TV, atau artis laris dalam dunia pertelevisian. Tapi pengalamannya di film boleh dikatakan memadai. Dia tampil di film sejak tahun 70an, Sebelumnya Rengga adalah seorang pelaut. Sebagai anak buah kapal, hampir separuh dunia telah di jelajahinya. "Soalnya sayatu bitu kwae ajrekpada kapal luar negeri, " kata bapak yang lahir di Aceh dan besar di Tanah Melayu (Deli Serdang) ini. 

Ketika ditanya kenapa Rengga tertarik pada dunia akting, dia katakan berawal dari kesukaan menonton sejak kecil. Selain membintangi beberapa film layar lebar dan TV, Rengga juga dikenal sebagai dubber. Hampir separuh suara artis pernah diganti olehnya. begitu katanya. 


MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990



FILM DISANA MAU DISINI MAU


FILM DISANA MAU DISINI MAU. Kebahagaan dalam keluarga Pak Nugroho tiba-tiba saja guncang. Kiki anak gadis mereka satu-satunya yang selama ini menjad kebanggaan ternyata telah menipu mereka. Mulanya Kiki memang anak yang baik, tapi karena tidak lagi mendapatkan perhatian yang utuh dari kedua orangtuanya terjadilah perubahan-perubahan pada diri Kiki. Untuk berontak tidak berani. Akibatnya mencari pelarian lain. 

Kiki mulai terlibat dengan gaya pergaulan remaja frustasi masa kini. Selama keadaan itu berlangsung, Kiki cukup pandai menyembunyikannya, sehingga Pak Nugroho dan isterinya tidak menaruh curiga sedikitpun. 

Pada suatu malam tanpa sengaja Pak Nugroho dan isterinya yang baru pulang dari sebuah resepsi memergoki Kiki dengan teman-temannya. Mereka terpukul. Pak Nugroho segera mengambil langkah dengan membuat peraturan yang ketat. Kiki yang duduk di kelas terakhir sebuah SLTA dicarikan seorang guru privat untuk mendampingi Kiki. 

Peraturan-peraturan ayahnya dianggap remeh saja oleh Kiki. Yang membuat frustasi justru hadirnya guru privat yang tiap hari datang untuk memberi les. Kiki lalu minta saran pada teman-temannya. Setelah mendapat input, Kiki segera bertindak. Namun semuanya tidak membuat Robin sang guru mundur. Kembali Kiki meminta bantuan Csnya.e

Kali ini teman-temannya sengaja hadir untuk membantu. Ketika melihat Robin yang gagah, ganteng dan simpatik itu, rencana jadi berubah. Mereka berpendapat sekiranya Robin menjadi guru lesnya, tentu saja sudahdipacari. Menurut mereka selain memenuhi syarat, juga tipe Robin jelas bertanggungjawab. 

Kiki seolah baru sadar. Salah satu sebab yang membuatnya tidak melihat kenyataan itu, karena penampilan Robin yang begitu lugu dan kampungan. Disamping Kiki menganggap kehadiran Robin hanya merupakan perintah untuk dipatuhi. 

Robin memang anak desa yang coba mengadu nasib di kota. Pak Nugroho meminta dia mengajar Kiki karena sewaktu melamar ke kantornya, dia sempat melihat ijazah Robin yang nilai rata-rata sembilan. Karen alowongan belum ada, Robin ditempatkan dirumahnya. 

Sejak saat itu sikap Kiii berubah terhadap Robin. Mereka jadi akrab, Kiki dengan caranya berhasil membuat Robin menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Perubahan terjadi pada diri Robin, juga penampilannya. Pendapat teman-teman Kiki semakn tampak, Robin memang gagah, ganteng dan simpatik. Memenuhi syarat untuk di kategorikan sebagai idola. 

Friday, December 26, 2025

YAN BASTIAN, "SAYA SENIMAN JALANAN"


 YAN BASTIAN. Siapa tak kenal Yan Bastian lelaki yang telah membintangi puluhan film? Apalagi di lingkungan PT. Inem Film, namanya sepertinya sudak mengakar dan menyatu dengan perusahaan film tersebut. 

Menarik sekali bisa bincang-bincang dengan seniman berkumis yang memiliki wawasan luas dan logat bicara yang berwibawa. Ia selain dikenal sebagai bintang laga, juga seorang biduan. Kedua bidang seni ini telah digelutinya bertahun-tahun. Bayangkan, untuk bidang tarik suara ini saja, teman seangkatan Elly Kasim. Sedang film ia berangkat sama-sama dengan Ratno Timoer. 

Sebagai seorang seniman, kalau boleh dibilang begitu, ia nampak sederhana dan bersahaja. Tak pernah ada kesan mau mencari popularitas dalam bidang ini. "Saya ini kan seniman jalanan, seniman kecil. Ya mesti tahu diri. Nggak perlulah macam-macam. Bagi saya sikap berkesenian ini adalah berkarya," ujar lelaki asal Padang ini. 

Berkarya, sesuatu hal yang harus dilakukan seorang seniman, tapi bagi Yan Bastian, berkarya tidak harus 'ngoyo'. Ketika ditanya kemungkinan dapat Piala Citra, spontan Yan Bastian menyambar. "Buat apa citra-citraan? Biar terkenal? kalau kita sudah terkenal terus mau apa? Toh itu tidak membuat orang memiliki jiwa besar. Tak usahlah aneh-aneh," tambah Yan pemeran Ganda dalam film "Seruling Naga Sakti" yang sutingnya di Pelabuhan Ratu. 

Ia paling gemar membintangi film-film laga. Ia mungkin karena kondisi fisiknya yang mendukung, seperti tubuh tegap dan memiliki watak yang keras. Itulah sebabnya film-film yang dibintangi selalu berkisar film-film aksi. Tidak mencoba film yang memiliki tema lain, seperti drama?

"Film drama kita kan monoton. Dari itu ke itu saja. Paling yang di perlihatkan hanya yang berdasi, keluarga yang sedang makan di meja dirumahnya yang mewah. NGgak ada kecuali itu," tegas lelaki yang memulai debutnya dalam film "Dendam Berdarah" (1970) sebagai figuran. 

Menanggapi himbauan menteri Penerangan saat itu tentang pembuatan film-film cerita daerah, Yan Bastian setuju dengan imbauan Bapak Menteri Penerangan tentang pembuatan film cerita daerah. Bayagkan saja, kalau masing-masing propinsi saja membuat film, sudah tambah berapa film? Lagian film daerah itu kan banyak manfaatnya, budaya masing-masing daerah bisa di kenal di seluruh tanah air. Nilai budayanya terangkat. Dan lagi, kalau pembuatan film itu melibatkan seniman daerah, kan mereka juga berkembang . Juga akn ikut meningkatkan sektor pariwisata, " Jelas Yan Bastian.


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Wednesday, December 24, 2025

CHAIRIL JM INGIN KETEMU GEORGE RUDY

 


CHAIRIL JM MIRIP GEORGE RUDY?. Datang seorang lelaki dari Seberang. Tinggi, tegap dan berbadan kekar. Tak ada hubungan keluarga dengan bintang film ganteng, George Rudy, tapi sungguh wajahnya mirip dengan bintang laga itu. "Kalau muka saya mirip George Rudy, itu hanya kebetulan saja, " kilahnya. 

Sebelum memasuki dunia film, cowok ini sempat bekerja di perusahaan kayu namun kemudian berhenti, lalu melanglang buana sampai akhirnya tiba di Jakarta. Malang melintang di kota metropolitan, akhirnya ketemu Tanaka, yang banyak memberi ilmu dan pengalaman. Tanaka yang membawanya pada Dasri Yacob, sutradara yang banyak menangani film-film laga. 

Karena tubuh yang tegap, tampang nan ganteng dan punya dasar ilmu bela diri, tak heran Dasri Yacob tertarik. "Pertamanya sih cuman jadi figuran, tapi lama kelamaan saya dapat peran lebih," kilah cowok pemegang ban Coklat ini. 

Chairil JM sudah banyak membintangi film, misalnya di Wiro Sableng saja ia sapai ikut lima kali. Belum lagi film lain seperti Tapak Sakti, Warisan Ilmu Karang, Seruling Naga Sakti, Si Pahit Lidah II , bujang jelihim dan beberapa film lagi. Dalam film "Warisan Ilmu-Karang" misalnya  ia menjadi leading-man. Lalu bersama sutradara Liliek Sudjio, Chairil ikut dalam film "Orang-orang Sakti" film pertamanya sendiri sudah ia perani tahun 1985 dalam "Lelaki Sejati".

Prestasinya tidak diraihnya begitu saja. Kedisiplinan dalam suting banyak membantu meningkatkan karirnya. "Saya selalu bangun subuh setiap pagi untuk lari lari. Yah sekedar menjaga kondisi. Kalau malam saya nggak bisa begadang. Paling banter setelah warta Berita TVRI, " sela pria kelahiran Jambi, 11 Maret 1964 ini. 

Tapi kenapa wajah kamu mirip dengan George Rudy? bagaimana kalau kamu ketemu dia dalam satu film? Memang  pingin ketemu George Rudy dalam satu film, tambah lelaku yang lama dibesarkan di Padang Sumatera Barat ini. 


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


*)Chairil JM juga dikenal sebagai Mpu Ranubaya dalam sinetron Tutur Tinular 1997, dan Chairil JM sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.