WIDYANINGSIH PENGISI SUARA BU RADEN, JUGA MAIN FILM (Berita Lawas) Kalau seorang dubber beralih profesi apa jadinya. Bisakah dia tak mengandalkan vocalnya? Bagi pengisi suara Bu Raden "Si Unyil" ini kiranya jadi masalah juga. Bukan karena dia tak bisa berakting, tapi di atak bisa menguasai ilmu silat dengan baik. Untung suami WIdyaningsih seorang pendekar silat. Sehingga sang suami Atin Martino dapat melatihnya tiap hari, untuk dapat melakoni adegan film "Ajian Gunung Jati" (Nyi Mas Gandasari).
"Itu semua karena suami saya. Saya di paksa tak boleh cengeng . Dan tidak boleh menangis, katanya. Walau suaminya sendiri yang melatih, tapi Ningsih diperlakukan seperti orang lain. "Terkadang kaki saya ditendang sampai biru-biru. Pokoknya seperti latihan silat sungguhan. Saya tetap tak menangis, walau sakitnya tak ketulungan, ujar ibu berbintang Aquarius ini. Latihan keras macam itu juga membuat Ningsih dapat menguasai ilmu silat dengan baik. Dan ia merasa berhasil melakoni film "Pertarungan di Bukit Perawan".
Debutnya tampil di film nasional sudah lama di alakukan, pada tahun 1983 lewat Hati Yang Perawan, Saat Saat yang Indah dan Biar Damai Sepanjang Hari.
"Nah ternyata saya bisaa akting kan?. Orang film banyak yang tak tahu bahwa saya pnya simpanan juga," kata anak kedua dari 13 bersaudara dari ayah Cirebon dan Ibu Sukabumi ini tegas.
Kenapa mau main film, bukankah jadi dubber itu lebih enak? "Saya kesal juga bila keluar kota. Sebab saya lebih dikenal sebagai Bu Raden daripada diri saya sendiri. karena itu saya main film. Ingin membuktikan bahwa saya bukan Bu Raden sesungguhnya. Diluar rumah saya juga sering diteriaki Bu Raden, " katanya.
Toh begitu dunia dubber lebih mengenakkan."Sebab nggak pakai ke lokasi, kalau jadi dubber cuma di studio saja, " lanjutnya. Karena jadi dubber itulah dia bisa menghidupi keluarga dan anak-anaknya.
Widyaningsih tidak pernah bermimpi bisa sukses sebagau dubber. Awal pertama sekali ikut mengisi suara sandiwara RRI Pada tahun 1970 hanya menggantikan temannya yang tidak datang. Karena vocal baik dan penuh penghayatan dia kontan di puji rekan-rekanya. Lalu menyusul kemudian sandiwara-sandiwara radio "Meniti di Dahan Lapuk", "Yoyom"(Serial Betawi) dan lain-lainnya. ~MF 087/055/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov







