Wednesday, February 25, 2026

JOSEPH GINTINGS


 JOSEPH GINTINGS. (Berita Lawas). Dia merupakan "Singa" panggung. Beberapa kali menjadi aktor terbaik pada festival teater. Kemudian dari teaterlah dia tahu akting baik yang diperolehnya dari IKJ tempatnya menimba ilmu. 

Namun sukses Joesph Gintings di panggung teater tidak sama dengan suksesnya di dunia film dan televisi. Walau begitu bapak yang menjadi salah seorang pengajar di IKJ ini merasa yakin bisa melejit ke permukaan dunia akting. 

"Saya tidak bisa idealis. Sebab tuntutan zaman kita harus bisa segalanya," katanya. "Oleh sebab itulah saya mau main TV atau film. Kalau di panggung beberapa honor yang kita terima? begitu pula banyak masyarakat yang belum kenal dunia panggung, " katanya lebih lanjut. 

Walau prestasinya di dunia panggung tidak terhitung lagi, namun Joseph merasa belum dikenal masyarakat. Padahal dia telah berkali-kali main drama atau film TV. "Itu dulu sekarang saya sudah dikenal", ujarnya sambil ngakak. Sejak kapan dikenal? "Sejak saya main film TV Setegar Lintasan Baja. Padahal dalam film itu saya terburu-buru menerima peran, " katanya. Dia memerankan seorang masinis PJKA yang penuh penderitaan batin. 

Walau sudah cukup pengalaman, tapi Joseph merasa kelimpungan ketika berperan sebagai Monang, dalam film seri "Tembang Di Tengah Padang". Kenapa bisa begitu? Pasalnya dia membawakan karakter orang Batak. Dia juga orang Batak, tapi jadi bingung orang Batak yang mana yang harus dia perankan. 

"Saya Batak, tapi Batak yang saya bawakan kejawa-jawaan, " lanjutnya. 

Dalam film seri Tembang Di Tengah Padang itu Joseph mendapat kesempatan bermain sebanyak 4 episode. Padahal ketika suting film TV itu dia juga sedang sibuk suting film Dua Diantara TIga laki-Laki, sutradara Edward Pesta Sirait, mengambil lokasi di Surabaya. 

Dan karena sutingnya bersamaan, membuatnya harus pontang panting di Surabaya-Cipanas. "Karena saya suting dua film bersamaan. Satu suting film TV, yang satu lagi film bioskop. Itulah risiko seorang artis. Harus tahan banting, " kilahnya mengenang perjalanannya dari Surabaya ke Cipanas. 

Kala di urut, banyak sudah prestasinya, antara lain dia melakoni di film Jakarta 66, Hidup Semakin Panas, Panggung Pementasan Waiting for Godot, Hilang Tanpa Bekas dan lain-lain. Berlakon di TV sudah puluhan kali, sebagai sutradara panggung dia sempat mementaskan Kebebasan Abadi naskah CM Nas dan Wek Wek naskah D. Djajakusuma. 

"Saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Sebagai orang seni saya selalu kurang puas, " tuturnya. Awal tahun 1990, Wahyu Sihombing gurunya telah pergi untuk selama-lamanya. "Pak Hombing tak meninggal. Saya merasa dia hanya keluar negeri. Saya pikir juga dia tidak akan pernah meninggal, " katanya dengan pandangan berkaca-kaca. 


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Tuesday, February 24, 2026

TUANKU TAMBUSAI


 TUANKU TAMBUSAI, SINETRON TERBAIK PADA FESTIVAL FILM INDONESIA TAHUN 1990 DAN MERAIH PIALA VIDIA. "Tuanku Tambusai" sinetron peroduksi TVRI Stasiun Pusat Jakarta bekerjasama dengan Pemda Riau merupakan yang terbaik pada FFI 1990. Sinetron yang menggali Pahlawan yang kurang dikenal ini disutradarai oleh Irwinsyah. Empat Saingan Tuanku Tambusai adalah sinetron "Anak" produksi TVRI sta Jakarta Pusat Sutadara Dedi Setiadi, "Dibalik Tobong" produksi TVRI Sta. Pusat Jakarta sutradara Ananto Widodo, "Masih Ada Cinta di Prambanan" produksi BKKBN-TVRI dan PT. Sentra Focus Audio Visual sutradara Ali Sahab dan "Wahyu dan Wahyuni" produksi PT. Inconesia Mandiri sutradara Ali Sahab.

Kalau di kaji, sudah sewajarnya Tuanku Tambusai merupakan sinetron terbaik. Pembuatan sinetron boleh dibilang tidak ala kadarnya. Bahkan sangat serius untuk kerja sebuah media televisi. Persiapan sinetron yang konon merupakan kerja "kolosal" pertama kru TVRI ini cukup berarti membuat sinetron ini berjaya. Masa pra produksi dan riset tentang kesejarahannya memakan waktu 6 bulan. Untuk set markas tentara Belanda, tidak tanggung-tanggung kru membangunnya dengan biaya yang cukup mahal. Begitu juga dengan "hends property" seperti topi, sepatu, ikat pinggang dan tentu kostum tentara Belanda dan tentara Padri. Sebelum ke lapangan untukpengambilan gambar yang berlokasi di Riau dan Sumatera Barat serta Bandung, Kru Tuanku Tambusai mempelajari miniatur lokasi suting, ini membuktikan bahwa Tuanku Tambusai benar-benar digarap serius.

Alex Suprapto Yudo, penulis skenario cukup 'Babak Belur" untuk mengangkat pahlawan yagn kurang di kenal ini. Beberapa  kali skenario dirombak dan direvisi. Tanpa refernsi dan bantuan pihak Pemda Riau dalam keberaadaan sejarahnya, takkan mungkin sinetron Tuanku Tambusai menjadi tontonan yang menarik ketika ditayangkan TVRI.

Irwinsyah takkan diragukan berkarya lewat audio visual elektronik itu, Pada FFI 1988 dia mendapat piala Vidia untuk sinetron "Sayekti dan Hanafi" dan konon telah di putar di seratus negara, selalu diikutsertakan di berbagai festival dil luar negeri. 

Banyak yang pro dan kontra tentang hasil garapan Irwinsyah lewat Tuanku Tambusai. Hasil 'lukisan'nya itu ada yang mengatakan 'mengada-ada'. Namun Irwinsyah telah mencoba mendekati sejarah Tambusai. Dan membangkitkan semangat orang muda untuk mengenal pahlawannya. 

Sinetron Tuanku Tambusai dilakoni oleh Cok Simbara sebagai Tuanku Tambusai, Tino Karno sebagai Bidin, Ferry Fadly sebagai Maringgit, Renny Djayusman sebagai Isteri Tuanku Tambusai, Agus Melasz sebagai De Stuller, S. Bono sebagai Be Richmond, Ahmad Nugraha sebagai Kohar dan didukung oleh ratusan figuran Riau dan Sumatera Barat. 

Tuanku Tambusai demikian namanya. Merupakan salah seorang panglima Tuanku Imam Bonjol yang berperang melawan Belanda, setelah Pangeran Diponegoro dapat di taklukkan Belanda. Sejarah membuktikan bahwa Tuanku Imam Bonjol dan sekutunya dapat di taklukkan pula oleh Belanda. Tapi dengan perlawanan yang sengit dan pantang menyerah dari tentara Padri. 

Sinetron ini tidak selalu menggambarkan suasana peperangan. Tapi juga konflik-konflik batin yang berkecamuk pada pasukan Tambusai. Untuk itu, Tuanku Tambusai selalu berhati dingin dan berlapang dada dengan laporan-laporan prajuritnya. Meski anak buahnya sudah kena penyakit rindu kampung halaman, karena bertahun-tahun bergerilya. Tuanku Tambusai tidak hanya pimpinan perang, tapi dia juga ulama yang disegani. Lewat keberadaannya inilah, petuah-petuah berhamburan, dia tidak hanya mengupas strategi perang, tapi juga manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia. Meski adegan Tambusai berkhotbah seakan lamban, namun Irwinsyah tak membuangnya, karena ada 'missi' didalamnya. 

Penataan Cahaya cukp apik. Lorong-lorong markas Belanda yang di Bandung cukup menggambarkan suasana. Kamera cukup jeli menangkap detail-detail setiap adegan yang dihadirkan. Apa yagn di sampaikan Tambusai cukup kompleks. Soal toleransi beragama dipaparkan lewat peran Maringgit, sosok pemuda animisme yang bersimpatik terhadap gerakan tentara Padri, Lalu sosok Bidin yang hilang keseimbangan melihat isterinya gantung diri, menggila dan membakar tempat perjudian. Lewat sosok ilmuwan Belanda yang riset, lalu tertangkapnya Tambusai tidak memerlakukannya sebagai musuh. Terbuktilah tak semua orang Belanda suka penjajahan, seperti Multatuli. 

Dengan dana 300 juta, wajar kalau sinetron ini menjadi yang terbaik. Sebab segala sesuatu dikerjakan sesuai konsep yang telah di sepakati. Inilah membuat sinetron Tambusai menjadi tontonan menarik. Meski secara sinematography sinetron Tambusai bisa lebih baik, tapi Irwinsyah hanya memberikan batas waktu 40 hari untuk menyelesaikan suting yang sarat dengan misi, baik sejarah maupun agama. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.

Monday, February 23, 2026

ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM

 


ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM , (Berita Lawas). Pada era 1960an, film-film Italia pernah merajalela di bioskop-bioskop Indonesia. Di antara bintang-bintang koboi yang sangat terkenal adalah Giuliano Gemma. Nah, sekarang dalam perfilman Indonesia juga ada Ade Giuliano. Lalu apa kira-kira ada hubungan dengan kedua Giuliano ini?

"Memang sih hubungan darah tidak ada, tapi dalam tubuh saya juga masih terdapat darah Italia, " aku Ade. Indo-Italia berasal dari ayah Primus Saleh, yang asli sunda bergabung dengan ibu Ellydemezza dari Italia.

Dilahirkan pada 22 September 1968, sejak kecil Ade sudah akrab dengan mobil. Harap maklum, bokapnya memang jual beli mobil, khususnya Datsun Nissan. "Dulu papa bergabung dengan Indo kaya, tapi sekarang sudah berdiri sendiri, ".

Kemahiran Ade mengendarai mobil berlanjut hingga hobi rally. "Saya ikut perkumpulan penggemar rally mobil Artajaya yang di pimpin Benny Kurnadi." Kegemaran yang lain, memangkas dan menata rambut . Ilmunya di pelajari dari Rudy Hadisuwarno yang sudah sangat tersohor di ibukota. Selepas SMA, Ade malah menjadi hairdresser di "Rudy Salon", Ratu Plaza. 

"Tapi sekarang saya mulai sibuk main film, terpaksa kerjaan di salon cuma freelancer saja, dalam arti kalau sedang senggang saya datang, kalau tidak ya tidak apa-apa," kilahnya. 

Debutnya di film diawali lewat film remaja "Si Roy" arahan Achiel Nasrun. Perannya sebagai pemuda gedongan yang bersaing dengan Ryan Hidayat untuk mendapatkan cinta Margie Dayana. Persaingan berlangsung cukup seru sampai terjadi adu j o t o s beberapa kali. 

Denga perawakan tinggi 1,77 meter dan berat 72 kilo ini sebenarnya Ade lebih tegap daripada Ryan. Tak urung karena heronya Ryan, maka tokoh yang diperankan Ade harus kalah, kena gebuk sampai terjungkal. Apa Ade punya bekal ilmu bela diri? "Dulu pernah juga belajar sedikit sedikit , tapi kemudian lebih memilih hobi berenang. Terus terang saya kurang senang main kasar, kala dalam film kelihatannya saya saling membenci Ryan, itu kan cuma pura-pura. Diluar film bersahabat kok. Film kedua Nakalnya Anak Muda tetap diarahkan Achiel Nasrun, juga kembali berhadapan dengan Ryan Hidayat. Sedangkan film ketiga adalah Boleh-boleh saja dengan sutradara Hadi Purnomo, merupakan drama remaja campur komedi. 


MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

ARIF RIVAN

 


ARIF RIVAN, Tidak Bisa Casting Rangkap (Berita Lawas). Untuk sepekan Film TV akhir tahun 1989, Arif Rivan berlakon menjadi Radeng Pengung. Cerita komedi berjudul Raden Pengung, itu berdasar skenario Arswendo Atmowiloto dan sutradara Mustafa. Karena film TV itu pula yang membuatnya marah kepad dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena  Arif Rivan tidak puas. "Saya tidak puas karena ketika mempelajari karakter Raden Pengung terburu-buru. Bayangkan cuma 3 hari waktu saya mempelajarinya."kata artis kelahiran Padang 1 November 1951. "Apalagi cerita komedi. Dan komedinya karena karakter. " ujar anak bungsu dari 7 bersaudara ini. Padahal dia pernah berhasil melakoni cerita komedi "Nujum Pak Belalang" ketika sepekan Film Tradisional TV pada Mei 1989 di TVRI, ketika it dia melakoni seorang Raja Melayu di Sumatera Timur. 

"Ketika itu, waktu saya mempelajari karakter cukup. Apalagi didukung oleh Artis yagn berpengalaman, " lanjutnya. Untuk mempelajari karakter bagi Arif Rivan tidak cukup hanya 3 atau 5 hari. 

"Itulah sebabnya saya tidak berani menerima casting pada saat bersamaan. Kalau sudah selesai satu, barulah yang satu lagi saya terima, " kilah artis ini. Kiranya Arif Rivan mempunyai sikap juga untuk menerima tawaran. Padahal banyak artis selagi laku berani menerima tawaran 3 sampai 4 casting sekaligus. "Saya bisa saja begitu, tapi untuk mempelajari karakter kan tidak bisa terburu-buru, " tangkisnya. 

Arif Rivan pertama sekali terjun ke dunia akting melalui layar gelas. "Biar honor main TV kecil, saya puas. Selain waktu sutingnya singkat, juga kita bisa akrab dengan kru serta sutradaranya," katanya. Karena alasan itu pula membuat Arif Rivan bersedia melakoni Herman dalam film serial TV "Tembang Di Tengah Padang" sutradara Darto Joned. Ia melakoni seorang insinyur yang mengabdi di desa.  


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Saturday, February 21, 2026

NIKE ARDILLA MELAHAP APA SAJA


Nike Ardilla, nama cewek ini. Ia memang berawal dari menekuni dunia nyanyi. Manggung kesana kemari hingga memasuki dapur rekaman.

Kasmaran yang di tangani Slamet Rahardjo merupakan debut pertamanya. Lalu Nike kebagian casting dalam film Kabayan Saba Gota dan Gadis Foto Model. Belum lagi dalam dunia layar kaca, Nike sempat nongol dalam sinetron yang berjudul Cinta Alisa. 

Tak heran, Achiel Nasrun sutradara film Nakalnya Anak Muda berani menggaet Nike Ardilla menjadi peran utamanya dengan memerankan dua tokoh sekaligus dalam film itu. 

Ternyata sejak kecil nama Nike yang lahir 27 Desember 1975 sudah punya cita-cita jadi bintang film. "Waktu saya belum sekolah, saya sering nyanyi di atas meja makan. Dan kalau setiap bangun tidur harus di foto. Kalau nggak saya nangis, " begitu kenang Nike Ardilla yang merupakan siswi kelas III SMP 30 Bandung. 

"Jangan Lupa ya, Nike Ardilla ini nama untuk main film. Nama aslinya Nike Ratnadilla, Nama itu dari produser yang sudah disetujui mama. Nah , kalau Nike Astrina itu yang ngasih mas Denny Sabri, itu untuk musik. "

Nike Ardilla suka makanan jenis apa saja. Suka jenis musik apa saja, Suka kerja apa saja, Suka peran apa saja, tapi untuk memilih cowok idamamnya Nike tetap punya Idola, "Pokoknya yang nggak suka merokok, mengerti sama ike, baik sama Nike dan.. tentu yang Nike Suka.".


~MF 094/62/TahunVI, 3 - 16 Feb 1990~

AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak!

 


AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak! (Berita Lawas). Dr. Amoroso Katamsi pemeran Pak Harto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI ternyata pernah menjadi soerang penarik becak. Tapi jangan salah, pekerjaan yagn mengandalkan otot-otot itu dia geluti hanya dalam cerita sandiwara TVRI. Persisnya tahun 1973 tak lama sesudah dia dipindahkan tugasnya ke Jakarta dari Cilacap. 

"Begitu saya pindah ke Jakarta, langsung diajak kawan-kawan main sandiwara lagi," kenang Amoroso Katamsi jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogya tahun 1966. Apa judul Sandiwaranya? "Wah saya lupa. Yang saya ingat cuma pengarah acaranya Amir Hamzah, "katanya sambil mencoba mengingat ingat. 

Pamen ABRI berpangkat kolonel TNI AL ii memang bukan orang baru di bidang teater. Ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta, Tam demikian panggilan akrabnya terlibat aktif dalam kegiatan pentas. Tahun '62-64 dia jadi anggota grup studi drama Yogya dibawah asuhan WS Rendra, kemudian Tater Muslim ('63-66). Selesai kuliah Amoroso memasuki dinas TNI AL (1966) dan selama tiga tahun hingga 1969 ditempatkan di kapal Skadron 31 (Sebagai dokter kapal). Turun dari kapal dia ditempatkan di Lanal TNI AL  Cilacap seabgai kepala kesehatan, hingga kepindahannya ke Jakarta tahun 1973. Selama bertugas di darat itu Amoroso sempat membentuk grup Teater Widjajakusumah di Cilacap. 

Kecintaanya terhadap dunia teater ini rupanya sudah mendarah daging bagi putra pasangan Pak Slamet Martorahardjo/Iman Sopijay yang dilahirkan di Jakarta  21 Oktober 1940. Walaupun sehari-harinya dia cukup sibuk dengan tugasnya di lingkungan TNI AL, namun dia tak melewatkan kesempatan untuk tetap manggung, termasuk kegiatannya dengan Teater Kecilnya Arifin C Noer. 

Bertolak dari dunia panggung pulalah Amoroso Katamsi diajak main film. Dimulai dengan film semi dokumenter Darah Ibuku (1976). Disusul Cinta Abadi, Menanti Kelahiran, Terminal Cinta dan banyak lagi. Kesempatan paling berharga dan mungkin tak bisa dilupakan seumur hidup ialah ketika dipercaya memerankan tokoh Mayjen Soeharto dalam film Penumpasan G 30 S/PKI, sebuah film yang mengungkap peristiwa berdarah G 30 S/PKI.

Tidak banyak orang tahu, bahwa Amoroso ketika masih menjadi mahasiswa dulu (1962-1966) adalah juga seorang penyanyi seriosa di samping penyanyi koor. Kegiatan dunia tarik suara memang sejak lama dia tinggalkan, namun kegiatan akting tetap akan dia pertahankan sampai entah kapan. 

"Kebetulan pimpinan memaklumi kegemaran saya," paparnya perihal dunia akting yagn digelutinya selama ini. Jadi kalau ada tawaran main film dan kebetulan waktunya memungkinkan biasanya Pak Dokter yang Pamen ABRI ini diberi kelonggaran oleh pimpinannya. Tapi seringkali juga persis ada tawaran dia sedang sibuk-sibuknya di kantor, sehingga sulit meninggalkan tugas. Kalau terjadi begitu maka panggilan tugas biasanya lebih diutamakan. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Friday, February 20, 2026

SAUR SEPUH 5, BIKSU SAKTI DAN PETUALANGAN CINTA LASMINI

 


SAUR SEPUH 5, BIKSU SAKTI DAN PETUALANGAN CINTA LASMINI (Cerita Lawas). Saur sepuh yang pernah memecahkan rekor sebagai film terlaris sepanjang masa dalam sejarah perfilman Indonesia, dilanjutkan pembuatannya. Setelah episode pertama, Satria Madangkara, disusul Pesanggrahan Keramat, Kembang Gunung Lawu dan Titisan darah Biru yang kesemuannya digarap Imam Tantowi, kini di episode ke 5, Istana Atap Langit, pengarahannya beralih ke tangan Torro Margens. 

Para pemain utama kembali bermain  Murti Sari Dewi si pendekar genit Lasmini, Fendy Pradana Prabu Brama Kumbara raja Madangkara, Elly Ermawatie si ketus judes Mantili, adik Brama, dibantu duet Lamting-Joseph Hungan sebagai Lugina dan Kijara, sepasang tokoh aneh musuh Brama serta Candy Satrio melanjutkan perannya sebagai Bentar. 

Munculnya tokoh-tokoh baru, dua rahib sakti dari Tibet, Biksu Kampala dan Biksu Targu di perankan oleh Golden Kasmara dan Hans Wanaghi, Datuk Saluntung penguasa Tanah Malaka diperankan oleh Baron Hermanto, Pendekar Ilalang oleh bintang tamu Gito Gilas, Raden Wanapati oleh Agus Kuncoro, juga Fitria Anwar yang berperan sebagai Harnum setelah sebelumnya di Saur Sepuh 3 berperan sebagai Dewi Paramitha. Plus 4 murid Lasmini yang diperankan oleh empat remaja, Hilda Ridwan Mas, Anita Hakim Ida, Dagmar, Gusti Retno. Tokoh-tokoh yang tak asing bagi pendengar setia serial sandiwara radio karangan Niki Kosasih yang berjaya di era pertengahan 80an .

Di banding empat episode pertama, nampak jelas berbeda kostum parara tokoh.  Penata Busana Nelwan Anwar berdalih "Cerita ini sebenarnya fiktif. Terjadi di negeri dan zaman antah berantah, jadi sah saja kalau busana Lasmini dan murid-muridnya dibuat sensual dan glamour, tak sekedar kone cepol dan berkain batik. 

Tiga grup fighting instructor bekerjasama menata adegan-adegan pertarungan seru yang meyakinkan dibawah pimpinan Sutrisno Wijaya, Eddy S Yonathan dan Robert Santosa . 

Sementara Kamerawan kawakan Tantra Suryadi mempin tiga kamera Ari-3 untuk pengambilan gambar jernih di lokasi Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Margasatwa Ragunan. Suting berlangsung tiga bulan. Kendati bujet tak sebesar produski pertama (Satu Milyar) namun sudahmenghabiskan lebih dari 600juta. 

Petualangan Cinta Lasmini. Episode ke 5 ini merupakan kelanjutan langsung episode ke 3 Kembang Gunung lawu. Pada akhir film terlihat Lasmini  yang pingan seelah duel sengit dengan Mantili, dilarung ke laut. Seperti bisa di duga ia belum ditakdirkan ajal. Ditolong Datuk Saluntung tokoh sakti dari Tanah Malaka. 

Lasmini di sembuhkan, dan di peristri oleh Datuk Saluntung. Tibalah dua rahib sakti dari Tibet. Biksu Targhu dan Biksu Kampala untuk bertemu Datuk Saluntung. Mereka ingin pergi ke Jawa Dwipa untuk mencari Brama Kumbara. Melihat kesaktian mereka, Lasmini menjadi cemas. Dalam hati kecilnya ia memang masih mencintai Brama. Maka iapun pamit pada Saluntung untuk memberi bisikan pada Brama tentang ancaman dua biksu tersebut. 

Ketika Lasmini sendiri mencoba mencegah, ia dikalahkan dengan mudah. Berita pun bertiup ke istana Madangkara. Justru sang Prabu tengah bersemedi untuk menciptakan gabungan ilmu-ilmu puncak. Maka Panglima Ringkin mengutus Daha dan Landu untuk melacak niat kedua Biksu. Namun kedua utusan pontang panting kena labrak. Saat lari, Daha dan Landu bertemu Lasmini yang mengingatkan adanya ancaman terhadap Brama. 

Mantili malah salah paham. Menduga Lasmini yang sengaja mendatangkan kedua Biksu. Iapun mengundang Ki Jara dan Lugina, sedang Raden Bentar resah sendiri karena masih menyimpan rasa terhadap Lasmini. 

Bentruk antar pendekar berbuntut tewasnya Biksu Targhu dan Lugina secara Sampyuh. Gugurnya sang saudara seperguruan membuat Kampala murka tak kepalang. Ki Jara dihajar ringsek. Ada orang yagn secara sembunyi menambah penderitaan dengan mempercepat kematian dengan senjatanya anggrek. Tepat pada saat itulah Lasmini muncul seolah melerai. Kampala yang dilanda emosi diajak ke padepokan Anggrek Jingga milik Lasmini. 

Usai memperabukan jenazah Biksu Targhu, Kampala yang berduka di rayu Lasmini. Ternyata iman sang Biksu tidak tergoyahkan. Lasmini menghalalkan segala cara, menuang racun kedalam minuman. Hebatnya meski keracunan, Kampala masih bisa menggebah keempat murid Lasmini sebelum melesat kabur. Lasmini batal mengejar karena di cegat oleh Mantili yang tiba-tiba muncul. Dua pendekar wanita ini langsung saja adu mulut dan pedang. 

Biksu Kampala ditolong Bentar, kembali ke padepokan Anggrek Jingga. Bertepatan dengan Robohnya Mantili dan Lasmini yagn sama-sama luka dalam. Lasmini ditolong oleh Aki Kolot, tokoh sakti yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, sedangkan mantili diobati oleh Biksu Kampala. 

Mantili menghadap Brama, mengungkapkan tujuan Biksu Kampala yang sebenarnya ingin bertukar ilmu secara persahabatan. Brama dan Kampala mulai tertanding. Sama tinggi ilmunya dan hasilnya dihitung seri karena sama-sama terluka. Di akhir kisah, Bentar ikut berguru ke Tibet bersama Biksu Kampala. 


Thursday, February 19, 2026

AMAK BALJUN JADI TUKANG PIJAT DI CAS CIS CUS

 


AMAK BALJUN JADI TUKANG PIJAT DI CAS CIS CUS. "Ini film komedi pintar. Tidak sekonyol film komedi lain. Ada segi intelektualnya, " kata Amak Baljun memberi komentar tentang skenario film Cas Cis Cus. 

Lho, kok, berani-beraninya ngasih komentar. Lalu apa hubungannya dengan Cas Cis Cus? Jangan buru-buru emosi. Amak Baljun, senior Teater Kecil yang juga menjadi direktur sebuah PT yang menangani barang-barang cetakan,  ikut meramaikan film Cas Cis Cus. Dalam film ini, Amak begitu panggilan akrabnya memerankan tokoh Item. Seorang tua yang buta, punya jabatan jadi tukang pijat. Karena sering memicat nenek Cas Cis Cus, hati dua insan kakek nenek ini pun bergetar. Lalu mereka kawin dengan tuntutan harus diramaikan dengan musik dangdut. Dasar nenek!. 

Pak item alias Amak Baljun ini dilahirkan di Surabaya, 12 Juli 1944. Sejak kecil aktif di dunia seni. Lalu tahun 1972 menikah dengan seorang wanita Betawi. Dalam dunia seni peran, Amak Baljun selalu totalitas dalam bermain. Ia juga dikenal sebagai Si Komarudin dalam film Janur Kuning .

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990