PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?
Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya.
Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya.
"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".
"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."
"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu.
"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.
Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut.
"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi.
Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989







