Wednesday, March 4, 2026

PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF

 


PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?

Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya. 

Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya. 

"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".

"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."

"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata  bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu. 

"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.

Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut. 

"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi. 

Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Tuesday, March 3, 2026

IMPORT CHRIST MITCHUM, TEROBOSAN BARU PRODER GOPE T SAMTANI


 IMPORT CHRIST MITCHUM, TEROBOSAN BARU PRODER GOPE T SAMTANI (Berita Lawas). Sedikitnya 15 mobil di hancurkan. Empat gedung mewah di bakar dan sebuah pesawat heli diledakkan. "Itulah usaha kami mencari terobosan baru," ujar Gope Samtani produser Rapi Film, mempromosikan film "Dendam Membara".

Gope mengakui, filmnya yang di dukung Christ Mitchum bintang impor dari Hollywood, yang di kawasan Asia cukup tenar, belum sehebat film laga buatan luar negeri. "Tapi bolehlah dibandingkan dengan film aksi Indonesia lainnya," tukas produser yang mulai aktif sejak 1970 itu. 

Impor bintang asing, khususnya bintang bule, katanya juga merupakan upaya mencari terobosan baru di pasaran luar negeri. "Sementara ini, baru ada titik terang, " jelas produser yagn telah memproduksi banyak film. 

Titik terang yang dimaksud, film-film yang dibintangi pemain bule, cukuplaku di pasaran luar. "Menentang maut" film pertama Christ Mitchum produksi Indonesia, laku terjual di beberapa negara. Dan yang kedua adalah "Dendam Membara" tahap pertama di bursa film Canes, 4 negara membeli masing-masing Spanyol, Korea, Yunani dan Timur Tengah. 

"Karena kami menjualnya lewat forum festival, mudah-mudahan di forum festival yang lain, juga terjual," kata Gope. Karena titik terang itu pula, katanya untuk ketiga kalinya, Christ Mitchum di kontrak film "Pembunuh Berdarah Dingin".

Kenapa Christ Mitchum? "Yaa karena dengan Christ kita sudah tahu tentang dia. Ia cukup disiplin, mudah diajak kerjasama, " sergah Gope. 

Di Indonesia, Christ cukup punya penggemar. Di beberapa daerah macam Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah , film "Dendam Membara" cukup baik peredarannya. "Film aksi di beberapa bioskop kelas atas memang agak kurang. Tapi di kelas menengah dan bawah baik sekali, " jelasnya. 

Iapun segera mengambil contoh, di Depok misalnya "Dendam Membara" mampu bertahan sampai 10 hari dan selalu penuh penonton. Gope agaknya terus melanjutkan sistem terobosan pemasaran ini, yakni sukses di dalam dan luar negeri.  ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR


 KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR, (Berita Lawas). Kusno Soedjarwadi, lelaki kelahiran Jogyakarta, 16 Juni 1932 tidak sembarangan menerima tawaran untuk main film. "Selain kerja dan kesibukan organisasi, ia juga membina 30 orang lebih anak-anak di Sanggar Teater Graha Mandiri Bogor, " ujar wkail ketua komisi film Dewan Kesenian Jakarta. 

Tapi ada alasan lain mengapa mantan Polisi Militer yang terjun ke film sejak tahun 1956 ii ngumpulin anak-anak dan bikin sanggar teater. "Saya rindu film anak-anak yang tahun-tahun terakhir  begitu langka. Karena itu ia mengumpulkan anak-anak ini di kota saya. Saya bina mereka, saya ajari akting dan main drama dengan cerita-cerita yang mengandung humaniora. Tapi jangan salah lho, bukan berarti anggota sanggar saya melulu anak-anak. Ada juga yang mahasiswa, "ujar aktor yang pernah jadi penjaga gawang dan ketua klub sepakbola ini. 

Menurut aktor terbaik pilihan PWI Jaya lewat film "Perkawinan " tahun 1977 ini, langkanya film anak-anak di negeri ini bukan karena produser atau insan film enggan membuat film anak-anak. "Insan film siapapun dia, pasti berkeinginan untuk membuat film anak-anak, tapi bagaimana kita akan membuat kalau peredarannya jadi masalah? Tidak terjamin, " jelasnya. 

Ketika disinggung tentang apa yang dimaksud dengan film anak-anak tersebut, aktor yagn sudah membintangi puluhan judul film ini, dengan tangkas mengelak, "Batasan untuk pengertian film anak-anak tersebut memang masih kabur. Ceritanya tentang anak-anak atau pemainnya anak-anak? Soalnya tidak semua film anak-anak harus dimainkan anak-anak kan? Orang tua juga bisa memainkannya, " tutur aktor yang juga sutradar aini. 

Kusno mencontohkan film "Don Aufar" . Menurutnya itu bukan film anak-anak. "Soalnya film itu mengambah sih". Karena itu Kusno berpendapat film anak-anak adalah film yang mampu menarik minat dan disukai anak-anak. "Untuk melahirkan film yang disukai dan dimintai anak-anak tersebut kita memang harus lebih dulu mengerti dunia kanak-kanak tersebut, " ujarnya. 

"Pokokny aalasan saya mengumpulkan anak-anak di Bogor adalah untuk mengajak mereka mengenal dunianya dan dapat mengekspresikannya. Kalau mau tahu bagaimana saya membina anak-anak tersebut datang saja ke Sanggar saya, " ajak aktor yang juga mantan dosen Asdrafi Jogya ini 

diambil dari MF 61/29 tahun V, 29 Okt - 11 Nov 1988.

Monday, March 2, 2026

RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk

 


RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk. Sesudah Fauziah Ahmad Daud , bintang Malaysia yang mulai naik daun dalam perfilman Indonesia adalah Raja Ema. Sebenarnya Ema semula lebih dikenal sebagai penyanyi. Baru mulai main film sejak tahun 1986 lewat "Sayang". Tahun berikutnya langsung menyabet gelar "Bintang Harapan 1987" dengan permainannya yang apik dalam"Mawar Merah".

Yang pertama mengajaknya ke Indonesia, produser Hendrick Gozali. Main Filmnya Torro Margens "Pernikahan Berdarah" (1988). Dalam waktu relatif singkat, Ema telah mendukung empat film, dua produksi Garuda Film dan Dua produksi Kanta Indah Film , Api Cemburu, Omong Besar dan Kipas-Kipas Cari Angin. Dan di film Kipas-Kipas Cari Angin, Ema disulap sutradara Nya Abbas Acup menjadi perempuan Jawa. Penampilan bisa dirias hingga mirip genduk-genduk. Masalahnya tinggal pada dialog. Tapi dalam dunia film sama sekali bukan problem, dalam proses suara di dubber (diisi) oleh Putri yang medok logat Jawanya. Sebetulnya sayang memang, sebab kalau suara diisi sendiri, besar kemungkinan nama Ema akan masuk daftar unggulan Aktris Terbaik FFI 1989. 

"Untuk versi film yang diedarkan di Malaysia nanti, saya sendiri yang mengisinya, " tambah Ema buru-buru. "Begitu juga logat tokoh-tokoh lainnya akan di ganti dengan logat Melayu".

Kalau acara Puncak FFI berlangsung di bulan November 1989, maka Festival Film Malaysia ke 8 berlangsung tanggal 9 September 1989 . Yang paling menggembirakan bagi Ema, ia berhasil memenangkan Piala Nilam Purnama Aktris Pembantu terbaik lewat film "Antara Dua Hati".

Keberuntungan Ema berganda rasanya, karena pada event yang sama, ibu kandungnya, Yusni Jaafar juga menggondol piala khusus sebagai Bintang Komedi Terbaik lewat film "Guru badul".

"Sayangnya film-film Malaysia masih sulit beredar di Indonesia, keluh Ema, "Kalau tidak pasti film-film tersebut bisa ditonton juga disini".

Untuk festival tahun 1989 hanya diikuti oleh 18 judul film yang di produksi dalam dua tahun terakhir. Disertakan juga film kerjasama Malaysia-Indonesia, "Irisan-Irisan Hati" yang di anugerahi gelar "Best Join Cooperation Film".

"Dibandingkan dengan perfilman Indonesia yagn memproduksi lebih dari 80 judul pertahun, film Malaysia paling berkisar diantara 10 judul saja, " mengakui Ema. "Sedangkan di Kuala lumpur hanya terdapat 12 panggung (bioskop). Dan 11 diantaranya menayangkan film impor baik dari Amerika, Eropa, Mandarin maupun India. Hanya satu panggung saja yang khusus menayangkan film-film Melayu (Produksi Malaysia) atau Indonesia. 


di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Sunday, March 1, 2026

TUTUR TINULAR MASUK TELEVISI


 TUTUR TINULAR IKUTAN MASUK TELEVISI. (Berita lawas). Sukses di layar lebar, kisah Tutur Tinular diangkat ke layar kaca oleh rumah produksi PT. Gentabuana Pitaloka yang di komandoi Budi Sutrisno, dan tayang di ANTV mulai 25 Oktober 1997 setiap sabtu pukul 20.00 WIB. Ini adalah sinetron kolosal (dibuat secara kolosal bukan kolosal itu artinya silat ya.. hehe) kedua yang ditayangkan ANTV setelah Singgasana Brama Kumbara. 

Tutur Tinular diangkat dari drama sandiwara radio karya S. Tijab yang sukses besar di 315 radio swasta seluruh Indonesia. Dengan posisi pemain yang sudah dirombak seperti Anto Wijaya, Lie Yin Chien (Li Yun Juan), Deivy Zulianty, Agus Kuncoro, Chairil JM, Candy Satrio, Anika Hakim dan sejumlah pemain muda lainnya. Sementara pemain lama seperti Lam Ting, Hans Wanaghi, Johan Saimima, Ricky Hosada, Piet Pagau, Murtisaridewi, Hendra Cipta, Herby Latuperisa dan puluhan pemain yang masih ikut serta. 

Suting Tutur Tinular sebenarnya di mulai sejak tahun 1996 di sekitar bumi perkemahan Cibubur . Tapi sinetron garapan sutradara Muchlis Raya ini jadi perhatian saat beberapa pemain utamanya suting di Beijing China. Lamting, Hans Wanaghi, Ricky Hosada, Steven Sakari dan Chairil JM berangkat ke Beijing sejak 4 Oktober . Disana mereka diarahkan oleh dua sutradara China dari Akademi Film Beijing, Chen Kaige dan Mude Yuan.  

Di tangan dua sutradara itu kelima aktor laga Indonesia diarahkan secara tangan dingin, efisien dan efektif dengan standar kerja perfilman China. Setting yang ditonjolkan adalah atmosfer daratan Tiongkok masa pendudukan tentara Mongol di bawah Kaisar Kubhilai Khan. 

Tata artistik yang semula ditangani oleh Abdullah Sajad digantikan oleh Chang Yi Mu, masih dari Akademi FIlm Beijing. Hang Yi Mu mengubah sosok lahiriah kelima bintang laga Indonesia itu menjadi lebih dekat ke etnis pendekar ala China. 

Bukan hanya sutradara dan penata artistik yang ditangani oleh China, tapi juga produser berganti dari Budi Sutrisno ke tangan Khao Shin, produser pelaksana selama suting di daratan China. Menurut Khao Sin, dia memilih Chen Kaige dan Mu De Yuan karena keduanya merupakan sutradara film papan atas China yang memperoleh predikat sebagai sutradara terbaik China. 

Tak kalah menarik, pemeran Mei Shin di perani oleh artis asli China yakni Lie Yin Chien. Sedangkan di film layar lebar Mei Shin di perani oleh Elly Ermawati di Tutur Tinular 1yang juga pengisi suara di serial Radio Tutur Tinular.  

Tutur Tinular yang sementara di pasok ke ANTeve sebanyak 26 episode, tata laganya ditangani oleh instruktur fighting kawakan Eddy S Jonathan dan Denny HW yang memidani serial Singgasana Brama Kumbara. 

Cerita Sinetron Tutur Tinular ini tidak jauh berbeda dengan versi sandiwar aradio dan film layar lebar. Berkisah tentang kitab Negarakertagama yang mengatakan bahwa pada tahun Saka 1206 pemerintahan Singosari (Tumapel) mulai melakukan program politik Diwpantara (meluaskan kekuasaan keluar Jawa). Maka jadilah Prabu Kertanegara sebagai pembangun Jawa Agung yang pertama. 

Namun beberapa pembesar kerajaan tidak setuju akan politik Dwipantara, seperti Pu Raganatha dan Ramapati. Mereka langsugn mengundurkan diri. Mpu Hanggareksa seorang ahli senjata pusaka tetap mendukung kebijaksanaan politik tersebut. 

Mpu Hanggareksa memiliki dua anak laki-laki, Arya Dwipangga dan Arya Kamandanu. Dalam percintaan, Arya Kamandanu selalu dikalahkan kakaknya, Arya Dwipangga. Bahkan Ratih, gadis yagn sangat dicintainya berhasil direbut dan dikawini Arya Dwipangga. 

Sementara itu sayap kekuasaan Kertanegara semakin luas. Suatu ketika Kertanegara mengeluarkan prasasti Amoghapasa yang di tujukan pada Tribhuwanaraja, raja kerajaan Melayu. Ketika program politik Dwipantara sedang dilaksanakan dengan gencar, disaat yagn sama kekuasaa Kaisar Mongol juga sedang merajalela didaratan Asia dibawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan yang punya kepentingan dengan kerajaan Melayu. Selanjutnya cerita berlanjut dengan konflik dan cerita yang dikemas secara bagus. 

diambil dari MF No. 297/263/XIV 1-14 November 1997


Saturday, February 28, 2026

IN MEMORIAM TUTI INDRA MALAON


IN MEMORIAM TUTI INDRA MALAON. (Berita Lawas). Sebulan sebelum kepergiannya, seorang rekan menyapa "Mbak, kelihatannya sehat dan ceria banget. Ikut fitness ya? Yang disapa bilang "Ah , nggak juga, orang penyakitan kok, mana sempat ikutan fitness."

Itu kiranya pertanda yang tak disadari. Penyakit yang diderita Tuti Indra Malaon, yang disapa itu ternyata memang serius. Tiga hari menjelang tutup usia, ia di operasi di RSAL Mintohardjo Jakarta karena menderita Sirosis hepatitis (pengerutan hati) dengan beberapa komplikasi. Dan hari Rabu, 20 September 2989 pukul 04.55 ia wafat. 

"Ia tak pernah mengeluh tentang penyakitnya itu. Ia tak ingin orang lain tahu, " lontar N Riantiarno, rekan sekerjanya di majalah "Matra". Nggak nyangka kalau mbak Tuti mengidap penyakit serius. Sewaktu dubbing film "Pacar Ketinggalan Kereta" ia biasa-biasa saja, sehat, " Ungkap Camelia Malik di TPU Karet, Jakarta. 

Tuti yang nama lengkapnya Pudjiastuti lahir 1 Desember 1939 di Jakarta adalah tipikal pecinta sekaligus pengabdi kehidupan. Ia berjalan dengan banyak peran yang di beri nuansa kesungguhan. Dedikasi terhadap pilihan hidupnya begitu sarat. 

Pertama kali naik Pentas pada HUT ke 5 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Saat itu ia membawakan tari Gambir Anom, Tari bedoyo dan berperan sebagai Satria dalam tari duet perang tanding antara Satria dan Bambang Cakil. Dan sempat belajar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), tapi tak sampai selesai. Namun, ia sering terpilih menjadi anggota misi kesenian, antara lain ke Filipina, Muangthai (Skg Thailand), Korea, Kamboja, RRC, Vietnam, Jepang dan Uni Sovyet (Apa dan siapa..PT. Grafiti).

Tahun 1965 anak kelima dari sembilan bersaudara ini lulus sarjana Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi dosen. Hingga akhir hayatnya ia adalah pengajar tetap pada FSUI seksi Bahasa Inggris. Pada waktu yang bersamaan , 1968 ia bersama Slamet Rahardjo bergabung dengan Teater Populer pimpinan Teguh Karya yang pada saat itu bermarkas di Hotel Indonesia lalu pindah ke Kebon Kacang. Tuti pernah ikut mementaskan "Pernikahan Darah" (FG Lorca). Serta ia pun tampil bersama Teater Koma, dalam pertunjukan "Opera Kecoa" (1987). 

Sejak tahun 1971, putri kelaurta Suratno Sastroamidjojo ini, menapakkan kaki di dnia film lewat "Wajah Seorang Laki-laki" garapan Teguh Karya. Dengan sutradara yang sama ia terus memamerkan seni akting yang indah dan manis pada "Kawin Lari" "Perkawinan Dalam Semusim" , "Ibunda" dan yang terakhir "Pacar Ketinggalan kereta", serta Tuti pun main untuk filmnya Nyak Abbas Acup "Cintaku Di Rumah Susun", Hengky Solaiman "Neraca Kasih", "Arifin C Noer "Matahari Matahari", dan Hadi Purnomo "Perisai Kasih Yang Terkoyak". Dan pencapaian anugerah dalam seni akting dirahnya Piala Citra sebagai peran utama wanita terbaik dalam film "Ibunda" FFI 1989 dan Pacar Ketinggalan Kereta FFI 1989 yang diraih setelah wafat. 

Niatnya yang belum kesampaian ialah menyelesaikan disertasi doktor tentang dunia teater. Ia mendalami tentang black theatre di AS. 

Tuti- yang juga anggota MPR pun memerankan ibu sekaligus ayah dari tiga anaknya Dama Meivida, Reita Indriani dan Ridho Zulfikar, setelah suaminya Indra Malaon meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di jalan tol.

Dalam kegiatan menulis, Tuti banyak membuat artikel mengenai kewanitaan, kritik film dan drama, juga terjemahan misalnya "Perempuan Dilihat Dewa" karya Bertold Bracht. Sebagai anggota sidang redaksi majalah Matra, Tuti selalu mengisi rubrik wawancara dan etiket. Untuk rubrik wawancara itu, ia telah mewawancarai 33 tokoh terkenal dari berbagai bidang di Indonesia diantaranya ada WS Rendra, Mendikbud Fuad Hassan, Menko Polkan Sudomo, TB Simatupang, Menpen Harmoko, Mensesneg Moerdiono, Dubes AS Paul Wolfowitz, Dubes Malaysia Dato' Muhammad Khatib, Deddy Mizwar, Teguh Karya, Rhoma Irama dan banyak lagi. 

Ia meninggalkan nama dan kenangan yang indah dan manis. Pudjiastuti, selamat jalan.....

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Friday, February 27, 2026

SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG

 


SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG . Mengaku lebih enak main di kelas menengah kebawah, Sisworo Gautama Putra punya prinsip yang diakuinya tidak berbelit. Dalam membuat film, katanya yang harus kita utamakan adalah penonton. "Dan itu sama seperti membuat  majalah atau koran. Pembaca harus dinomorsatukan, " ujar sutradra kelahiran Kisaran, Sumatera Utara ini. 

Karena mengutamakan keinginan penonton itulah mengapa Sisworo, seperti katanya, tak ingin menyajikan film dengan cerita yang rumit-rumit."Enak dinikmati, dan mudah dicerna, itu yang saya pegang, " kata pria kelahiran 26 Mei 1938 ini. Dan itu dibuktikannya tak cuma lewat film-film horor yang sudah menjadi trade marknya. Tapi juga lewat film komedi. "Mudah-mudahan semua film-film saya laku kok, " katanya sambil tertawa. 

Sutradara yang memulai karirnya tahun 1972 lewat "Dendam Anak Haram" ini mengaku tak punya prosensi lain dalam membuat film kecuali menyajikan hiburan pada penontonnya. Tidak juga untuk jadi sutradara terbaik?. "Itu terserah penilaian orang saja, " ujarnya diplomatis. 

Biar begitu toh Sisworo merasa bangga juga setelah sekian tahun menggeluti dunianya "Banyak bintang yang lahir dari tangan saya, " katanya sambil menyebut beberapa nama.

Dan bintang-bintang  itu menurutnya kini sudah jadi semua. Mereka jadi bintang yang populer dan terkenal . Dan saya sendiri akan terus mencari  bibit-bibit potensial untuk main film, " kata sutradara yang oleh teman-temannya ini dianggap sebagai sutradara spesialis penemu bintang. 

Tentang anggapan itu, Sisworo tak menolak tapi juga tidak menerimanya. "Yah saya pikir tidak juga. Saya cuma memulainya saja kok, " tuturnya merendah. Sisworo yang ditemui saat menyelesaikan film ke 72nya berjudul Wanita Harimau atau Santet II menyebutkan kini iapun tenggah menggodok bintang baru. 

"Pokoknya memakai bintang baru lebih mudah ngaturnya. Beda dengan bintang lama", ujarnya. 

Namun Sisworo membuktikan ucapannya ketika suting film Santet II berlangsung. Ia marah dan kesal ketika bintang-bintang tua itu harus beberapa kali latihan adegan. "Wah kalin ini gimana sih. Sudah berkali-kali main film kok main bodoh," katanya kesal setelah itu ia kembali tertawa. 

Tapi kini biar katanya ia mengacu pada selera penonton, tapi Sisworo tak ingin melakukan kesalahan lagi setelah filmnya dulu "Petualangan Cinta Nyi Blorong" menimbulkan heboh. "Sekarang saya sadar kok bahwa masyarakat kita semakin kritis, sekarang saya akan bikin film yang wajar-wajar saja dan tidak bikin penonton marah, "katanya. 

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN


 GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN , (Berita Lawas). Tidak semua artis ingin menggantungkan hidup pada dunia film. Contohnya Gito Gilas. Dia lebih suka menjadi wartawan daripada artis yang menurut pendapat orang-orang punya masa depan cerah. Lalu alasan apa yang membuat anak muda yang kuliah di STP ingin menjadi wartawan?

"Karena saya kuliah di STP, mengambil jurusan Jurnalistik, " kata Gito yang lahir 27 Mei 1966 berterus terang. "Tapi saya tidak mau menjadi wartawan harian. Sebab sangat sibuk. Saya lebih suka menjadi wartawan Majalah, terserah mau majalah apa, " lanjut anak ke 2 dari 4 bersaudara ini. Kapan dunia wartawan akan digelutinya. "Saya sendiri belum tahu. Yang jelas saya akan jadi wartawan setelah selesai kuliah, " katanya menambahkan. 

Walau Gito Gilas sudah beberapa kali melakoni film nasional namun baginya lebih suka bermain di layar gelas milik pemerintah itu. Alasan apa yang membuat tertarik berlakon di TVRI?

"Kan banyak masyarakat yang tidak sempat menonton di bioskop. Kalau nonton di bioskop, kan harus bayar, di TV tidak. Gratis. Lagipula masyarakat langsung mengenal kita, " kata lelaki berbintang Gemini yang lahir di Kota Bandung ini. 

Dalam film TV dia beberapa kali melakoni cerita remaja, antara lain Fanny, sutradara Partom Hutapea, Opera Anak-anak Kost sutradara Partom Hutapea, dan juga Tegar sutradara Bamang Rochyadi serta beberapa film TV yang lain. "Alasan saya mau menerima tawaran main sinetron sederhana saja. Karena kita bisa belajar. Kan ada monitor untuk melihat akting kita. Jadi kalau tidak pas bisa di hapus dan direkam kembali, " lanjutnya. "Lagi pula kalau main disini kita bisa totalitas. Artinya kita langsung berdialog memakai suara kita sendiri, tapi kalau film kan harus di dubbing lagi, " katanya menambahkan. 



MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990