Saturday, January 24, 2026

HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH

 


HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH (Kisah Lawas).  Bintang film bertubuh langka Him Damsyik yang kembali mencuat lewat tokoh "Datuk Maringgih" dalam mini seri "Situ Noerbaya" kena getahnya. Tidak sedikit makian yang meluncur dari mulut pemirsa terhadap Datuk Maringgih, padahal pemutaran "Siti Noerbaya" telah lama berlalu. Makian atas keberhasilan Damsyik memerankan Datuk yang kaya, sombong, angkuh dan bermuka buruk itu. 

Baginya, permainanya dalam mini seri itu tidak ada yang perlu dibanggakan. 

"Saya rasa biasa-biasa saja, nggak ada yang luar biasa. Kalaupun dikatakan berhasil, itu cuma perasaan masyarakat saja, " Ucap Damsyik merendah. 

Meski peran antagonis, tapi Damsyik tidak melihat adanya antipati masyarakat terhadapnya. Itu terbukti ketika ia melakukan perjalanan ke tanah kelahirannya , Teluk Betung, Lampung.  "Sambutan disana luar biasa. Jalanan macet total, " katanya. Semuanya positif, begitu juga ketika berada disalah satu bank di Teluk Betung. Seluruh kegiatan bank tersebut berhenti total. Karyawan maupun manajer bank memberi selamat. 

Yang paling merepotkan, kata Damsyik, ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Begitu tiba di Bakauheni, tepatnya saat memasuki kapal penyeberangan, ia langsung disambut oleh para staf kapal tersebut lewat pengeras suara. Karuan saja seluruh penumpang yang ada disitu menyerbu tempat Damsyik berada . Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, Damsyik terpaksa diselamatkan dan di boyong ke anjungan kapal. 

"Sebenarnya sih nggak apa-apa. Cuma staff kapal takut terjadi sesuatu. Maklum namanya orang banyak. Mereka cuma mau salaman, ucapin selamat, foto-foto. Begitu juga waktu di Teluk Betung, ya mungkin karena mereka bangga terhadap putra daerah. Sayakan dilahirkan dan dibesarkan disana, " paparnya. 

Sambutan itupun menurutnya merata, mulai dari anak-anak, remaja maupun orang tua. Hanya saja, katanya yang paling banyak adalah kaum wanita. 

"Yang saya lihat memang ada kemajuan. Apresiasi masyarakat terhadap sinetron atau film kita cukup meningkat. Terlebih mengapresiasikan akting seorang pemain. Buktinya mereka semua salut, bukan benci, " kata Damsyik bangga. Namun berdasarkan pengamatan dari beberapa pemirsa, ada rasa dendam yang amat dalam terhadap Damsyik yang berperan sebagai Datuk Maringgih itu.

"Kalau saya ketemu itu orang, saya mau timpuk pakai batu, " kata seorang pemuda di bilangan Tanjung Duren, Tomang Barat, Jakarta Barat yang enggak disebut jati dirinya. Semula memang pemuda yang satu ini merasa biasa-biasa saja. Ia sadar kalau itu cuma kebolehan seseorang dalam memainkan peran tapi setelah ia menyaksikan episode ketiga sinetron "Siti Noerbaya" emosinyapun tiba-tiba muncul. Apalagi setelah melihat penderitaan Noerbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih. 

"Mam pus kek orang itu," celetuk beberap aanak kecil saat menyaksikan sinetron episode ketiga itu dirumah salah satu keluarga di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

MF 140/107 Th VIII/9-22 Nov 1991

Friday, January 23, 2026

EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH

 


EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH, DARI RAJAWALI KE MANUSIA RAKSASA. (Kisah lawas). Para penonton film "Saur Sepuh" (Satria Madangkara) pasti sudah menyaksikan bagaimana hebatnya Brama Kumbara, Satria Madangkara itu, menghancurkan musuh-musuhnya. Dari memenggal kepala, di tembus kerus tubuhnya namun tidak apa-apa, menghancurkan tubuh lawan-lawannya hingga jadi debu, sampai memanggil Rajawali tunggangannya .

Brama memang hebat. Tapi untuk film, seorang lelaki berkulit gelap berada di belakang kehebatan Satria Madangkara itu. Orang itu adalah El Badrun, lelak kelahiran 25 Januari 1950. Dari kerjanyalah muncul efek-efek khusus yang membuat kesaktian Brama Kumbara seperti di Radio, muncul dalam bentuk visual di layar bioskop.

Tapi itu belum apa-apa. Masih kerja efek khusus yang biasa, " ujar badrun. Dan memang, yang lebih dari Badrun ketika membuat efek khusus "Saur Sepuh I" adalah ketika ia menciptakan burung Rajawali Raksasa yang menghabiskan bulu angsa seratus ekor. Dengan teknik Front Projection, Badrun membuat burung itu seakan terbang di angkasa raya, membawa penunggangnya meskipun visualisasinya belum begitu sempurna. 

Kini, seperti tak ingin puas dengan kerja pertamanya tersebut, Badrun punya gagasan baru. "Untuk film Saur Sepuh II yang berjudul "Pesanggrahan Keramat", saya akan membuat manusia raksasa. Tingginya sekitar 30 meter, " ujar Badrun saat suting pertama film Saur Sepuh II. 

Untuk membuat manusia raksasa itu menurut Badrun, bahannya dari spoon plastik denga rangka besi serta rotan. Manusia raksasa itu merupakan sosok Brama Kumbara setelah ia marah dan melakukan tiwikrama atau semedi," tuturnya. "Dalam cerita ini digambarkan Brama marah lalu melakukan semedi hingga tubuhnya berubah jadi raksasa. Untuk membuat itu, saya masih tetap menggunakan  teknik front projection, " tambah lelaki yang sengaja pergi ke Bavaria - Jerman, hanya untuk memperdalam pengetahuannya  soal efek-efek khusus tersebut. 

Tentang efek-efek khusus lain yang akan ditampilkannya di dalam "Saur Sepuh II", dimana Badrun menjadi penata artistik, ia menyebutkan masih sama seperti yang pertama. "Masih mengandalkan trik-trik kamera, " jawabnya. "Tapi, selain mempertahankan imej kesaktian Brama seperti tergambar pada Saur sepuh I, kali ini kita mencoba memberi beberapa tambahan lainya," katanya. 

"Tapi saya punya target. Kalau pembuatan raksasa ini berhasil, saya yakin kita bisa membuat film-film lain yang lebih spektakuler. Film anak-anak atau film seperti "King kong" atau "ET" dan lainnya, " ujar Badrun optimis. 

Tapi untuk bisa menghasilkan kerja yang bagus bagi keperluan pembuatan film-film seperti itu, Badrun mengharap karyawan film yang terlibat mendapat imbalan yang lebih pantas dan layak. "Kalau tidak, sulit hal itu bisa di wujudkan, "katanya. 

"Saya sendiri memang mendapat bayaran yang cukup. Tapi teman-teman kerja saya masih dibayar sangat murah. Padahal siapapun tahu saya tidak bisa bekerja sendirian, " tambahnya. 

"Betul, saya akan terus memperjuangkan honorarium rekan-rekan kerja saya . Karenanya saya setuju sekali dengan sikap George Kamarullah yang memilih mundur dari dunia film karena ketimpangan honorarium yang di terima karyawan film tersebut, " tegasnya. " Tapi sayangnya karyawan film kita tidak kompak. Tidak bersatu. George contohnya, tidak ada yang mendukung dia, " kata Badrun mengakiri keluhannya. 

~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989



Thursday, January 22, 2026

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2. Setelah sebelumnya membicarakan Jawara-jawara film Indonesia yang berantagonis, selanjutnya adalah jawara-jawara  lain yang nasibnya sedikit lebih beruntung. Barry Prima, Fendy Pradhana, Erick Soemadinata dan Baron Hermanto, adalah jawara-jawara film aksi yang nyaris tak pernah jadi antagonis. Barry misalnya sejak pertama main film, ia langsung kebagian peran protagonis. Jadi jagoan dan itu bertahan hingga saat ini (1989)dengan bayaran paling tinggi diantara para jawara film aksi lainnya, yakni 150 juta pertahun.

Yang senasib sama seperti Barry adalah Fendy Pradana. Sejak main film pertama kali dengan Sisworo Gautama Putra lewat film "Malam Satu Suro" Fendy terus kebagian peran jagoan. Belum banyak film yang dibintanginya memang. Tapi posisinya sebagai jawara tampaknya semakin kuat. "Tapi kalau ada tawaran main film dalam jenis lain, saya pasti mau. Jadi tidak terus menerus fight setiap main film, " ujar mantan karateka sabuk coklat ini. 

Beda dengan Barry dan Fendy, adalah Baron Hermanto. Putra aktor Bambang Hermanto ini terjun ke film pertama kali malah bukan  sebagai pemeran film aksi. "Saya main pertama kali film "Permata Biru" tahun 1984. Entah kenapa belakangan ini  saya kok banyak main dalam film-film aksi, " ujarnya yang juga seorang karateka. Baron sendiri mengaku sudah banyak ikut main dalam film Indonesia. 

"Memang saya  sendiri sudah kenal film sejak masih kecil. Tapi kalau main film setelah usia 20 tahun, katanya. 

Jawara lain yang beruntung adalah Erick Soemadinata. Mantan pegawai sebuah biro swasta ini, begitu main film memang tak langsung jadi jagoan. "Mulanya saya jadi  figuran dan kebagian peran-peran kecil pada tahun 1986", ujarnya. Tapi nasib baik membawa lelaki yang pernah belajar silat di PS Panglipur ini ke peran utama lewat film "Si Gobang I dan II". Sejak itu belum banyak film yagn ia bintangi memang. "Tapi saya bertekad untuk terus hidup di film. Terserah jadi antagonis atau apa. Dalam film aksi atau film jenis lain ," tuturnya. 

Memang masih ada beberapa  Jawara lain yang malang melintang dalam film aksi kita ini. Tapi nama-nama diatas agaknya sudah cukup sebagai jaminan bagi mengukur niat kemampuan dan kapasitas mereka sebagai pemain film. Namun entah kenapa sampai  saat ini mereka melulu kebagian porsi sebagai tukang-tukang be r a n t e m di film. Tukang kelahi dan nyaris tak pernah dilirik niat baik dan keinginan mereka untuk benar-benar berakting. "Padahal film aksi kan tak cuma ciat ciat. Dan  kami juga tak cuma bisa berciat ciat. Tapi kesempatan itu kayaknya belum datang ya, ?" tutur Advent . 

Advent benar , film aksi memang bukan melulu film ciat-ciat. Tapi agaknya kecenderungan untuk membuat film aksi adalah film yang melulu  b e r a n t e m , sudah begitu mentradisi. Akibatnya para jawara film Indonesia itu, jarang dilirik, tak terkecuali dalam ajang Festival Film Indonesia. Kenyataan seperti itulah yang membuat Advent Bangun misalnya mencoba merangkum. "Saya ingin peran yang lain. Film yang lain yagn tak melulu aksi. Terserah film drama atau komedi, " ujarnya. 


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1  Film Indonesia adalah film dengan beragam tema. Dan kalau film aksi lebih banyak peminatnya , jangan salahkan produser atau sutradara, tapi tanyakan pada selera. Lihat saja, dari 99 judul film yang ikut FFI (1989), 39 judul diantaranya adalah film aksi dan 60 judul lainnya baru film-film untuk jenis drama komedi dan horor. 

Berdasar dari data it saja, wajar kalau kemudian film Indonesia di tahun tersebut di dominasi oleh pemain-pemain yang bisa ciat ciat dan mahir baku hantam, tapi minus kemampuan akting. Simak saja, bandit dalam film Indonesia adalah bandit dengan ciri-ciri yang mudah ditebak. Berotot menonjol dan berwajah keras. Kaku dalam tindakan dan sinis kalau bicara. Antagonisme dalam film Indonesia agaknya memang lebih gampang agaknya diwijudkan lewat ciri-ciri begitu. Lagi pula , siapa di negeri ini yang mau menerima gambaran lain, seorang bandit adalah sosok yang tampan dan berhati mulia?.

Kebalikan dari peran antagonis itu adalah sosok peran buat tokoh protagonis. Sosok -sosok yang digambarkan begitu gagah, tampan, jagoan, lembut dan berhati mulia. Dan perbedaan profile karakteristik tokoh yang hitam putih itu justru sangat kentara dalam film-film aksi kita. Coba saja, apa ada produser aau malah penonton yang mau menerima jika Barry Prima atau Fendy Pradana jadi bandit? sebaliknya apa mungkin Advent Bangun atau Yoseph Hungan jadi jagoannya. Bisakah identik aksi dalam film Indonesia denga akting?

"Seharusnya bisa. Tapi kondisi perfilman di Indonesia tampaknya terlanjur membentuk seorang antagonis untuk tetap antagonis, " ujar Piet Pagau salah satu pemeran antagonis film Indonesia. Dan memang contoh itu sudah dibuktikan oleh Piet sendiri maupun beberapa pemain lain, Advent Bangun misalnya. Sepanjang sejarah keterlibatan dalam dunia film, jarang sekali memerankan peran lain selain peran antagonis. Di film "Siluman Kera" Advent tidak main sebagai antagonis. "Saya juga nggak tahu kenapa begitu. Padahal saya yakin bisa main jadi apa saja. Terus terang saya rindu lho dapat peran yang tidak antagonis melulu, " ujarnya. 

Biar antagonis Advent toh tergolong jawara kelas satu dalam film Indonesia. Ada beberapa nama lain yang mendampinginya dan tak pernah luput saban film aksi dibuat. Yoseph Hungan misalnya , lelaki bertubuh kekar dan bentuk kulit hitam ini sejak pertama kali terlibatdi film tahun 1987 perannya melulu antagonis. "Saya tidak punya cita-cita main film lho. Saya ikut main film karena diajak Willy Dozan ketika bikin film "Pernikahan Berdarah" tapi kok rasanya main film itu enak. Saya bisa nabung, " ujar DAN II Internasional Tae Kwon Do yang mantan pegawai Dolog di Semarang ini. 

Padahal sebagai Tae Kwon Doin, prestasi Yoseph tak kelanga tanggung. Delapan kali ia secara berturut-turut memegang gelar juara nasional untuk empat kelas sekaligus. Tapi rupanya film memberi peluang lain. Akibatnya dia mengundurkan diri dari kontingen Sea Games Indonesia tahun 1989."Soalnya saya tidak bisa meninggalkan film. Itu tempat saya cari makan. " katanya jujur. 

Peluang itu pula yang menyeret Syarief Friant masuk dunia film. Terjun pertama kali ke film tahun 1982 lewat "Pendekar Liar" sampai tahun 1989 Syarief mengaku sudah ikut main dalam 40 judul film dan semuanya kebagian peran antagonis. "Tapi saya pernah ikut film komedi lho. Entah kenapa Arizal mengajak saya main dalam film "Sama Sama Enak". Saya sendiri maunya bisa ikut main dalam film jenis apa saja dan tidak melulu film aksi, " kata bekas Karateka penyandang sabuk Coklat ini. 

Sebagai antagonis, baik Advent Bangun, Yoseph Hungan maupun Syarief Friant agaknya memang memenuhi syarat-syarat seorang antagonis untuk film Indonesia. Selain bertubuh kekar, tinggi besar, mereka pun bertampang serem dan punya dasar-dasar fight yang memang dibutuhkan. "Tapi saya ingin belajar. Saya ingin lebih dari peran yang saya mainkan selama ini, " ujar syarief. Keinginan itu pula yang mendorong Yoseph Hungan  dan Advent Bangun untuk terus menerus jadi antagonis. "Apapun saya bisa kalau diberi kepercayaan, " ujar mereka. BERSAMBUNG BAG 2


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Monday, January 19, 2026

ANNA TAIRAS, KABUR DARI TEMPAT SUTING KARENA TAKUT DISURUH BUGIL

 


ANNA TAIRAS!. Film pertamanya "Bali Connection" arahan Sundjoto Adibroto. Dalam film yang seluruhnya di buat di Bali itu, Yohana yang lebih akrab di panggil Anna bermain sebagai Mei Lin gadis Cina, tujuh diantara ke 38 film yagn sempat dibintangi oleh si bungsu dari enam bersaudara keluarga Pak Tairas ini tergolong film buka-bukaan yang sempat memberikan kesan lain terhadap Anna Tairas. 

Dimulai dengan "Kupu Kupu Putih" arahan Bobby Sandy. Di sini pecinta film mulai bertanya melihat perubahan sikap Anna Tairas. Dia muncul sebagai perempuan penggoda yang menampilkan adegan cukup berani. Mulai dari cium bibir sampai ke paha, lengkaplah film itu mengekspose bagian tubuh Anna Tairas. 

Sejak film "Kupu Kupu Putih" banyak sutradara memburunya untuk mengeksploitir lekuk tubuh Anna Tairas. Diantaranya "Mandi Dalam Lumpur", "Bibir Bibir Bergincu" dan sebagainya. Semuanya ada tujuh film yang mempunyai kesan lebih khususnya dalam hal adegan seks yang dipertontonkan oleh Anna Tairas. 

Wim Umboh sutradara senior sempat juga "mengintip" celah-celah yagn bisa diangkat ke pita film dari penampilan artis berdarah campuran, Manado-Riau ini. Disodori sebuah peran untuk film "Pengantin Pantai Biru", Anna Tairas bahkan sempat suting sehari di Sukabumi. Hari pertama dia sudah mulai disuruh buka-bukaan. Mulanya bagian atas kemudian turun ke bawah sedikit. "Sedikit lagi, buka sedikit lagi," kata Wim Umboh pada suting pertama Anna Tairas itu. Begitu selesai suting langsung Anna Tairas ngabur ke Jakarta. 

"Lha kalau baru hari pertama saja sudah disuruh begitu, bagaimana nanti hari hari berikutnya. Bisa-bisa saya disuruh telanjang bulat, " katanya menceritakan pengalaman sutingnya. Tidak sesuai dengan pembicaraan sebelumnya, makanya Anna nekad meninggalkan tempat suting. Tidak bisa lain akhirnnya Wim menggantikan peran Anna Tairas kepada orang lain. 

"Sebetulnya itu bukan perubahan sikap tapi saya ingin membuktikan bahwa saya mampu main dalam film apa saja, " ucap Anna ketika ditanya awal mula dia terbawa main dalam film.

"Sekarang saya akan lebih hati-hati dalam memilih peran:, kilahnya. Apalagi untuk jenis film seks jelas dia tidak segampang dulu, yang menurut penuturannya kala itu masih kurang bisa mengontrol diri. 

Sejak kemunculannya dalam film "Kodrat" arahan Slamet Rahardjo, mantan ratu Kawanua se Jakarta 1975 inipun segera mengadakan perubahan lagi. Pelan tapi pasti dia meninggalkan kesan pemain dengan cap yang berbau vulgar. 

"Saya tidak janji tapi sejauh ini saya coba menghindari, " kilah Anna Tairas mengenai kemungkinan ia kembali main dalam film sejenis "Kupu Kupu Putih" ataupun "Mandi Dalam Lumpur".

Pada saat kosong dari tawaran main film itu datanglah sutradara Dasri Yacob menyorongkan sebuah peran utama dalam film Diantara Dia dan Aku produksi Inem Film. 

Tapi film selesai dan disusul dengan film-film berikutnya yang terdengar diluaran justru desas desus sang bintang dengan sutradara Dasri yacob. Saking seringnya main dalam film arahan Dasri, maka gosip dengan sutradara yang bersangkutan pun semakin sulit dihindari, sempat dilabrak istri Dasri. Bukan berarti gosip ini berakhir sampai disitu. Sebab ada lagi nama yang kabarnya sempat akrab dengan dia, seorang pemusik dan suami artis terkenal. Cerita tentang hubungan akrab Anna Tairas dengan pemusik beken ini memang sudah rahasia umum khususnya dikalangan insan film. 

"Biarlah burung berkicau", kilahnya. 

~MF 052/20/Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988


Sunday, January 18, 2026

WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA

 


WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA. Wenny Rosaline bintang yang mencuat lewat film laga , dalam sebuah film ia ditunangkan denan Barry Prima. Ayah rupanya menginginkan Wenny bersuamikan pendekar pula. Wenny tak kuasa menolak keinginan ayahnya. Ia pasrah, selain itu diam-diam iapun ingin mengesankan pada ayahnya bahwa ia anak yang baik. Cerita tersebut cuma ada di dalam film "Pendekar Ksatria" produksi PT. Kanta Indah Film . Wenny menjadi anak Ki Wadas Putih yang diperankan oleh Advent Bangun, seorang pendekar tua yang kepincut dengan ketampanan dan kegagahan seorang pendekar muda meski akhirnya harus berseteru dengannya karena diketahui Ki Wadas putih berkhianat. 

Ini film ke sekian Wenny untuk jenis film laga. Memang sebagai artis yang baru, Wenny termasuk cepat melejit. Sejak ikut film "Kelabang Seribu"  dimana ia berperan sebagai nenek sihir yang 'memperjakai' Barry Prima, Wenny seperti tak pernah istirahat. Wenny sudah membintangi banyak film. Dari jenis film laga, drama sampai komedi ia pernah main. Dari peran kecil sampai peran utama. 

Bertutur tentang awal keterlibatannya dalam dunia film, Wenny menyebutkan sejak tahun 1982 "Waktu itu saya mendampingi Eva Arnaz dan Barry Prima dalam film "Membakar Matahari" yang disutradarai Arizal," ujar artis film yang mulai dari dunia fashion show itu. "Waktu itu saya bingung juga. Antara keinginan main film, bentrok dengan kerja yang selama ini saya tekuni seperti peragaan busana, foto model dan usaha salon. Tapi berkat pertimbangan yang diberikan ibu, akhirnya saya putuskan menekuni dunia fashion dulu, " tambahnya. 

Anak kedua dari lima bersaudara hasil perkawinan bapak R.R Surya Kusumanegara dan Ibu Ida Farida ini, entah mengapa kemudian terseret juga ke film. Adalah sutradara Dasri Yacob yang mengusiknya. Waktu itu ditemui Dasri sekaligus mengajaknya untuk ikut main dalam film "Petualangan Tak Kenal Menyerah", Wenny mau. Apalagi ibunya yang sejak 1983 menjanda sejak ayahnya mennggal itu mengijikannya berangkat ke Jakarta. "Waktu itu usia saya sudah 21 tahun. Dianggap ibu sudah dewasa, kata perempuan kelahiran 18 Maret 1966 ini. 

Tapi sekalipun sudah membintangi beberapa film, Wenny mengaku dari dunia yang satu ini belum mendapat apa-apa kecuali kepuasan batin. Soal honor, cuma cukup untuk hura-hura dengan teman-teman. Paling-paling sedikit untuk bantu ibu," jawabnya. Soal adegan syur, ia tak lantas paku mati. "Kalau terpaksa, ya harus pakai stand in. Soalnya saya enggak mau ngecewain orang tua, kilahnya. 

Dalam film "JAWARA" yang kemudian berganti judul "PENDEKAR BUKIT TENGKORAK" Wenny kebagian adegan yang menyingkap kain pembalut tubuhnya. "Sebagai pendekar wanita, ketika mandi saya diserang penjahat. Terjadilah perkelahian sambil berendam air. Tapi jangan nuduh dulu, saya pakai celana pendek waktu itu. Lagi pula yang di sut cuma punggung saya, " tuturnya. Apa salahnya?

Menerima adegan-adegan yang mesti begitu, Wenny mengaku tak bisa menolak begitu saja, "Saya menyadari masyarakat penonton film sudah terlalu peka. Kritis. Sepanjang tidak berlebihan saya pikir tidak apa-apa. Tapi supaya tahu saja, saya bukan artis yagn cuma bisa adegan begituan, " tantangnya. 


~~dikutip dari MF 053/21/Tahun IV, 9-22 Juli 1988

Saturday, January 17, 2026

SUTING MALU MALU MAU, SISWORO GAUTAMA PUTRA GARAP FILM KOMEDI


 SUTING MALU MALU MAU, SISWORO GAUTAMA PUTRA GARAP FILM KOMEDI.(Kisah Lawas). Jam 08.00 semua kru nampak siap dengan tugasnya masing-masing. Seperti biasa merek anampak sibuk. Ada yang mempersiapkan sarapan pagi, ada yang make up, pasang lampu dan segala macam tetek bengek lazimnya persiapan suting film. Dua hari terakhir itu film "Malu Malu Mau", nya Warkop memilih suting di Super Star Diskotik di kawasan Cideng Timur Jakarta. Jam 9.00 disaat semuanya hampir ok, muncul Sisworo Gautama , sutradara "Malu malu Mau" mengenakan kaos bergaris-garis, celana pendek, kaos kaki dan sepatu hitam kombinasi putih. 

Habis main tenis Sis? "Ah enggak, cuma dengan begini rasanya lebih rileks. Biasa kalau lagi suting enakan begini, " kata Sisworo, sutradara kelahiran Kisaran Sumatera Utara. 

Sehari sebelumnya ditempat yang sama, sutradara jangkung kehitam-hitaman itu lengkap pakai celana panjang dan sepatu, nyaris seperti pegawai kantor. Seperti biasa suaranya membahana hampir ke seluruh ruangan, terutama kalau dia sedang member aba-aba suting. "Opname kamera, yaaa go...," teriaknya kalau memberi aba-aba suting. Itu memang ciri khas Sisworo. masing-masing sutradara memang punya ciri khas sendiri-sendiri. 

Tumben, sekali ini Sisworo Gautama menggarap film dagelan (Dono menolak di sebut film komedi). Biasanya Sisworo menggarap film misteri, horor atau film-film aksi, macam "Nyi Blorong" dengan sekian banyak versi, atau film-film aksi yang banyak menampilkan trik (adegan tipuan) "Jaka Sembung" konon sempat membuat pengamat film di Eropa dan Amerika terheran heran. 

"Membuat film jenis dagelan seperti ini jelas lebih ringan ketimbang film aksi, horor atau misteri yang sering saya garap," ucap Sisworo. Suasana kerja pun berbeda. Kalau dalam film-film terdahulu selalu serius terus, maka dengan Warkop ini lebih banyak guyonnya. Tidak berarti penggarapannya tidak serius cuma suasana kerjanya itu yang lebih santai. "Ini film dagelan saya yang pertama.  Tidak ada pretensi lain kecuali film ini disenangi penonton banyak dan produser untung, " katanya blak blakan. 

Suting dua hari di diskotik itu mengisahkan Kasino ikut lomba nyanyi tuna netra. Belakangan ketahuan Kasino cuma pura-pura buta. Suasana pun jadi kacau balau apalagi ternyata panitia yang di dalangi Paul tukan kibul. Perihal Kibul mengibul ini juga melibatkan Dono yang ikut kuis berhadiah. Dia dikerjain habis-habisan oleh panitia, sampai akhirnya Dono, Kasino dan kedua teman wanitanya Nurul Arifin dan Sherly Malinton lari terbirit-birit meninggalkan tempat acara. 

Suting pertama "Malu Malu Mau" dimulai pada 26 November 1988. Selesai seluruhnya 27 Desember 1988 atau 24 hari kerja, karena sempat istirahat beberapa hari termasuk hari Natal. Ngebut? "Enggak juga. Soalnya memang sudah ditargetkan satu bulan. Kebetulan selama suting ini kami nyaris tidak ada hambatan sama sekali. Semua pemain selalu siap, tidak ada masalah. Walaupun Nurul merangkap dua film (Dia juga suting film "Saskia} tapi skedul suting dengan Warkop berjalan mulus. Skedul untuk Nurul mengikuti kami, " kata Sisworo yang sebelum ini merampungkan "Santet". Baik film Santet maupun "Malu Malu Mau" sama-sama menghabiskan bahan baku 55 can (kaleng). Bedanya jumlah hari suting film "Santet" lebih banyak Bisa dimengerti karena film sejenis itu pembuatannya lebih sulit dan memakan waktu lama. 

Kesan santai dalam menggarap "Malu Malu Mau" ini seperti tercermin selama dua hari, Senin 26 Desember dan 27 Desember yang lalu. Suting di warnai gelak tawa melihat ulah Kasino, Dno atau Paul yang pelawak dari kelompok Srimulat. Selama dua hari itu mereka mampu menghidupkan suasana sehingga tanpa terasa hari sudah jam lima petang, persis waktu yagn diberikan oleh pihak Super Star, karena malam hariny amereka harus operasi seperti sedia kala. 

Selama dua hari itu pula Kasino selalu duduk di belakang Organ sambil jari-jarinya menari diatas tuts. Sambil membawakan lagu-lagu nostalgia dan masa kini. Sekali-sekali Paul yang sudah berusia 63 tahun tapi tetap segar itu sempat juga melantunkan suaranya. Mantap dan mendayu dayu, mengundang tepukan hangat dari semua pemain dan figuran yang memadati Super Star. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989