Thursday, August 27, 2026

CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA

 


CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA (berita lawas). Christine Hakim akhirnya bersedia juga main sinetron produksi Multivision Plus yang berjudul menarik, "Bukan Perempuan Biasa".

Karuan ini suatu kebanggaan besar bagi Produser Raam Punjabi yang sebelumnya juga berhasil mengajak pasangan bintang abadi Sophan Sophiaan - Widyawati bermain dalam serial Abad 21. 

Terus terang sudah sepuluh tahun lamanya saya ingin menjalin kerjasama dengan Christine , "aku Raam. "Waktu itu saya berhasrat membuat film bioskop, tapi baru dua tahun lalu, Christine setuju untuk bermain dalam sinetron ini yang bakal di garap oleh Arifin C Noer. Sayang beliau keburu tiada, hingga proyek nyaris tertunda. 

Adalah Jajang C Noer yang selama setahun terus mengejar Raam untuk melanjutkan proyek mendiang arifin agar tak sampai batal. Sebenarnya memang Arifin telah menulis tujuh skenario dari miniseri yang direncanakan tamat dalam sepuluh sepisode ini . Lalu bagaimana dengan tiga episode yang beum rampung?Diminta Arswendo Atmowiloto yang juga kawan lama almarhum untuk menyelesaikannya sampai tuntas. 

"Saya mau bilang apa, cuma saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Pak Raam dan Raakhe untuk mengerjakan pekerjaan Mas Arifin yang tertinggal,"ucap Jajang. 

Bukannya tanpa susah payah bagi Jajang untuk mendapat kepercayaan tersebut karena semula Raam menghubungi sutradara-sutradara handal seperti Slamet Rahardjo, Putu Wijaya dan Garin Nugroho. Tapi diluar sepengetahuannya, Jajang juga mendatangi mereka dan berpesan setengah mengancam "Jangan mau terima twaran dari Pak Raam. Bilang saja cuma istrinya yang tahu betul dan paling tepat untuk melanjutkan karya Mas Arifin.

Al hasil Raam menyerah pada Jajang, apalagi setelah jajang menjamin bahwa Christine tetap akan menjadi leading-lady (pemeran utama). Padahal pada waktu dicari, Christine sedang berada di Sukabumi suting film produksi Emerald Film dari Belanda, Tropical Emerald. 

Bukan Perempuan Biasa didukung oleh Desy Ratnasari Dony Damara, El Manik, Pangky Suwito, Eeng Saptahadi, Remy Silado, Marini Zumarnis, Charlie Sahetapy dan banyak lagi. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film nomor : 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996

T : Setelah sekian lama, boleh dibilang menghilang, baru sekarang anda kembali bermain?

J : Saya nggak menghilang kok mas, cuma...tersingkir. Entah kenapa tersingkir lagi musim banjir kali?!. Tapi saya merasa diri saya adalah artis yang beruntung, beruntung sekali malah. Karena saat kondisi perfilman Indonesia sedang begini, justru saya mendapat kesempatan untuk meninjau perkembangan dunia film di Australia selama enam bulan. Saya lihat disana ada Asosiasi Women Film Maker yang anggotanya lebih dari 300 sineas wanita. Bayangkan, padahal Australia kan penduduknya cuma 17 Juta, tapi begitu banyak wanita yang sudah jadi sutradara!. Lalu bermain  untuk sebuah film Jepang di Jepang. Disana juga saya empat diundang ke Women International Film Festival. Dan terakhir main film Belanda yang lokasi sutingnya di Sukabumi. 

T : Kenapa baru sekarang Anda mau main sinetron, bukankah dulu Anda cuma mau main untuk film bioskop? 

J : Saya tak pernah bilang anti sinetron, sama sekali tidak . Memang sejak dunia televisi swasta mekar, saya banyak ditawari main sinetron. Cuma waktu itu saya masih dalam kondisi prihatin dan sedih melihat film nasional, hingga merasa sulit untuk pindah ke media lain dalam hal ini teve. 

T : Bisa cerita bagaimana sampai Jajang berhasil membujuk Anda?

J : Saya masih ingat, Sabtu malam, jam sepuluh, saya baru selesai suting di Sukabumi, baru siap-siap untuk mengaso, mendadak Jajang menelpon saya. Dia bertanya apa benar saya menolak untuk main sinetron, saya jawab tidak benar. Langsung Jajang menceritakan bagaimana perjuangnnya sampai berhasil membujuk Raam. Mendengar ceritanya, hati saya jadi luluh. Bagi saya, yang disebut Bukan Perempuan Biasa seharusnya ya si Jajang ini. 

Lalu saya minta Jajang menunggu sampai suting Emerald selesai, baru bicara lagi. Saya tidak mau membaca skenario yang mau dikirimnya ke Sukabumi. Sebab kalau saya membacanya dan tertarik, nanti bisa mempengaruhi saya. 

T : Bagaimana sih ceritanya sinetron Bukan Perempuan Biasa?

J : Bayangkan saja ya, saya diper kosa El Manik, lalu punya anak Desi Ratnasari (tertawa). Ceritanya saya berperan sebagai Menul, perempuan desa yang minggat dari rumah karena menolak ketika hendak dikawinkan oleh ayahnya. Malah ia diper kosa oleh lima pemuda mabuk sampai hamil. Kelak menul menjadi tukang pijat tradisional di Solo. sedang anaknya, Sri, tumbuh menjadi remaja. mendadak mereka menerima kiriman barang-barang mewah. Menul merasa tak mengenal Pak Bachtiar, si pengirim serta, merta menolak. Ternyata Bachtiar ini adalah salah seorang pemerkosa yang telah insyaf dan ingin menebus dosanya. Itu cerita babak pertamanya selanjutnya masih panjang lagi. 

T : Boleh tahu berapa Christine Hakim di kontrak untuk bermain sinetron ini?

J : Sampai sekarang belum ada kontrak, saya belum menandatangani apa-apa, baru gentleman agreement saja untuk mulai kerjasama. Bagi saya yang penting dalam bekerja harus punya motivasi yang jelas, bukan uangnya, Dan kita akan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. 

T : Atau nanti Anda akan dikontrak pertahun, agar juga bisa main dalam sinetron-sinetron produksi Multivision yang lain?

J : Belum, kontrak yang satu ini juga maish belum ditandatangani. Tapi saya rasa kita semua sudah seharusnya berterima kasih pada Raam, meskipun jelas juga banyak orang yang jelus padanya. harus dihargai dong kreativitas dan jasa raam yang berhasil mengembangkan sinetron di teve swasta. kalau beberapa tahun lalu, produk impor seperti telenovela begitu digandrungi, Raam berhasil lewat produksi lokal mulai dari Gara-gara, Lika Liku Laki Laki sampai misalnya Pelangi Di Hatiku. Sekarang Desy Ratnasari bisa mengalahkan Maria Mercedes. Rating sinetron lokal ada diatas telenovela. Ini semua merupakan andil Raam yagn sangat besar, mesti diakui secara fair. 

Saya akan mendukung Raam, selama masih pantas di dukung. Saya yakin seribu persen, Raam pasti akan memproduksi film nasional lagi bila tiba saatnya. Pokoknya saya dukung, ya selama Raam juga masih setia pada negeri ini. Semoga tidak jadi pengkhianat (tertawa). 

T : Tidak ada keraguan bekerja di bawah penanganan seorang sutradara yang masih baru?

J : Bukan baru sekarang saya bekerjasama dengan sutradara yang untuk pertama kalinya berkarya. eros Djarot misalnya. Malah dengan sutradara baru, saya bisa merasakat spiritnya yang maih murni. Tapi saya yakin Jajang bisa kok. Saya juga sudah membaca skenarionya kalau perlu seratus kali agar bisa masuk diperannya. Sebenarnya minimal saya butuh waktu tiga bulan setelah selesai suting sebuah film, untuk melepas peran agar kembali normal, baru mulai masuk keperan baru. Tapi demi Jajang, kali ini saya langsung masuk ke peran Menul. 

T : Apakah dengan ini Anda ingin meninggalkan dunia film (bisokop)?

J : Saya tidak pernah meninggalkan dunia film, tapi ingat, saya juga bukan satpam yang kerjanya menjaga film. Saya ingat jaman jaya-jayanya film nasional, mendadak semua orang merasa punya kepentingan, ikut mengatur, harus begini harus begitu. Jadinya ya begitu, kebanyakan pesan. Mestinya biarkan saj atumbuh seperti apa adanya. 

Bukan cuma di Indonesia banyak negara lain, termasik Prancis, yang punya masalah tak bisa bersaing dengan Film Amerika, akhirnya memilih untuk memproduksi film teve. Yang penting, harus berbuat terus berekspresi. 

Sekarang saya bisa merasakan getar wartawan yang merindukan film nasional. Dibawa sadar kita semua ada kerinduan film nasional berkembang seperti dulu, seharusnya wartawan yang berperan besar menjadi satpam tadi. Saya tidak tahu apakah film nasional masih unya kesempatan untuk bangkit lagi apalagi menghadapi zaman global. Hukumnya wajib bagi kita semua untuk melindungi film dan sinetron sebagai produksi budaya. ~~


Wednesday, August 26, 2026

NAFA INDRIA URBACH, SAYA NGGAK PINTAR DAN NGGAK BODOH

 


NAFA INDRIA URBACH, SAYA NGGAK PINTAR DAN NGGAK BODOH (berita lawas). Nafa Indria urbach atau lebih di kenal Nafa Urbach, perempuan berzodiak Gemini kelahiran Magelang, 15 Juni 1980. Ngomongin cita-citanya dimasa kecil yang ingin jadi dokter, Nafa menjelaskan, cita-citanya itu sudah dikubur jauh-jauh. 

Katanya, cita-cita jadi dokter sudah tak mungkin lagi berhasil diraihnya. Alasannya, ia sudah kadung cinta dengan profesinya baik sebagai penyanyi, pemain sinetron dan juga model iklan. "Waktu saya sekarang sudah tersita penuh untuk kegiatan seni, "ujar anak kedua dari tiga bersaudara hasil pasangan Ronald Walter Urbach (Jerman) dan Neneng Maria Kusuma (Magelang) ini. 

Memang benar, bagi Nafa hari-hari belakangan ini, jadwalnya memang super ketat. Diluar jam sekolah, pemilik tinggi 168 cm ini selalu disibukkan dengan jadwal show , syuting dan pemotretan. 

"Terkadang saya sering minta ijin untuk absen sekolah, karena jadwal suting atau pemotretan yang tabrakan, "paparnya. 

Menurut Nafa, ia tidak merasa malu pada guru atau teman-temannya di sekolah, karena ia sering absen. Begitu ia kembli ke bangku sekolah Nafa mengaku langsung ngebut belajarnya untuk mengejar ketertinggalan. 

"kenapa musti malu? Lagian guru-guru dan teman-teman di sekolah sudah memaklumi dengan profesi saya sekarang ini, "kata murid kelas 1 disalah satu SMU negeri di Jakarta ini. 

Ditambahkan Nafa, ia juga tidak merasa jadi manusia super. Artinya, meskipun sukses dibidang seni tak membuat hal itu terbebani harus pintar di sekolah. Dikelas ini Nafa mengaku kalau dirinya adalah murid yang biasa-biasa saja. 

"Kalau lagi ada satu pelajaran yang saya nggak bisa saya bilang pada teman atau guru kalau saya tidak mampu, "kata Nafa yang dihadiahi sedan Hyundai dari kesuksesan album ketiganya Hatiku Bagai Terpenjara itu. 

"Disekolah saya termasuk murid yang pandai benar nggak, dan gob lok banget juga nggak. Pokoknya biasa-biasa saja, deh!,"tegasnya. 

Masih soal karirnya, Nafa sekali lagi menegaskan ingin terjun total di bidang seni, ia sekarang mencanangkan dirinya tidak saja sukses sebagai penyanyi akan etapi ingin sukses juga di bidang akting dan bintang iklan. 

Dalam dunia sinetron ia membintangi Deru Debu, Kembalinya Si Manis 2, Cinta tak pernah berhutang dan lain-lain. ~MF 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996


RAHMAN YACOB, BUKAN ARTIS DRAMA

 


RAHMAN YACOB BUKAN ARTIS DRAMA (berita lawas). Pria ini telah tampil di layar gelas sejak tahun 1982, yang langsung dikenal sebagai artis TVRI. Rahman Yacob, Assisten Dosen IKJ (dulu, kalau sekarang kayaknya Dosen ya) ini toh berang disebut aktor drama. Pasalnya ketika dia suting di Slawi, merasa terhina di panggil aktor drama. 

"Saya memang lahir di TVRI, karena sudah tak terhitung lagi berapa judul film yang telah saya lakoni, "kata pria yang lahir di Bandar Lampung ini. 

"Bukan berarti saya tidak bisa memerankan tokoh apa saja. Jelas saya anak teater, "ujar pria berbintang Aquarius ini membela diri. Karena terlalu sering tampil pada film TVRI, Rahman jadi hati-hati untuk tampil di layar perak. Dia merasa sudah dikenal, sehingga dia takut untuk tampil jelek di film nasional. "Efeknya banyak lho. Sebab penggemar saya kan telah simpatik kepada saya. Begitu melihat penampilan saya jelek di film, wah itu berabe,"lanjutnya. 

Matnoor Tindaon tertarik untuk memakai Rahman dalam film "Perjalanan Hati Nurani" tulisan Emil Sanossa, yang telah selesai pengambilan gambarnya pada akhir bulan September lalu di Jawa Tengah. Adakah karena film TV Perjalanan Hati Nurani sambungan dari Yang Luruh Yang Tumbuh, yang telah di putar beberapa bulan lalu?

"Saya kira tidak, Bang Matnoor bisa saja menggantikan saya dengan yang lain. Sebab itu bisa terjadi. Seperti contoh mendiang Tiar Muslim menggarap film TV "Saat Tebu Telah Berbunga" pada tahun 1986. Film Emil ini sambungan dari film-film lain seperti  saya sebagai Sutaji, tokoh ini pernah diperankan oleh artis lain. "kata aktor jebolan SMA I Tanjungkarang ini. Agaknya Rahman di bawah tangan Matnoor lebih hidup. Sebab dia mencoba menyelami sosok Sutaji, dan bukan sosok Rahman Yacob yang seorang Asdos. 

Untuk bergelut dalam dunia seni peran , bagi Rahman tidak ada peran kecil. Baginya semua sama saja. Semua sosok ingin digarapnya. "Seorang aktor harus bisa memerankan karakter apa saja. Apalagi saya masih belajar, "katanya merendah. Untuk memantapkan aktingnya, Rahman Yacob tak bosan-bosannya melatih diri, melakukan latihan olah tubuh setiap harinya. Sampai istrinya merasa jenuh kepadanya. "Karena sudah dunia saya, istri saya akhirnya dapat memakluminya, "katanya.

Kalau di hitung banyak sudah jebolan IKJ mencuat lewat media pemerintahan itu. Tapi tak jarang pula diantaranya enggan tampil di TVRI kembali. Alasannya mereka sederhana saja, tidak ada waktu. Tpai tidak begitu dengan Rahman Yacob, walau kelak berjaya, dia juga akan tampil pula di TV, "Sungguh saya tidak bisa melupakan TVRI, "katanya memuji. 

Banyak sudah satu angkatannya di IKJ telah mencuat namanya, namun dia tak iri. Oleh karena itu Rahman tetap menimba ilmu karakter, "Kelak satu saat saya juga bisa berjaya, "katanya pasti. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989


Tuesday, August 25, 2026

MUSIBAH FILM SI ROY dan SUMBANGAN KEMANUSIAAN INSAN FILM

 


MUSIBAH FILM SI ROY dan SUMBANGAN KEMANUSIAAN INSAN FILM (berita lawas). Masih ingat kejadian ini? musibah kecelakaan suting film Si Roy?. Jumat, 8 September 1989 tercatat sebagai hari naas bagi PT. Andalas Kencana Film khususnya dan orang film Indonesia umumnya. Siang itu, dalam perjalanan pulang suting dari Bandung, mobil Mitsubishi L 300 yang mengangkut bintang dan karyawan film remaja berjudul "Si Roy" mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi. Kopel gardan copot, tergesek jalanan aspal sampai meneribitkan percikan api, menyambar tangki bensin, mobil terbalik dan terbakar hangus!. 

Para Korban , tercatat keseluruhannya 8 orang termasuk sopir yang berada didalam kendaraan apes tersebut. mereka adalah Monica Gunawan pemeran utama wanita, Tyas, Taufik, dan Sofyan Alifajar , pemeran pemeran pembantu pria, serta Edi Caroko (property man), Sufekih (Asisten Unit), Matizi (Sopir) dan Bambang Yulianto (Sopir yang menyetir pada waktu itu). 

Para korban langsung di larikan ke RS UKI untuk mendapatkan pertolongan pertama. Barulah dipindahkan ke RSCM. Tapi luka bakar yang kelewat parah membuat lima korban meninggal secara beruntun (Sufekih, Bambang Yulianto, Edi Caroko alias Bagong, Sofyan Alifajar dan Matizi). 

Yang paling ringan keadaannya Tyas. Sesudah lengannya yang patah di gips, ia menjalani perawatan berobat jalan. Sedangkan Taufik di rawat di RS PELNI. 

Yang mengibakan keadaanya justru si pemeran utama wanita, Monica Gunawan. Remaja berusia 18 tahun  yang baru lulus SMA ini pernah menjadi model iklan Fuji, baru pertama kali main film. Modal utamanya tentu saja kecantikan wajahnya. Betapa disayangkan, kalau sampai sebagian wajah cacat luka bakar. Masih terus menjalani perawatan intensif di RS Cikini. 

Selama para korban dirawat yang paling sibuk adalah dua produser Madhu Mahtani dan Ramesh, bersama sang sutradara Achiel Nasrun. Mereka meninggalkan segala urusan kantor, suting dihentikan untuk sementara waktu, ikut berjaga di Rumah Sakit. Mengeluarkan segala biaya untuk pengobatan. 

"Kami sudah berusaha dengan segala daya upaya. Tanpa memperhitungkan segala biaya. Uang masih bisa dicari lagi nanti, yang penting para korban bisa ditolong," sebut Ramesh. "Musibah sudah terjadi begini, kita mau bilang apa? Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa . Tapi rupanya sudah takdir. Tuhan menentukan demikian. 

Segala biaya selama dirawat di Rumah Sakit, sampai ke pemakaman, ditanggung oleh PT. Andalas Kencana Film. Kemudian Ferry Angriawan produser PT. Virgo Putra Film, memprakarsai untuk menghimpun sumbangan bagi rekan-rekan produser, artis dan karyawan film, yang pernah bekerjasama dengan para almarhum. 

Para produser menyumbangkan dari Rp. 1 juta sampai yang terendah Rp. 250.000. Antara lain dari PT. Bola Dunia film, Virgo Putra, Soraya Intercine, Inem, Parkit, Kanta Indah, Pancaran Indra Cine, Nusantara , Rapi dan Garuda. IKutan menyumbang perusahaan rekaman JK Record. Ada lagi produser yang menyumbang atas nama pribadi, Manu Sukmajaya, Hatoek Soebroto, Wiryo Wibowo, Thamrin Lubis, dan Rudy S Senyoto. 

Delapan sutradara yang menyumbang, Ami Priyono, Bobby Sandy, Hengky Solaiman, Bob Chappel, Chaerul Umam, Wim Umbah , Sophan Sophiaan, dan Ali Shahab. Kamerawan Harry Simon, dan Still photograper Ken O Sanjaya. 

Dari barisan artis tercatat penyumbang terbesar adalah keluarga Ade Irawan, dan Onky Alexander, diikuti oleh Meriam Bellina, Barulah tercatat nama seperti Conny Constantia, Didi Petet, Deddy Mizwar, Lanny Marlina, Gatot Teguh Arifianto, Nurul Arifin, Richie Ricardo, Rano Karno, Harry Capri/Camelia Malik, Ade Hashari, Sylvana Herman, Cok Simbara, Leroy Osmani, Ayu Azhari, Advent Bangun, Ira Wibowo dan Sophia Latjuba. 

Disamping artis-artis diatas ada juga artis-artis yang menyumbang ala kadarnya seperti Rima Melati dan Yurike Prastica. Betapapun akhirnya terkumpul dari 49 penyumbang uang sejumlah Rp. 17.200.000,-

Minggu pagi, 24 September 1989 pukul 11.00 bertempat di auditorium walikota Jakarta Pusat, sumbangan tersebut diserahterimakan kepada keluarga korban .

Ny. Supiroh mewakili keluarga Edi Caroko, menerima deposito sebesar Rp. 5 juta dan uang tunai Rp. 550.000.

Ny. Darwati mewakili keluarga Sufekih menerima jumlah uang sama. 

Ny. Nendrarwati mewakili keluarga Bambang Yulianto menerima deposito sebesar Rp. 2,5 juta dan uang tunai Rp. 550. 000.

Lalu, Ny. Nasrifah mewakili keluarga Matizi, menerima sejumlah uang yagn sama dengan keluarga Bambang Yulianto. 

"Sampai sekarang kami sudah mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 20 juta terutama untuk biaya pengobatan dirumah sakit", sebut produser Ramesh sambil memperlihatkan setumpuk kuitansi. "Diperkirakan sampai selesai nanti bisa menghabiskan Rp. 50 juta termasuk untuk retake (pengambilan ulang) dari 6 can yang ikut terbakar hangus. 

Untuk sementara suting film "Si Roy " dihentikan dan direncanakan dilanjutkan lagi awal Oktober 1989. 

Menurut sutradara Achiel Nasrun "Bagaimana juga musibah ini ada hikmahnya juga. Motto KFT (Karyawan Film dan Televisi) SEHATI DAN SEPROFESI, bisa dirasakan sekarang tanpa paksaan, dengan kesadaran masing-masing, banyak yang telah bersedia untuk menyumbang keluarga korban!".

Menurut ketentuan KFT,bila ada anggotanya yangmeninggal diberikan sumbangan sebesar Rp. 60.000. Bersyukurlah dengan adanya sumbangan sukarela yang sungguh amat meringankan beban bagi mereka yang ditinggalkan. sumber MF 085/53/Tahun VI, 30 Sept - 13 Okt 1989



Monday, August 24, 2026

YATTIE SURACHMAN TENTANG KEGAGALAN DALAM FFI 1989

 


YATTIE SURACHMAN TENTANG KEGAGALAN DALAM FFI 1989 (Berita lawas). "Kenapa harus kecewa kalau memang Tuhan belum memberikan untuk kita?" itu kata Yattie Surachman, pemeran Ni Wayan Melati dalam film "Nyoman dan Merah Putih" yang tak terpilih dalam 19 film seleksi FFI '89, itu keputusan juri lho. Dan juri tentunya punya penilaian sendiri, "tambah artis yang hadir saban Minggu di TVRI lewat film seri "Pak Kontak" ini. 

Yattie sendiri, yang ikut membacakan hasil keputusan juri komite seleksi FFI '89 tersebut mengaku tak tahu kalau film yang dibintanginya itu tak terpilih. "Habis, wong saya dibelakang panggung. Enggak dengar. Tapi apa iya "Nyoman" enggak terpilih?"tanyanya. "Ya wislah. Mau bilang apa? Mau komentar apa? Saya sendiri pokoknya sudah bermain maksimal kok, "katanya lagi.

Tak kecewa Yat?" Untuk apa? itu biasa kok. Dalam perlombaan kalah menang itu kan biasa, "jawabnya sambil tersenyum. "Enggak cum akali ini kan FFI diadakan? Masih ada waktu lagi kok, "tambahnya sambil lagi-lagi tersenyum. 

Nyoman dan Merah Putih sendiri melrupakan satu-satunya film yang dibintangi Yattie tahun ini. Tahun lalu (1988) Yattie pun gagal ikut bersaing memperebutkan Piala Citra lewat film yang ikut dibintanginya "Terang Bulan Di Tengah Hari".

"Tapi bagus enggak sih saya main di film Nyoman?" tanya Yattie. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Sunday, August 23, 2026

IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA

 


IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA  (berita lawas). Ada cicak dapat main film? itulah Iwan Darmansyah, yang berperawakan kecil, Kini kalau ada yagn penasaran tampangnya dapat dilihat di film "Pacar Ketinggalan Kereta" (PKK) garapan Teguh Karya. 

"Ya, karena saya masih kecil dimata mereka, saya selalu dilindungi mereka. bahkan anak cicak nggak boleh ikutan berantem, kata mereka. Sejak itu saya belajar karate dan taekwondo. Sebetulnya sih cuma mau nunjukkin saja, bahwa saya juga siap untuk beran tem, "cerita Iwan sembari ketawa lebar, saat ditemui di Teater Populer, jakarta. Tapi kemudian ia mengerti, ikut beladiri bukan untuk beran tem, melainkan olah tubuh sekaligus buat kesehatan. 

Usai menamatkan SMA, anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Darlis Ibrahim dan Bainer ini disarankan oleh keuda orangtuanya untuk masuk Akabri. Tapi eh Iwan malah kecantol dunia akting. Kedua orangtuanya yang moderat pun memakluminya dan malah bilang "Hadapilah!" Maka semangatpun menggebu untuk menekuni bidang tersebut. "Karena ayah saya anggota ABRI, pengennya saya mengikuti jejaknya. Tapi saya punya pilihan lain, dan ayah saya ngasih kebebasan kok, "ucapnya mantap. 

Lewat drama "Pernikahan Darah" memerankan tokoh pemuda, yang dipentaskan di TIM Jakarta, 1986, Iwan mengawali dunia akting. Dan ketika film "Ibunda" dibikin lelaki berambut keriting dan alis mata tebal ini diberi peran tokoh Fikar selagi muda. "Di dunia seni ini, mata saya bermasyarakat, pengetahuan, juga selalu ada tantangan, yaitu suatu tanggungjawab, "tuturnya diiringi satu isapan rokok kretek filter. Menurutnya, semangat hidup itu tumbuh ketika melihat cara kerja disanggar yang dipimpin Teguh Karya, yang telah banyak memberi masukan. 

Sampailah nasibnya kebagian peran Arsal di PKK , anak janda bu Retno, yang selalu ketiban gunjingan itu. "Ternyata betapa sulitnya main film, Karena tanggungjawab itulah saya berusaha keras untuk menjadi sosok lain, Arsal.  Setiap saat saya gelisah, nggak bisa tidur. Unring-uringan deh pokoknya. Saya memikirkan apakah saya ngedapetin Arsal yang seperti dikehendaki Pak Teguh?" ujar Iwan yang lahir di Jakarta, 4 Desember 1966. Namun setelah rampung film tersebut tambahnya, masih tetap dihinggapi ketidakpuasan diri apa yang telah dibahas. 

"Dan masa kegelisahan dan uring-uringan itu persis saat bercinta. Sebab, disitulah tantangan untuk mendapatkan cinta sekaligus berusaha bertanggungjawab pada orang saya cintai itu, "tegasnya sembari menyeringai. 

Di lain waktu, Teguh Karya pernah memberi komentar terhadap permainan anak muda ini, pemain yang belum ngetop bisa main setara dengan pemain yang sudah ngetop. "Lihat dan bandingkan, jelas antara Iwan dengan Onky, itu misalnya kan  permainannya nggak ada bedanya,"tegas sutradara kawakan itu. Pendapat Iwan sendiri? Ia hanya tersenyum sedikit sumringah. "O, saya senang dapat komentar sepert itu. Terus terang saya main secara maksimal. Tapi setelah itu saya selalu merasa tidak puas. Saya pengin lebih dari itu lagi. Lagi pula saya main bukan dengan Onky, tapi lawan main saya adalah tokoh Heru yagn dimainkan di film PKK ini . Jadi tokoh Arsal dengan tokoh-tokoh lainnya yang mesti dilihat permainannya, "jelasnya bersungguh-sungguh. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Friday, August 21, 2026

SARAH "SI INEM" SEXY, CARI PENGALAMAN BARU

 


SARAH "SI INEM" SEXY, (berita lawas). Biasanya seseorang mengikuti lomba hanya mengejar target tertentu, dan bila terget sudah tercapai lalu tidak berminat lagi mengikuti kontes LASI (Lomba Akting Sinetron Indonesia). Tapi hal itu tidak berlaku untuk Sarah, artis baru di blantika persinetronan Indonesia. 

Sejak mengikuti berbagai macam kontes dari usia belia,  gadis model yang juga peragawati laris ini sudah mengoleksi puluhan trophy. Seperti thropy Ratu Pengantin Singapore tingkat Asean, Juara Ratu Pakaian Terbaik Singapora se Asean, Juara Fotogenik Putri Citra Nasional, Juara Umum dan Keserasian Berbusana Pesona Kerudung Nasional, Juara Pertama Juara Umum Mojang Parahiyangan serta masih banyak yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu disini. 

"Saya mengiktui berbagai macam kontes lantaran hobi nggak ada target tertentu. Menang ya syukur, nggak ya nggak apa-apa. Itung-itung cari pengalaman. Eee.. nggak tahunya banyak menangnya, he..he..hee ujar pemeran sinetron seri Inem Pelayan Seksi versi Eddy Riwanto ini .

Tentulah , kemudian gadis kelahiran Sei Pakning, 26 April 1976 ini menjadi rebutan berbagai perusahaan yang menginginkan jasa kecantikan  wajahnya untuk mengiklan produknya. Seperti restaurant Oasis, Singapore Discount Card, Putri Bunga Mirabella dan menjadi model Wedding Bellers BOutique, Discovery Style of Rudy Hadisuwarno,Tata Rias wajah dan Rambut Salome, Model Aftersix Boutique (Majalah Mahkota).

"Saya masih ingin jadi model profesional, kalau kemudian saya sekarang terlibat di sinetron, karena ingin mencari pengalaman baru nggak lebih dari itu, "tegasnya. 

Padahal kesempatan untuk menjadi artis populer lewat jalur sinetron sudah terkuak lebar, di Inem Pelayan Sexy garapan sutradara Eddy Riwanto, Sarah mendapat peran utama. Apalagi lawan mainnya kebanyakan pemain pendatang yang kualitasnya jauh dibawahnya. Beda dengan Inem versi Inem Sang Pelayan versi Lukmantoro DS yang diperankan Clara Shinta, disana pun dramawan WS Rendra mendapat lawan main yang cukup berat, Him Damsyik, Cahyono, Uuk, Prapto dari Jayakarta Group, Erna Santoso, Rina Rawit serta sederetan artis top lainnya. 

"Walau saya nggak ingin total di sinetron, bukan berarti saya main-main ketika mendapat kepercayaan dari sutradara. Setiap tawaran yang diberikan kepada saya, saya ingin melakoninya secara total, soal hasil akhirnya memuaskan atau nggak itu urusan belakangan, " papar putri bungsu buah cinta keluarga Abdul Rahman  Djamaileil dan Luthfiah Barkah Al Gaity ini. 

Walau ia memerankan tokoh Inem, babu seksi yang senual seperti yagn dimainkan artis Doris Callebout ketika di layar lebar bukan berarti ia tinggal mengcopy peran yang telah sukses dimainkan Doris itu. 

"Walau ada kesamaan dengan Inem Pelayan Sexy versi layar lebar bukan berarti saya seenaknya mengikuti apa yang sudah ada. Mas Eddy selaku sutradara juga punya visi yang jelas, jadi saya tinggal mengikuti apa yang dimaui sutradara. ~~MF 271/237/XIII/2-15 November 1996

Thursday, August 20, 2026

RAPI FILM, ARTIS DAN KRU ASET YANG MESTI DIJAGA

 


RAPI FILM, ARTIS DAN KRU ASET YANG MESTI DIJAGA(berita lawas). Untuk film layar lebar, Rapi Film boleh disebut sebagai perusahaan film paling produktif. Ketika produser film lain berguguran menghadapi kenyataan seperti sekarang ini, Rapi justru sebaliknya, tetap bertahan dan berlenggang. 

Ketika perusahaan film lain seperti Parkit, Soraya, pancaran dan Rana Artha Film sudah banting setir ke sinema elektronik dan berjaya disana, Rapi memilih berbaris paling belakang merambah jalur sinetron. 

Setelah peta sinema TV dikuasai, Rapi langsung merangsek ke 'medan perang'. Sebagai gebrakan perdananya, diproduksilah Noktah Merah Perkawinan (NMP). Sinetron yang dibintangi Ayu Azhari dan Cok Simbara itu langsung mendapat samutan masyarakat luas dan ratingnya langsung meroket ke papan atas. 

Keberhasilan sinetron NMP, bagi jajaran Rapi merupakan tantangan berat yang harus dihadapi dengan karya nyata yang lebih bagus dari sebelumnya. Lantaran tidak diperkirakan sebelumnya bakal meraih sukses. Maka pihak Rapi juga tidak menyiapkan kelanjutan cerita Noktah merah Perkawinan. 

"Sebenarnya sangat menyesal tidak dapat memproduksi kelanjutan Noktah Moerah Perkawinan dalam waktu singkat. Bisa saja kami  langsung memproduksi sewaktu Noktah masih menayang tapi  kami tidak mau gegabah seperti itu. Justru dibalik kesuksesan itu kami perlu membenahi kelemahan-kelemahan yang kami rasakan untuk penyempurnaan di episode berikutnya, "Papar Gope T Samtani produser Rapi Film. 

Selain menyiapkan NMP seri kedua, Rapi juga tengah memproduksi sinetron kolosal yang juga bakal merebut penonton yakni Jaka Sembung yang di produksi 26 episode untuk tahap pertama. 

Berangkat dari kesuksesan Jaka Sembung di film layar lebar yang dibintangi oleh Barry Prima Gope berkeyakinan Jaka Sembung sinetron juga akan digemari masyarakat. Keyakinan itu didasari dari cerita yang sudah dikenal luas seperti Si Doel, selain juga trik-trik yang akan ditampilkan Jaka Sembung, sinetron jauh lebih menarik dan trik baru. Karenanya, budget untuk Jaka Sembung jauh lebih tinggi ketimbang NMP maupun drama sejenis. 

"untuk Jaka Sembung kami tidak main-main. Biaya produksinya tiga kali lipat biaya produksi sinetron drama. Hal ini dimungkinkan karena kmi menggunakan ratusan pemain, trick dan effect khusus, "ungkap Gope. 

Sebagai pengusaha film tulen, Gope melihat peluang bisnis rumah produksi jauh lebih menguntungkan ketimbang film yang tidak jelas nasibnya. Karena , Gope tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ditengah Jaka Sembung melakukan suting, Rapi kini tengah menyiapkan cerita baru yang tidak kalah menariknya. Sundel Bolong yang sukses di layar lebar, Manisnya Cinta, Ratapan Anak Tiri dan Serpihan Mutiaran Retak. 

"Target kami tahap pertama pertahunnya 150 jam, dengan 6 judul dan perjudulnya 25 episode. Secara perlahan akan kami tingkatkan, hingga benar-benar ideal, "Ujar Gope. 

Menyoal tentang banyaknya cerita film layar perak yang disinetronkan menurut Gope tidak menjadi masalah. Justru hal itu sangat bagus. Minimal masyarakat akan penasaran apa sinetronnya lebih bagus dari layar lebar atau sebaliknya. 

Ditengah booming sinetron , bukan permasalahan mudah mencari pemain dan kru. Tapi masalah itu buat Rapi tidak menjadi kendala yang berarti. Apa resepnya? "Kami mencoba menganggap bahwa artis dan kru adalah aset yang mesti dijaga dan kami memperlakukan mereka sama rata. Artisnya artis 'a' yang kebetulan pemeran utama minum coca cola ya , artis lain juga minum coca cola. Begitupun soal bayaran, sebelum keringat mereka kering, kami sudah bayar. Jadi mereka tidak kapok, dan yagn terpenting mereka kami anggap keluarga besar Rapi, "jelas Gope panjang lebar. 

Rapi memang tidak hanya piawai dalam memproduksi sinetron yang enak ditonton tapi juga mempu menunjukkan bahwa kualitas adalah diatas segalanya. Terbukti sinetron perdananya, Noktah merah Perkawinan selan meraih rating tertinggi juga  mampu masuk sinetron pilihan dalam penyelenggaraan Festival Sinetron Indonesia tahun 1996 . 

~~MF 271/237/XIII/2-15 November 1996