Wednesday, April 15, 2026

DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET

 


DARI SELA-SELA SUTING SAUR SEPUH IV, IMAM BERPERANG LAWAN GEROMBOLAN MONYET, (Kabar lawas), Memasuki bulan Februari 1991, suting film "Saur Sepuh IV" dengan episode "Titisan Darah Biru" berlangsung di hutan belantara di Pangandara, Jawa Barat. Suting yang berlangsung siang dan malam didaerah cagar alam tersebut sungguh mengasyikan, selain Kijang, Banteng serta berbagai jenis burung, hidup pula segerombolan monyet, jumlahnya ribuan ekor dan memang binatang ini paling dominan. 

Awalnya, bergaul dengan monyet-monyet itu cukup menyenangkan, mereka lucu-lucu dan bisa diajak bercanda. Tapi akibatnya monyet-monyet tersebut berani usil. Dasar monyet nakalnya pun timbul kendati para kru Saur Sepuh IV sudah ngajak "berdamai".

Udara yang cukup panas membuat para kru kegerahan, makin siang yang disiapkan ibu Ita dan bagian konsumsi sudah tersedia, tapi kru tetap menunggu aba-aba break dari sutradara Imam Tantowi. Begitu Imam teriak "break" para kru langsung menyerbu sayur asem yang masih ngebul itu. Sial, begitu penutup panci besar sayur asem dibuka, mengujur air dari atas pohon, posisinya tetpat masuk ke panci. Usut punya usut, si monyet badung yang kencing. Pantas, nggak ada hujan kok ada air ngucur dari atas, maka terpaksalah sayur asem satu panci besar di buang. Dasar Monyet. 

Ulah monyet-monyet hutan lindung memang sudah kelewatan, bangunan, pertapaan Brama jadi sasaran. Kerja keras art Delsy berantakan, atap-atap bangunan dan bahan karen hitam mungkin disangka codot. Akibatnya begitu hujan turun bangunan kebanjiran sebab atapnya bocor....!.

Imam Tantowi sang sutradara dan William Samara - Kameraman penasara dengan ulah si monyet yang brutal. Tiap hari ada saja yang diambil, bila tidak gelas, piring ya peralatan lain, bahkan seringkali mengecohkan para kru, piringnya yang 'dicuri' itu dilempar dari atas dan pecah. Untuk menakut-nakuti para monyet, mereka membuat ketapel alias jepretan terbuat dari karet gelang. Maka mulailah perang melawan gerombolan monyet. Memang buat menakut-nakuti monyet kecil mereka berhasil tapi giliran monyet besar..justru sebaliknya monyet yang sebesar manusia itu balik menyerang. William yang semula gagah berani, jadi sasaran. Dia di kejar-kejar William kalang kabut menyelamatkan diri. "Busyet, ngeri gua habis yang nyerang dedengkotnya," kata William dengan nafas masih tersengal-sengal. 

Partisipasi masyarakat Pangandaran dan sekitarnya untuk pembuatan film Saur Sepuh IV ini cukup besar. Hampir setiap hari mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan suting, tak peduli siang ataupun malam, panas terik ataupun hujan. Bukan cuma para pejalan kaki, tapi yang naik mobil omprengan atau berkendaraan motor cukup banyak. Bahkan dengan truk mereka datang dari Bandung, Ciamis dan Tasikmalaya. Untungnya pihak keamanan dari Koramil dan Polsek setempat cukup tanggap sehingga suting tetap berjalan lancar. 

Yang menarik masyarakat rupanya Istana yang dibangun si Badrun dan stafnya. Karang Tirta yang biasa-biasa saja diubah menjadi bangunan Keputren, ada tamannya, ada bangunan desa Madangkara serta tembok istana setinggi 6 meter, bahkan gapura raksasa setinggi 10 meter dengan panjang sekitar 50 meter. Persis ketika zaman baheula, ini rupanya yang menarik minat masyarakat. 

Maka, sekejap Karang Tirta berubah menjadi seperti pasar malam. Banyak pedagang bergelar, mulai dari tukang rokok, bakso, buah-buahan bahkan warung nasipun ada.

Puncak dari lubernya masyarakat terjadi tanggal 23 Maret yaitu ketika terjadi pertarungan antara Bentar dan Dewi Harnum melawan dua iblis kecil yang diperankanoleh Wartono dan Mamat. Dua iblis ini dimodifikasi oleh El Badrun dan Delsy Sjamsyumar menjadi makhluk siluman, wajahnya hijau dan merah menyeramkan. Ketika terjadi pertarungan tak sedikit orang yang menjerit ngeri. Yang paling parah lagi, ada bocah yang saking takutnya akhirnya sawan, pingsan dan terpaksa dibawa ke Puskesmas. 

~MF 127/94, Tahun VII, 11 - 24 Mei 1991

Sunday, April 12, 2026

DALANG DALANG SAUR SEPUH


DALANG DALANG SAUR SEPUH, Film memang kerja kolektif. Tidak seorangpun berhak mengklaim diri sebagai yang paling berperan dalam proses pembuatannya. Catatan kecil tentang 3 dalang saur sepuh ini sekedar memperlihatkan posisi mereka pada peta perfilman nasional. 

Imam Tantowi, Sutradara kelahiran Tegal, patut untuk disebut "dalang" film-film laga handal. Ketika mam Tantowi dipercaya PT Kanta Indah Film untuk mengangkat cerita fiktif berlatar belakang kerajaan Majapahit itu, capaian penontonnya diatas capaian penonton film Indonesia lain, Malah melebihi jumlah penonton film impor kala itu. 

Ia sutradara keras, Menumpas Teroris, Tujuh Manusia Harimau, Saur Sepuh juga Soerabaia 45, menempatkan film tersebut dalam daftar film nominasi festival film Indonesia. Malah Soerabaia 45 memberikan Piala Citra kedua dalam karier Towi. Sutradara ini juga dikenal sebagai penulis skenario. Si Badung, memberkan Piala CItra buatnya dalam kapasitas sebagai penulis skenario. 

Torro Margens, dalam Istana Atap Langit, lebih dulu dikenal sebagai pemain teater handal. Dia, pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik pada festival teater se DKI, Sanggar Prakarya yang dipimpinnya, berulangkali muncul sebagai grup terbaik dalam festival teater SLTA di Jakarta. 

Sebagai sutradara nama Torro diperhitungkan ketika berhasil memasuki film Pernikahan Berdarah dalam film pilihan di festival film Indonesia tahun 1988.

Di banding keduanya, Abdul Kadir terbilang sutradara "wajah baru" dalam pembuatan film laga. Toh begitu, film Pendekar Cabe Rawit yang ceritanya diilhami dari film Big Boss, masuk dalam 18 besar film pilihan Komite Seleksi FFI 1990. "Saya bangga, karena film gedebag gedebug yagn selama ini disepelekan, mulai dihargai, dinilai dan diperhitungkan, ini satu langkah yang menggembirakan. 

Abdul Kadir dipercaya PT. Global Sarana Media Nusantara yang bekerjasama dengan produsen obat PT. Kalbe Farma membuat Saur Sepuh ke panggung sinetron yang ditayangkan di TPI dengan bintang utama George Rudy sebagai Brama Kumbara. 

Jam terbangnya sebagai sutradara terbilang masih pendek namun sebagai astrada, Abdul Kadir terbilang lebih dari cukup. Duapuluh empat film dengan sutradara-sutradara beken lain, pernah diikuti mantan mahasiswa ASDRAFI Yogya tahun 1972 ini. "Saya sempat jenuh dan ingin meninggalkan dunia film, " katanya suatu ketika. ~MF 179/146/Th IX, 15 Mei - 18 Mei 1993

Selain tiga dalang diatas, ada satu lagi yang juga 'dalang' Saur Sepuh meski mengambil judul lain yaitu Singgasana Brama Kumbara. Dia adalah Denny HW yang di peraya oleh PT. Menara Gading Citra Perkasa yang menggarap Singgasana Brama Kumbara dengan bintang utama Anto Wijaya sebagai Brama Kumbara dan tayang di ANTEVE. 

TIRAI KASIH YANG TERKOYAK, SINETRON MULTI KARAKTER


 TIRAI KASIH YANG TERKOYAK, SINETRON MULTI KARAKTER, Tatkala selamatan suting sinetron Tirai Kasi Yang Terkoyak, produksi Starvision, Ismail Soebardjo sutradaranya, ditanya seorang wartawan apakah 'perkosaan telah menjadi suatu masalah universal sehingga layak diangkat sebagai tema sinetron?

Dalam jawabannya, Ismail Soebardjo memberi suatu ilustrasi. Sepuluh tahun lalu, kita tercengang dan terkesiap mendengar berita-berita perkosaan. Tapi saat ini, tak jarang kita membaca berita koran tentang seorang ayah memperkosa anak kandungnya. Di Bekasi kerap terjadi perkosaan beruntun. Kita juga kerap masih mempersoalkan sebutan 'anak haram' kepada seorang anak yang lahir dari wanita korban perkosaan.

"Sinetron ini justru menggugat melalui gambaran bagaimana nasib wanita korban perkosaan, anak yang lahir dari korban, dan apa latar belakang hal itu bisa terjadi, kata peraih Piala Citra Sutradara Terbaik FFI 1981 itu. 

Ungkapan Ismail bisa diartikan, gambaran itu akan membuat seseorang berpikir lebih jauh untuk melakukan tindak pemerkosaan. Korbannya bukan hanya wanita yang diperkosa tapi juga anak serta masa depan dan lingkngan yang kompleks. Untuk mengantarkan teman ini, dibutuhkan peran-peran dengan berbagai karakter. Skenario yagn ditulis oleh Eddy D Iskandar bersama Ismail Soebardjo ini cukup cerdik menghadirkan karakter-karakter yang menciptakan multikonflik. 

KEMALA (Bella Esperance), seorang pramugari yang siap menikah dengan HARRY (Ponco Buwono), diculik lalu di perkosa DION (Ryan Hidayat) yang dendam karena lamarannya di tolak. Akibat perkosaan itu, juga karena kematian ayahnya yang dibunuh kawan-kawan Dion, Kemala terganggu jiwanya. Perkawinan Harry dengan DIANA (Lia Waroka) bersamaan dengan kelahiran anak hasil perkosaan, membuat jiwa Kemala makin parah. Goncangan jiwanya tak terusik oleh kesetiaan dan pengabdian SATRIA kecil (Alam Putra) , anak yang ia lahirkan itu dalam merawatnya selama di RS jiwa. 

Beruntung ada dr. LEO (ZO Kotten) yang simpatik atas penderitaan Kemala meski ia sendiri harus sering berselisih dengan isterinya. Meski iunya tak menghendaki kelahirannya, Satria tak pernah putus asa merawat Kemala. Bagi Satria (yang setelah dewasa di perankan SULTAN DJORGHI), kebahagiaanya akan tergapai bila ibunya sembuh. 

Pengabdiannya tak pernah surut walau bertemu kembali dengan DEWI (Inneke Koesherawati) anak majikannya semasa kecil, yang kemudian menyatakan cintanya. 

Kendati demikian, ia sangat menghargai hak Dewi yang menolak dijodohkan dengan GERRY (Teguh Julianto), anak KEVIN JONES (Rudy Wowor). Kevin Jones ini tak lain adalah nama samaran Dion, yang buron setelah memperkosa Kemala, dan berarti ayah kandung Satria. 

Satu persoalan menarik ditawarkan sinetron ini, menyangkut perkembangan jiwa Satria dan Gerry yang sebenarnya saudara seayah. Satria yang sempat dipelihara oleh PAK RIDWAN pegawai RS Jiwa yang sangat toleran terhadap penderitaan orang lain, tumbuh menjadi pemuda yagn bertanggungjawab dan peduli terhadap derita orang lain meski dalam dirinya mengalir darah seorang ba jingan seperti Dion alias Kevin Jones. Berbeda dengan Gerry yang sejak kecil berada dalam asuhan ayahnya, lebih senang berfoya-foya dan malas bahkan arogan seperti bapaknya. Kedua karakter ini dipertemukan pada suatu adegan ketika Gerry hendak memperkosa TANTI (Mirelle Sulilatu) anak Harry dan Diana di sebuah hotel, muncul Satria yang bermaksud menolong Tanti. Tampaknya Ismail Soebardjo ingin memberi pesan, karakter dan pribadi seseorang lebih tergantung pada lingkungan ketimbang darah keturunan. 

Casting merupakan suatu hal patut dipujikan dari sinetron ini setidaknya dari sudut persamaan wajah. 

Ryan Hidayat yang memerankan Dion ddan Alam Putra yang memerankan Satria kecil, memiliki kesamaan raut wajah. Demikian juga Anggi yagn memerankan Dewi masa kecil dengan Inneke Koesherawati yang memerankan Dewi dimasa dewasa. Semula, Satria dewasa akan diperankan oleh Ryan Hidayat juga. Namun berhubung Ryan meninggal setelah suting beberapa episode, peran itu diberikan pada Sultan Djorghi. Memang ada garis kemiripan tapi perbedaannya pun sangat kentara pula. 

Namun , agaknya, Ismail Soebardjo memiliki beberapa alasan mengenai pemilihan Sultan Djorghi untuk menggantikan Ryan Hidayat. Sultan Djorghi adalah bintang baru, yang belum banyak dikenal sebagai pemain sinetron dan belum memberi image tertentu pada publik penonton. Sebelum madin dalam Tirai Kasih Yang Terkoyak, ia hanya main dalam sinetron diantaranya Keluargaku Sorgaku produksi Starvision ~MF 285/252/XIII/17-30 Mei 1997

Friday, April 10, 2026

DENNY HW, PENATA LAGA SEKALIGUS SUTRADARA


DENNY HW, PENATA LAGA SEKALIGUS SUTRADARA (Berita Lawas) dikutip dari MF. Berpostur gempal dengan suara ringan. Terkesan agak kalem di lokasi suting. Sabar setiap mengarahkan para bintang laga, walau agak sulit melihat senyumnya. Sutradara merangkap action director atau fighting director ini, Denny HW namanya. Mahir olahraga beladiri Kempo. Dia juga sempat mempelajari karate, silat dan Aikido. Dengan bekal itu, Denny tampil sebagai sutradara laga handal. Dia juga adalah lulusan LPKJ tahun 1980.

Lewat film Pertarungan Iblis Merah yang dibintangi Barry Prima, anak kelima dari tujuh bersaudara ini tampil utuh sebagai sutradara merangkap action director, setelah sebelumnya ia tampil sebagai astrada untuk beberapa judul film seperti film Gema Hati bernyanyi. 

Putra Pasangan Hadi Wijaya dengan Sumiati yang asli berdara Sunda ini selanjutnya aktif menggarap film-film laga klasik seperti Pertarungan Iblis Merah, Babad Tanah Leluhu II, Si Rawing I dan lain-lain. 

Sukses menggarap serial kolosal Singgasana Brama Kumbara yang di tayangkan di  AN-Teve , kemudian Denny HW kembali menunjukkan kepiawaiannya di jalur laga. Sinetron laga "Perjalanan"  yang dibintangi Ari Wibowo dan Tamara Blezynski menyusul kesuksesan beberapa sinetron laga sebelumnya seperti Jacklyn, Tiga Bidadari dan lain-lain. Bahkan sinetron produksi Multivision ini mulai jadi pusat pehatian mengingat kemampuan dan ketenaran nama Ari Wibowo sebagai bintang laga yagn tampan bersama kepopuleran sosok Tamara sebagai bintang iklan termahal. 

Denny HW sendiri mengaku merasa bangga bisa menghasilkan karya sebagus Perjalanan. "Itu juga berkat kerja duet antara saya dengan Arturo  yang menggarap unsur dramatiknya, "kata Denny. Sejak awal dia merasa yakin bahwa serial Perjalanan akan sukses. Karena itu pula Denny  hanya bisa menggarap serial Tutur Tinular 6 episode saja. Padahal dia ditawarkan 52 episode. "Bukan apa-apa, hanya terlanjur teken kontrak dengan Multivision. Nggak benar kalau saya memilih Perjalanan karena honor kontraknya lebih mahal, " ujar Denny. 

Putra Asli Sunda Kelahiran Bandung, 5 Mei 1955 yang menikah dengan Soevi, juga pernah menggarap serial kolosal Perawan Lembah Wilis. Saya akan terus menekuni profesi sebagai action director, karena posisi ini adalah hidup mati saya. Sedangkan posisi Sutradara penuh, kayaknya sudah tidak mampu lagi, karena saya mengidap penyakit lever. Saya harus memperhatikan waktu kerja, " tutur Denny , selengkapnya wawancara dengan Denny HW dapat di lihat di MF No. 308/274/XIV, 4-17 April 1998

Thursday, April 9, 2026

SI MANIS JEMBATAN ANCOL, PERGANTIAN PEMAIN DIAH PERMATASARI DENGAN POPPY FARIDA

 


SI MANIS JEMBATAN ANCOL, PERGANTIAN PEMAIN DIAH PERMATASARI DENGAN POPPY FARIDA (Kisah Lawas). Ketika Diah Permatasari teken kontrak, sudah pasti ia siap menjadi si Manis buat sinetron Si Manis Jembatan Ancol. Dalam kontrak, Diah harus berlakon sebanyak 6 episode. Atok Suharto yang dipercayakan Creativision Visual Arts Production begitu bersemangat untuk menyutradarai, karena ia yakin Diah benar pas melakoni tema horor buat tayangan RCTI. 

Begitu gebrakan pertama penayangan Si Manis Jembatan Ancol, kontan mendapat sambutan . Sebab sinetron seri yang diangkat dari legenda masyarakat Jakarta ini memiliki keunikan tersendiri. 

Seyogyanya penayangan si Manis pada akhir tahun 1992, karen apembuatannya baru 3 episode, pihak RCTI belum memberi jam siaran. Di akhir tahun 1992, Si Manis Jembatan Ancol opname kembali, tapi begitu suting akan dimulai, tiba-tiba Diah Permatasari membuat 'sentakan'. Ia tidak bersedia melanjutkan lakonnya sebagai Si Manis. Alasannya, akan bersekolah ke Amerika pada akhir tahun 1992. Atok Suharto langsung mencak-mencak. Bagaimana tidak, semua yang sudah direncanakan jadi berantakan. 

Seharusnya, Diah Permatasari harus berlakon dalam episode ke 4 (Rahasia Malam Pengantin), ke 5 (Terjerat Karma), dan ke 6 (Tragedi Di Balik Warisan). Suting sempat ditunda karena kasus Diah belum tuntas. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya Diah mau juga berlakon kembali dalam episode ke 4, itu pun hanya beberapa scene. 

"Untung dia masih mau, jadi kita bisa pasang akal. Sebelum Diah Permatasari keluar dari Si manis Jembatan Ancol kita sudah cari gantinya, " ujar Atok Suharto. Diah Permatasari digantikan oleh Poppy Farida, artis pendatang baru yagn tak kalah sensualnya.

"Caranya, sebelum digantikan kita buat scene dimana wajah Diah berubah menjadi wajahnya Poppy Farida. Secara total, Diah Permatasari hanya berlakon dalam tiga episode, sedangkan episode empat keatas Si Manis dilakoni oleh Poppy Farida. 

"Dalam kontraknya Diah bersedia main dalam enam episode, tapi karena katanya mau sekolah selama enam bulan di Amerika, ya kita tidak bisa memaksanya. Dan kami pun tidak mau ribut-ribut," kata Herry Topan selaku produser. 

Anehnya, pada medio Januari 1993 Diah masih berada di Jakarta. Tapi, biah Creativision Visual Arts Production tidak mempermasalahkannya. "Saya berangkat ke Amerika dalam beberapa hari ini," ujar Diah Permatasari. Sumber lain mengatakan, bahwa Diah sempat pula bersedia di potret oleh sebuah majalah remaja wanita. 

Sementara isyu lain mengatakan, Diah Permatasari bersedia kembali jadi Si Manis, tatkala melihat sukses sinetron komedi horor Si Manis Jembatan Ancol, ketika ditayangkan di layar RCTI, awal Januari 1993. "Tapi Si Manis sudah terlanjur diberikan kepada Poppy Farida, " kata sebuah sumber. 

Apa sesungguhnya yang kau inginkan Diah? Kalimat seperti itu setidaknya akan melintas di benak setiap pembaca berita tentang perilaku Diah Permatasari yang kurang simpatik. Tidak hanya terhadap kalangan pers, film, relasi tapi juga kawan-kawannya yang tahu persis bagaimana karakter Diah senenarnya. ~ selengkapnya dapat di baca di MF No. 171/138/Th.IV, 23 Jan - 5 Feb 1993 dengan judul artikel Diah Permatasari Kuntilanak Ancol yang Ingkar Janji

Wednesday, April 8, 2026

ARIE WIBOWO TAK MENYANGKA ILMU BELA DIRINYA BERMANFAAT


ARIE WIBOWO TAK MENYANGKA ILMU BELA DIRINYA BERMANFAAT (Kabar Lawas) Arie Wibowo, nama yang berkibar berkat lakonnya di drama eksyen Jacky dan kemudian di Perjalanan yang tayang di SCTV tiap Rabu malam tahun 1998, terlihat lincah menggerakan tubuhnya setiap kali ia melakukan adegan perkelahian. Sinetron eksyen ternyata makin mengukuhkan namanya sebagai aktor laga sukses setelah kembalinya ke drama seri lepas dari Jacky.

Sukses Ari di laga tentu tak lepas karena Ari punya dasar-dasar ilmu bela diri yang dimilikinya. Katanya, sejak tinggal di Jerman, ia sudah memperdalam ilmu karate bahkan Tae Kwon Donya sudah mencapai ban merah. 

"Dulu waktu masih SD memang suka latihan Karate untuk menyalurkan hobby dan sekaligus untuk jaga diri. Saya tidak nyangka kalau ilmu yang saya pelajari itu sekarang ada manfaatnya di dunia akting, khususnya yang bertema laga, " ujar adik kandung artis Ira Wibowo yang kini mendapat lawan main supermodel Tamara Blezynski. 

Walau sukses dengan adegan-adegan tarung dan tendangan, Ari  khusus untuk adegan salto perannya terpaksa digantikan orang lain. "Soalnya untuk melakukan salto saya memang nggak bisa, jadi terpaksa cari atlet yang bisa melakukan adegan itu, ' tutur Ari jujur. Selain tentu adegan tersebut beresiko cedera, yang bisa merusak skedul suting bila ada 'masalah' bila ia harus melakukannya sendiri. 

Ari juga mengaku, ketika melakukan adegan tarung, ia sering tergebug sungguhan, hingga bengkak atau lecet-lecet karena lawan mainnya sering memukul yang betul-betul susah dihindarinya, " itulah resiko main eksyen, " ujar Ari. 

Sebagai bintang eksyen Ari menyatakan, tuntutan utamanya adalah kondisi fisik yang selalu prima. Untuk itu ia selalu menjaga badannya dengan cara fitnes dan jogging, di sekitar rumahnya. 

Disinggung soal permainanya yang terlihat mesra dengan pengantin baru Tamara Blezynski, Ari mengaku tak kikuk melakukannya. "Yang saya lakukan biasa saja dan tidak berlebihan. Jadi, kenapa musti takut main dengan pengantin baru, ha ha ha, " kata ari. 

Baik resiko bengkak-bengkak , lecet maupun resiko senang , bermesraan dengan Tamara, diambil dan dilakukan oleh Ari, tentulah untuk menyenangkan peononton dan penggemarnya. ~MF 308/274/XIV, 4-17 April 1998

Tuesday, April 7, 2026

PENATA ARTISTIK S PARYA, MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA


 PENATA ARTISTIK S PARYA, MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA (Kabar Lawas). Sejak Perfilman dilanda lesu darah, sejak itu pula S Parya, penata artistik dan spesial effect ini, tak mendapatkan job. Kalaupun ada tantangannya tak berarti. Begitu ia dinyatakan terlibat sebagai penata artistik dalam sinetron miniseri Gema dari Kaki Gunung, semngatatnya bercahaya kembali. 

Sebagai orang Sunda, ia berbicara kultur Batak lewat visualisasi penata artistik. Katanya, tantangan ini belum ditemukanya dalam film komersial. Sinetron miniseri garapan Matnoor Tindaon total bicara soal kultur Batak. "Jadi kultur Batak bukan sebuah tempelan. Melainkan harus hidup seiring perjalanan ceritanya, " kata penata artistik yang telah berkutat di film sejak lama. 

"Terus terang saja, lewat sinetron kita banyak dihadapkan dengan tantangan berbagai budaya. Namun, saya sedikit sedih banyak sutradara selalu bervisual dengan gambar-gambar besar," ujarnya. Padahal katanya, penata artistik tidak akan berarti bila 80% visual dengan gambar-gambar besar. "Kalau semua gambar besar, kapan kesempatan penata artistik mengembangkan kemampuannya? Dan bukan itu saja cerita akan jadi semacam reportase. Maka, pada prinsipnya artistik film maupun sinetron sama saja"

S. Parya datang ke sinetron dengan konsep filmis. Sentuhan budaya karakter tokoh harus hadir dalam artistik. Ia juga mengakui banyak sinetron digarap tanpa memiliki karakter budaya yang jelas. Lebih ekstrimnya, kultur dihadirkan dengan eksen dan kostum semata. 

"Selalu saja penggarapan sinetron menganggap tv dengan frame kecil. Dan lewat sinetron Gema Dari Kaki Gunung cukup kerja keras. Sebelum membikin artistik, saya banyak bicara dengan orang Batak. Sebab apa? Kalau saya salah menempatkan artistik orang akan tertawa. Bekerja tanpa riset, " katanya. 

"Cukup Banyak sutradara membikin sinetron dengan menjual bintangnya, bukan sinetron secara keseluruhan, apakah itu artistik, gambar ataupun ceritanya, " paparnya. ~sumber : MF No. 179/146/Th IV 15-28 Mei 1993

*sebagai informasi, selain ikut bermain dalam beberapa film, S Parya juga penah meraih penghargaan pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 1981 , Piala PLKJ untuk tekhnik pembuatan special effect dalam kondisi teknologi film dalam film "Ratu Pantai Selatan"..

Monday, April 6, 2026

CORRY CONSTANTIA


CORRY CONSTANTIA, SALAH SATU PASANGAN FILM BARRY PRIMA. (Berita Lawas). Ada Conny Constantia biduanita berdarah Kawanua yang juga main film, ada pula Corry Constantia. Bukan saudara bukan sanak kendati nama mereka nyaris sama. Sedangkan wajahnya sepintas kilas rada mirip dengan si seksi Ranieta Manopo. 

Menilik namanya memang Corry juga berasal dari sana. "Saya boleh dibilang kombinasi Palembang-Manado. Ayah saya Naing Junaidi asli Palembang, sedangkan ibu Irna Constantin dari Manado ia sendiri dilahirkan di Palembang pada tanggal 17 April 1968, sebagai si bungsu dari empat bersaudara. 

"Sebenarnya nama lengkap saya Mis Corry Constantia, ujar pendatang baru dalam film silat erotis Selir Sriti ini. 

"Dibilang baru sekali juga kurang benar, " tukasnya. "Habis dulu saya sudah pernah juga ikutan main film. Antara lain dalam drama menyentuh Bila Saatnya Tiba arahan Eduart Pesta Sirait yang dibintangi Christine Hakim, Deddy Mizwar dan Ria Irawan, lalu film laga Preman arahan Torro Margens yang dibintangi oleh Barry Prima dan Ayu Azhari. 

"Saya main film itu waktu masih duduk di bangku kelas 3 SMEA PGRI, kira-kira pada tahun 1985," kenangnya. 

Sesudah lulus sekolah, pernah timbul hasrat untuk terus main film. Namun keburu bekerja memegang pembukuan sebuah Firma Taiwan yang buka cabang di Jakarta. Kesibukan disini ditambah pacarnya tak menghendakinya main film lagi, membuat ia menjaui dunia film. 

Ternyata kemesraan dengan sang pacar tak bermuara ke pelaminan sebagaimana diharapkan, kendati hubungan mereka terjalin sekitar lima tahun. Perpisahan yang menyakitkan membuat Corry patah hati. Maka iapun memutuskan untuk main film lagi. Kebetulan bertemu Ronny Burnama, produser pelaksana dari PT. Virgo Putra Film yang tengah menyiapkan pembuatan Selir 2 alias Selir Sriti dengan sutradara Tommy Burnama. 

"Ronny sudah mengenal saya, hingga langsung menawarkan peran sebagai ibu Selir Sriti yagn di perankan oleh Lela Anggraini, " tutur COrry. "Disini diselipkan adegan saya merayu Sang Prabu Sepuh dengan tujuan ingin membunuhnya. Wah pokoknya seru deh."

Corry memaklumi, ia harus merangkak dari bawah kembali untuk mencapai kepopuleran sebagai bintang. "Biar sekarang jadi pembantu dulu, tapi lambat laun saya ingin maju. Itu sebabnya saya bersedia bermain sebagai apa saja dalam film apapun, juga sinetron atau iklan." ~MF No. 182/149/Th IV. 26 Juni - 9 Juli 1993

Selain di film tersebut diatas , Corry Constantia juga bermain bersama dengan Barry Prima dalam film Pedang Ulung dan Jurus Dewa Kobra (Rawing 3)