Thursday, May 14, 2026

LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE


 LEBIH DEKAT DENGAN ELLY ERMAWATIE (berita lawas). Jika ingatan kita terbayang cerita sandiwara radio Saur Sepuh, maka kita akan mengenal seorang pendekar cewek, jago silat, tapi ia sangatmanja pada saudaranya terutama Brama. Dia adalah Mantili yang diperankan Elly Ermawatie. 

Keberadaan Elly, panggilan akrabnya, di kancah perfilman Indonesia bermula dari film laga,setelah Imam Tantowi bersama PT Kanta Indah Film mencoba mengangkat cerita ini ke layar lebar. Diakui, ketika terlibat sebagai pemain yang memerankan tokoh Mantili, Elly berhasil menyisihkan beberapa calon yang akan memerankan tokoh tersebut. Elly pun mendalami atas bimbingan penulis cerita Niki Kosasih. Elly pun selalu bertanya kepada Imam Tantowi. Sebab waktu itu ia awam sekali dengan dunia film. Ia sempat terkejut ketika dijelaskan honornya, yang ternyata jauh lebih kecil dari honor main sandiwara radio. Karena ia ingin mencoba , ia terima tawaran itu. Dan akhirnya lewat Saur Sepuh I Elly menjadi ketagihan main film. 

Secara beruntun ia dikontrak PT. Kanta Indah Film untuk serial Saur Sepuh II dan III. Kini wanita kelahiran Solo ini menjadi milik masyarakat sebagai tokoh Mantili yang digemari dari kota sampai pelosok pedesaan. 

Namun demikian Elly tidak hanya menekuni karir di film. Ia juga punya usaha sebagai kontraktor. Usaha itu didirikan sebelum terlibat di film. Dalam film Tutur Tinular arahan Nurhadie Irawan, Elly memegang jabatan produser pelaksana di samping tetap sebagai pemain. 

Agaknya ia merasa cocok dengan jalur yang ditempuh. Mendapat pengalaman baru, mengenai seluk beluk film, mulai deri menentukan pemain, pengatur jadwal kegiatan, sampai management keuangan. Bukan semata rakus dalam profesi dan kedudukan tapi Elly ingin menjadi insan film seutuhnya. Diakui, semula ia mengalami kerepotan antara menentukan dirinya dengan pemain lain, Itu ia sadari karena masih banyak kekurangan. 

"Kalau tidak gigih kemungkinan akan mengalami kegagalan, sebab semua itu membutuhkan kesabaran dan  keuletan, " kata Elly yang kini juga terlibat dalam film Lima Harimau Nusantara arahan Pietrajaya Burnama produksi PT. Galunggung Putra Perkasa Film. 

Sebagai artis film laga yagn sudah membintangi 7 film banyak pengalaman didapat. Semenjak terlibat film Elly mulai menekuni ilmu bela diri silat sebab itu sangat menentukan dirinya sebagai pemain film laga. 

Saya nggak pernah mimpi jadi artis film. Kesempatan itu datang secara tiba-tiba. Kalau sekarang saya jadi artis, buat saya biasa-biasa saja. Nggak berbeda jauh saat saya mengisi sandiwara radio, " tandas Elly yang juga terjun sebagai penyanyi. 

Usahanya belakangan ini ckup lancar dengan memproduksi rekaman casette sandiwara cerita anak-anak maupun cerita legenda. Karena Elly juga sibuk suting film, maka untuk sementara ini memakai tenaga ari luar. Setiap kali produksi, Elly juga melihat pasaran. Sebagai wanita yang ingin sukses dalam meniti karir, Elly tak henti-hentinya cari terobosan baru guna meningkatkan prestasi. 

Ia juga menekuni dunia tarik suara yang sudah merampungkan 3 volume. Kini Elly juga bikin lagu pop Jawa yang dinyanyikan sendiri. Dari lagu ini ia mencoba memproduksi sendiri. Tapi untuk sementara ia tidak memberi keterangan mengenai berapa lagu yang akan direkam. Alasannya masih mencari maskot lagu tersebut. Dikatakan, dalam persiapan rekaman dilakukan dengan cermat dan penuh kesabaran. 

"Ini volume saya yagn keempat. Produksi sendiri. Coba-coba kan boleh siapa tahu Tuhan memberi jalan dan sukse, " ujar wanita kelahiran 19 Desember , tahunnya dirahasiakan. 

Hasil pasangan Siswoyo dengan Sulisdiyah (Solo) memang cukup sibuk. Setelah menyelesaikanjuga  dubbing Lima Harimau Nusantara, Elly mendapat tawaran film Perjanjian Malam Keramat produksi PT. Soraya Intercine Film berperan seabgai gadis muslim. 

Menurut Pengakuannya, selama terlibat di film, baru kali ini mendapat peran yang sangat menantang. Terlebih dengan kepercayaan yang dianutnya selama ini. Sebagai pemain, harus mampu memerankan berbagai karakter yang sedang divisualkan. 

Untuk memerankan tokoh dalam film ini, ia sering mengamati kebiasaan yang dilakukan gadis-gadis muslim, mulai dari busana hingga kehidupan sehari-hari. Dalam film ini Elly punya ilmu bela diri dan ilmu kebatinan yang apat mengusir roh gentayangan. Walau demikian, kepercayaannya tidak mudah dipengaruhi, Ia menganggap ini merupakan pengalaman yang baru selama hidupnya. 

Menurut pengakuannya, selama peran yang diberikan itu baik dan tidak menyimpang dari keinginannya, ia akan memerankannya. Sebagai pemain harus bisa membedakan antara masalah pribadi dengan kepentingan umum. Ini merupakan prinsipnya selama berkiprah diperfilman Indonesia. Di tambahkan, selama suting Perjanjian Malam Keramat, Elly juga selalu bertanya kepada kru yang mampu diajak bicara tentang perannya. Untung semua menyadari bahwa yang dilakukan Elly adalah kepentingan bersama. 

"Awalnya saya terima tawaran ini memang ceritanya bik. Saya ingin mencoba memerankan tokoh yang lain agar permainan bervariasi. "Selama ini banyak tawaran film laga. Karena saya dikenal sebagai artis film laga. Sebetulnya tidak demikian. Seandainya ada tawaran film drama keluarga atau komedi saya bersedia", kata Elly penuh harap. 

Ketika terlibat dalam Saur Sepuh II, ia pernah mendapat tawaran film Dewi Cipluk semua Sayang kamu. karena sudah kontrak dengan Saur Sepuh II, ia tidak menerima tawaran tersebut. 

"Sekarang ini saya konsentrasi bisnis dan film sebab keduanya akan menentukan masa depan, " imbuhnya. ~dikutip dari MF 129/96 tahun VI, 8 - 21 Juni 1991

SUROMENGGOLO

 


SUROMENGGOLO, (berita lawas). PT. Simbar Inan Film bekerjasama dengan Pemda jawa Timur menggarap sebuah film kolosal yang diangkat dari cerita legenda sejarah dengan melibatkan ratusan pendukung dan menelan biaya lebih kurang satu milyar. 

Bisa kita lihat dari pemain intinya saja ada 26 orang, belum peran tambahan atau figuran yang bakal melibatkan ratusan warga Jawa Timur  dan enam puluh lebih karyawan yang akan diboyong ke lokasi didaerah Ponorogo. Ponorogo adalah sumber cerita yang otentik dari kisah keperwiraan seorangWarok Suromenggolo. 

Kendatipun cerita ini sudah sangat tua, yaitu pada abad ke XV pada masa menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit, namun hingga sekarang masih cukup populer. Kesaktian Warok Suromenggolo selain fakta sejarah juga sudah menjadi kisah yang legendaris sifatnya bagi masyarakat jawa. Panggung panggung ketoprak masih sering melakonkan cerita ini yang biasanya diambbil hanya cuplikan-cuplikan saja, seperto lakon yang cukup populer "SUMINTEN EDAN".

Maka dalam film ini hampir-hampir diceritakan secara lengkap kisa petualangan seorang Warok, nyaris berupa "Banjaran" Suromenggolo. Sehingga film ini mau tak mau harus menyeret banyak pihak untuk berpartisipasi. Seperti orang-orang ahli kebudayaan Jawa Timur. Orang-orang yang masih merupakan pewaris dari sebuah institusi kuno seperti bekel atau lurah, pemuka adat, para pemain reog bahkan sampai Juru Kunci makam para Warok. Keterlibatan mereka adalah untuk menghindari kejanggalan dan penggarapan film yang berlatar belakang sejarah ini sekalipun sudah dikemasnya menjadi film hiburan yang full action. 

Spekulasi yang cukup berani dari PT. Simbar Intan Film, selain menelan dana yang besar juga membutuhkan persiapan yang memakan waktu panjang. Sementara pasar yang diharapkan  hanya daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah saja. 

Pada tanggal 17 Februari 1991 telah diadakan upacara selamatan pembukaan suting Suromenggolo di TMII anjungan Jawa Timur dengan puluhan pemain yang berpakaian lengkap. Diantaranya Benny G Rahardja pemeran tokoh Suromenggolo Gitty Srinita pemeran Suminten, JOhny Sitepu sebagai Suro Handoko, Fendy Pradana sebagai Raden Subroto, Yan Bastian sebagai Batara Katong dan masih bayak lagi yang lain. Lakon ini di dalangi oleh kepala suku Dasri Yacob. 

~Sumber MF 122/90 Tahun VII, 2 - 15 Maret 1991

Wednesday, May 13, 2026

"GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU


 "GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU (Berita Lawas). Tidak hanya Dewa Gede Badung Sumartha, anak 'kampung' yang sempat di seret ke layar putih, yang akhirnya menghasilkan karya film Nyoman dan Merah Putih, arahan Judi Subroto, Slamet Rahardjo pun akhirnya tertarik untuk mengangkat anak kampung, yang berpenampilan polos, untuk diuji keampuhannya berakting, melawan orang kota yang kesehariannya sudah bergelimang dalam fasilitas yang 'wah'.

Adalah Sunaryo, anak seorang petani desa Sambi Rejo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ketika lulus Sekolah Dasar, bocah itu lantas tak melanjutkan sekolah. Maklum, orang tua hanya seorang petani. Tentu saja , ia tak tega melihat orangtuanya harus juga menanggung biaya adik-adiknya yang berjumlah 6 orang. Ia punya tekad bekerja untuk meringankan beban orang tuanya. 

Bekerjalah Sunaryo di sebuah hotel di Blitar, entah sebagai apa. "Waktu itu pak Rudi nginep di hotel . Saya terus ditanya, Mau ke Jakarta nggak? saya jawab saja mau. Lalu saya di potret. Seminggu kemudian temannya Pak Slamet (maksudnya Slamet Rahardjo) membawa saya ke Jakarta. Saya tidak tahu kalau mau diajak main film. Dari pulang kerja, saya langsung diajak berangkat ke Jakarta. Nggak boleh pulang dulu ambil pakaian, apalagi bilang sama orang tua, lha saya kepingin jug ake Jakarta sih, saya mau saja, " ujar Sunaryo yang memerankan tokoh Gempol dalam film Langitku Rumahku arahan sutradara Slamet Rahardjo. 

"Saya baru ketemu Pak Slamet itu di kantornya. Ada teman saya yang bilang. Kalau kamu ke Jakarta ketemu Pak Slamet, kamu bisa main film. Eh, saya ditanyai betul sama Pak Slamet. Mau nggak kamu main film. Ya, saya jawab mau. Padahal sebelum ke Jakarta saya itu belum tahu lho yang namanya kamera. Belum tahu lampu yang terang lima kilo. Saya belum tahu itu. Tahu-tahu, wah panas banget, " cerita Gempol Sunaryo mengenang. 

Kepergian Sunaryo ke Jakarta memang mengejutkan orang tuanya. Karena setelah kepergian Sunaryo ke Jakarta, orangtuanya baru menerima surat. Meskipun sempat bingung, ayah si Gempol itu akhirnya kagum juga pada anaknya, yang kini jadi bintang film. 

Sesampai di Jakarta, Sunaryo bukan berarti tak sekolah, Ia kini sudah masuk SMP Muhammadiyah di Jakarta, kelas satu, beberapa hari, ia tinggal di lingkungan para pemulung, untuk memperkuat akting yang diperaninya. Maka iapun mendapat dorongan dan bimbingan dari orang-orang Eka Praya film. Meskipun hidup  dilingkungan orang film, bagi Sunaryo main film adalah hal yang sangat baru Bukan pula tak berarti ia tak mengalami kesulitan dalam berakting. "Ya ada yang susah, ada yang nggak. Kalu adegannya panjang, saya suka lupa,  " Jelas Sunaryo menjawab tentang aktingnya. 

Sunaryo memang polos. Seperti kepolosannya peran yang dimainkan sebagai Gempol. Soerang anak pemulung yang di tuduh mencuri, yang akhirnya justru menemukan seorang sahabat, yang baik tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sunaryo kini terus tinggal di Jakarta untuk meneruskan sekolahnya. "Saya senagn main film. Sekolah mau, main film juga mau. Insya Allah sekaran gsaya sudah sampai Jakarta, " sela Sunaryo menimpali. 

Sunaryo sekaran anak Jakarta. Bermain dengan anak-anak sebayanya, dan menekuni lagi dunia sekolah yang dia impikan. Ia sudah bisa mengirim uang ke orang tuanya di kampung, hasil jerih payahnya bermain film. Gempol Sunaryo kini telah membetulkan kursinya, memperbaiki nasibnya. 

TIO PAKUSADEWO

 


TIO PAKUSADEWO, Cita Cita Biar Bisa di Cium Cewek Cakep (berita lawas). "Bilur Bilur Penyesalan" hasil penyutradaraan Nasri Cheppy, siap beredar. Film cerita tentang percintaan remaja ini, di dukung oleh Iyut Bing Slamet, Rano Karno, Deddy Mizwar, Sophia Latjuba juga Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Erick saudara kembar Rano Karno. 

Tio, memang bintang baru di dunia perfilman. Ia  bersyukur berhasil menyabet peran yang cukup besar di Bilur Bilur Penyesalan ini. Padahal jauh sebelumnya, cowok tinggi dengan bentuk tubuh atletis ini pernah beberapa kali ikutan main film, diantaranya Kulihat Cinta Dimatanya dan Kabut Perkawinan, hanya saja selalu kebagian peran figuran, cetusnya. 

"Cita-cita saya sewaktu kecil memang ingin main film, biar bisa diciumin cewek cakep," kenangnya sembari tertawa. 

Terjun ke dunia film, sebagai figuran. "Karena saya punya prinsip, " begitu katanya. Jadi figuran katanya sekedar ingin tahu dunia perfilman. 

Menjadi foto model dan bintang iklan di beberapa barang, cowok kelahiran 2 September ini bercerita, begitu lulus sekolah kebetulan kenalan dengan perancang pakaian Thomas Sigar. 

Tio menyabet juara II Lomba Sejuta Wajah yang dibuat sebuah majalah remaja di tahun 1987. Dari hasil tabungannya sebagai model, yang sebagian selalu diamalkannya, juga digunakannya buat berangkat ke Amerika. "Tujuan semula ke Amerika ingin meneruskan sekolah. Bidang yagn bakal saya ambil berkaitan dengan dunia film. Tetapi baru dua bulan saya disana lalu saya dapat khabar dari orangtua di Jakarta. Saya harus pulang karena saya diminta jadi bintang film iklan yang sutingnya di Hongkong. Wuah tentu saja kesempatan tidak saya sia-siakan, " begitu Tio berkisah. 

Putra ke 3 dari 4 bersaudara ini, punya hobi sebagai penulis lepas di sebuah majalah remaja. "Saya tidak tahu, apakah nulis itu satu bakat yang saya punya atau bukan. Tetapi yang pasti sejak duduk di bangku SMA, saya sudah nulis meskipun sebatas dilingkungan sekolah saja. 

Beberapa bidang profesi memang dijajalnya. Belakangan ini Tio yang hidupnya pernah terkenal bandel, mulai menekuni teater, lewat teater Sendiri. 

Bukannya saya rakus karena banyak bidang yang saya kerjakan, tetapi saya memang ingin menjajalnya, " ucapnya. ~mf 51/19/Tahun ke IV, 11 - 24 Juni 1988

Monday, May 11, 2026

S.Y.S NS,

 


S.Y.S  NS, (Berita Lawas) Bisa diamati cowok kelahiran Semarang, 18 Juli 1956 ini paling suka bersibuk diri setiap harinya. Sys seorang penyiar radio juga komandan grup lawak Sersan Prambors. Selain sibuk ngurus-ngurus pagelaran, Sys juga bintang film. Sys NS pun mengakui, jadwal kegiatan film yang mengontraknya harus mengikuti jadwal kegiatannya. Itu memang prinsipnya. 

"Ya, dulu pernah ketika ikut film "Damai Kami Sepanjang Hari", yang di sutradarai Chairul Umam, yang mengambil suting di Yogyakarta, saya sudah ngebela-belain bolak balik Jogya-Jakarta, satu hari harus break mendadak lantaran satu pemainnya, Gina Adriana harus main di film Wim Umboh. Terus saya tanya, tuh bintang siapa duluan yang ngontrak. Setelah tahu permasalahannya dan saya ada di pihak yang benar. Hari itu juga, baru datang dari Jakarta saya tinggalin dan kembali ke Jakarta. Waktu film "Terang Bulang Di Tengah Hari, " pun waktu itu bentrok dengan film yang di produksi TVRI "Pondokan". Untung jarak lokasinya tidak begitu jauh, Yang satu di Puncak dan yang lain di Jakarta. Udah gitu kita kan di Indonesia, sesuatu bisa selesai dengan musyawarah. Saya pun damai, pihak TVRI lebih baik, " kata Sys NS yang memerankan Sonny  sebagai suami Sora (Zoraya Perucha) dalam film "Terang Bulan di Tengah Hari" ini. 

Sys NS, (Nama sebenarnya) dulu punya cita-cita jadi sutradara. Untuk itu ia sempat mempelajari dulu ilmu itu di LPKJ. Sekarang Institute Kesenian Jakarta. Anak ke 3 dari 11 bersaudara ini mengawali karernya lewat film "Kecupan Pertama(1070an) lalu film-film lainnya seperti "Kabut Sutra Ungu", "Seindah Rembulan", "Anunya Kamu" dan "Sama-sama Enak". Dan sampai kini (1988) Sys NS bersama Sersan Prambors masih dikontrak untuk 3 film lagi dari PT Bola Dunia Film. 

"Sebenarnya saya tuh sudah malas untuk main film. Terkecuali film itu ceritanya hebat, digarap oleh orang-orang hebat, sutradaranya hebat. Ya nggak apa-apa filmnya jelek juga asal duitnya hebat saja he..he..he. Seperti tahuin ini sebenarnya kontrak dari Bola Dunia Film tahun ini bisa hangus lho?. Habis tiap disodori skenario ceritanya nggak berkenan di hati, jadi saya tolak, " katanya. 

Kok mau main film bersama Zoraya Perucha?

"Itu lain, dulu memang almarhum Sumanjaya sudah mempersiapkan cerita itu buat saya dan Perucha itu. Sumanjaya sendiri adalah sahabat saya sekaligus bapak saya. Belum lagi sutradara yang menangani  dan semua kru film itu teman-teman dekat saya. Jadi sayapun suka untuk pegang peranan di film itu, " katanya. 

Katanya, dulu kepengin jadi sutradara, kok malas bergelut di dunia film lagi?

"Wah, payah. Sekarang dunia film banyak ditangani oleh senior-senior, mungkin 'hepengnya' takut kerebut. Coba saja birokrasi film bertele-tele, jadi sutradara harus lewat jadi asisten sutradara dulu lima kali, terus belum tentu bisa jadi sutradara langsung. Padahal kan yang nentuin tuh film bukan mereka, tapi penonton. Jadi sutradara langsung, asal yahut kan masyarakan bisa menilai," kata pelawak muda ini sambil membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Lagi ngapain tuh? 

"Biasa, mau nemenin Mick Jagger," kata Sys, yang memang lagi sibuk ngurus kedatangan vokalis dari The Rolling Stones yagn akan konser di Jakarta akhir Oktober (1988). ~sumber MF 61/29 tahun V, 20 Oktober - 11 November 1988

Sys NS meninggal pada 23 Januari 2018

Friday, May 8, 2026

NICKY ASTRIA AKHIRNYA TERJUN KE FILM


 NICKY ASTRIA AKHIRNYA TERJUN KE FILM (berita lawas). Nicky Astria, rocker cantik dari Bandung akhirnya tak kuasa menolak tawaran main film. Atas bujukan Eddy D Iskandar yang datang bersama Tomi Indra produser "Tiga Sinar Mutiara Film" akhirnya Nicky bersedia menandatangani kontrak main dalam film "Biarkan Aku Cemburu". Kenapa sampai Nicky akhirnya tergrak mau main film, mungkin karena pendekatan yang dilalukan oleh Eddy D Iskandar sang penulis cerita  dan skenarionya. Padahal selama ini sudah banyak juga tawaran main tapi semuanya ditolak oleh Nicky. 

Peran yang dipercayakanoleh Christ Helweldery yang bertindak sebagai sutradara "Biarkan AKu Cemburu" sebagai Komala, mahasiswi sinematografi. Usianya baru 19 tahun, dalam penampilan sehari-hari Komala nampak lincah, agresif, dinamis dan panjang akal. 

Sewaktu akan mendandatangani kontrak, Nicky wanti-wanti kepada produser dan sutradaranya agar dia tidak melakukan adegan ciuman apalagi buka-bukaan. Pokoknya Nicky tidak mau sampai ada imej yang negatif dan bisa merusak citra dia sebagai penyanyi kondang. Berapa honor Nicky? "Wah sorry deh, itu mah rahasia, " kata penyanyi rock yang bulan September (1988) lalu menerima penghargaan BASF Award berkat alunan nadanya dalam album "Gersang".

Penghargaan itu ditandai pula dengan melancong cuma-cuma ke negeri kanguru selama 15 hari.

Tiga tahun sebelum Nicky juga memperoleh penghargaan yang sama berkat album "Jarum Neraka" kemudian sempat melancong ke Jerman sekaligus melongok pabrik BASF. Tahun kemarin dia sempat mengunjungi beberapa negara Eropa antara lain Paris, Swiss, Jerman dan lain-lain. Juga hadiah dari BASF karena album "Tangan Tangan Setan" meledak di pasaran. 

Sukses yang di peroleh Nicky dalam bidang vokal ini terutama berkat dorongan dari pihak keluarganya sendiri, disamping pihak yang tak bisa disebutkan satu persatu. Diantara sekian banyak yang ikut memoles Nicky terdapat tangan dingin Denny Sabri dan kakaknya sendiri Boeky Wikagoe. Juga sukaety Hidayat dan Pandji Tisna Sendjaja. 

Mojang geulis ini sudah memperlihatkan bakatnya sejak usia kanak-kanak. Pada 1971 dia sudah keluar sebagai juara I festival Penyanyi Cilik se Kodya Bandung. Selama empat tahun sejak 1972 Nicky hijrah ke Malaysia ikut kedua orangtuanya. Disana dia sempat diasah vokal oleh Suhaemi Nasution, orang Indonesia yang berdinas di sana. Pulang ke tanah air Nicky yang tomboy ini sempat mencetak berbagai prestasi bidang tarik suara. Dia seperti langganan menerima penghargaan atas berbagai juara yagn sempat disandangnya pada Festival Lagu Tingkat Jawa Barat.  ~MF 61/29 Tahun V 29 Okt - 11 Nov 1988

HERRY TOPAN INTERCINE & PRODUCTION, MEMBIDIK YANG BETAH DI DEPAN TV


 HERRY TOPAN INTERCINE & PRODUCTION, MEMBIDIK YANG BETAH DI DEPAN TV, (berita lawas). Setelah lama menghilang, tiba-tiba Herry Topan muncul dengan membawa ledakan dasyat untuk broadcast swasta RCTI. Menggaet mitra kerja pelawak kondang, Kasino melempar sinetron 'sensasional' Si Manis Jembatan Ancol, sinetron inilah yang memberi keyakinan para pengasuh program lokal stasiun televisi, bahwa sinetron anak negeri juga bisa digemari masyarakat, yang waktu itu TV swasta kita tengah di jejali sinetron dan film produk Amerika. 

Sejak sukses dengan sinetron yang dibintangi dan sekaligus mempopulerkan bintang-bintangnya, Diah Permatasari dan Ozy Syahputra, nama Herry Topan ikut populer. RCTI pun menjadi ketagihan dengan produk-produk yang dihasilkan Herry Topan Intercine & Production (HTI). Padahal ketika produk pertama HTI sebelumnya, yang berbentuk Variety Show dengan mata acara Bugar Bersama Dr. Sadoso dan Sinetron Sebening Air Matanya, RCTI setengah hati dalam menayangkannya. 

Lazimnya perusahaan patungan yang meraih sukses, ujung-ujungnya pasti bertikai dan bubar. Begitupun dengan Herry Topan dan Kasino. Keduanya jalan sendiri-sendiri dan Herry Topan kemudian mengibarkan bendera Herry Topan Inercine. 

"Begitu sukses denan Si Manis, RCTI makin memberi kesempatan kami untuk berkarya berikutnya. Syukurlah produk kami berikutnya yang berjudul Si Buta Dari Gua Hantu dan Wiro Sableng mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, "  papar Herry Topan ketika diwawancara oleh wartawan MF di mobil terbarunya, Blazer warna biru metalik menuju ke lokasi suting sinetron Wiro Sableng di Purwakarta, Jawa Barat. 

Walau tidak sesukses Si Manis Jembatan Ancol, Si Buta Dari Gua Hantu karya besar Ganes TH mendapat tempat dihati masyarakat pecinta action klasik. Sebenarnya, menurut sumber MF, Si Buta secara bisnis rugi dan membuat RCTI kebakaran jenggot, karena mulanya RCTI berkeyakinan kalau Si Buta akan meraup iklan banyak dan meraih rating tinggi. Tapi ternyata pemasang iklan pada enggan pamer iklan produk-produknya disitu. 

Jeblok di Si Buta, tidak membuat RCTI jera. Kali ini cerita karya besar Bastian Tito, Wiro Sableng yang bukunya hingga kini masih laris, lagi-lagi jadi andalan RCTI untuk tayangan Minggu Siang. Kali ini RCTI cukup berhasil. Wiro berhasil meraup iklan dan penonton serta melambungkan nama aktor pendatang , Ken Ken sebagai pemeran Wiro Sableng. 

Entah siapa yang harus disalahkan. Tapi yang jelas suksesnya Wiro Sableng memancing kekisruhan untuk kedua kalinya di tubuh Herry Topan Intercine. Kali ini tidak lagi sesama rekan bisnisnya tapi dengan ken Ken sebagai pemeran Wiro Sableng. Pertikaian diantara produser dan pemain utama ini tidak menghalangi kerja Herry Topan bersama kru. Lagi-lagi Herry berprinsip the show must go on. Apapun yang terjadi produksi harus jalan terus. Karenanya, walaupun prtikaian antara dirinya dan Ken Ken terus berlangsung tapi produksi sinetron Wiro Sableng harus jalan terus. Maka, jalan keluarnya mengganti Ken Ken dengan pemain baru. Jadi tak heran bila Wiro Sableng ganti wajah baru mulai episode 53. 

Judul yang sedang dikerjakan oleh HTI yakni Wiro Sableng dan Misteri Penunggu Makam. Rencananya akan ditayangkan di Indosiar.  Apa sih resep HTI sehingga broadcast tetap percaya dengan produksinya? "Gampang saja, dalam melihat pasar, saya mencoba membidik orang yang punya kesempatan nonton TV. Lalu pertanyaannya  Siapa sih punya banyak waktu untuk menonton TV? Menurut hemat saya wania dan anak-anak. Kalau sudah begitu, kita tinggal mencari produksi apa yang paling disukai wanita dan anak-anak, " papar Herry Topan. 

Kata Herry lagi, tontonan yang disukai wanita dan anak-anak adalah cerita action dan misteri. Dicontohkannya, kenapa Si Buta bisa meraih sukses, karena jam tayangnya siang, dimana anak-anak ada di rumah dan ibu-ibu selesai masak. Begitupun dengan Si Manis Jembatan Ancol dan Misteri Delima dan cerita misteri lain.

Pada dasarnya cewek itu takut melihat film atau sinetron horor, tapi anehnya mereka paling suka kalau nonton sinetron horor. Kerenanya, dalam berproduksi saya mencoba memilik market anak-anak dan wanita, " ujarnya. 

Agar produksinya tidak keteter dan terkejar jam tayang, seperti yagn banyak dialami ph-ph larin , maka Herry topan mencoba melengkapi peralatan pendukungnya seperti Kamera 5 buah, editing 2 set, 5 diesel, dink dolly, lighting lengkap untuk 5 produksi, komputer grafis dan animasi. 

Untuk biaya produksi Herry tidak bisa memastikannya. Tapi katanya antara 50-60juta. Tapi untuk sinetron action seperti Wiro Sableng dan Si Buta bisa lebih dari itu. Tergantung situasinya lah, katanya. ~MF284/250/XIII/3-16 Mei 1997

Thursday, May 7, 2026

BUKAN PEREMPUAN BIASA, SINETRON PERDANA CHRISTINE HAKIM


BUKAN PEREMPUAN BIASA, SINETRON PERDANA CHRISTINE HAKIM, (Kisah Lawas). Christine Hakim main sinetron, ini sudah jadi pemberitaan. Raam Punjabi, produser Multivision Plus, berhasil menarik aktris nomor satu dalam perfilman nasional itu, untuk memperkuat kubunya. Adalah Jajang C Noer yang berhasil membujuk Christine Hakim untuk bermain dalam karya penyutradaraannya yang pertama ini. 

BUKAN PEREMPUAN BIASA memang menjanjikan sebagai miniseri (terdiri dari 10 episode) yang berbobot lebih dari produksi Multi sebelumnya. Bukan cuma karena pemeran utamanya Christine dan suradaranya Jajang, tapi juga karena cerita-skenarionya merupaka warisan dari almarhum Arifin C Noer, yang bagian klimaksnya ditambal sulam oleh Arswendo Atmowiloto (karena skenario asli tulisan Arifin baru mencapai tujuh episode). Disamping itu sinetron inipun di dukung oleh pemain yang sudah tidak asing lagi seperti : Desy Ratnasari, Donny Damara, El Manik, Pangki Suwito, Remy Silado, Eeng Saptahadi, Anwar Fuady, Arswendi Nasution, serta bintang muda Ari Sihasale, Hans Wanaghi dan Marini Zumarnis. 

Sutingnya hampir keseluruhannya berlokasi di desa diluar kota Solo, Jawa Tengah. Editor Karsono Hadi menyuntingnya, sinetron ini ditayangkan di RCTI pada medio bulan Mei 1997.

Ceritanya sebagai berikut. 

Menul (Christine Hakim) perempuan desa yang menolak kehendak ayahnya untuk menikah dengan seorang lelaki tua, minggat dari rumahnya. Malang, ia diperkosa oleh lima pemuda mabuk. Akibatnya berkepanjangan, karena ia hamil tanpa jelas siapa yang menghamilinya. 

Dua puluh lima tahun kemudian, Menul telah menjadi perempuan paro baya yang berprofesi sebagai tukang pijat tradisional. Ia cuma hidup bersama putrinya, Sri (Desy Ratnasari) yang baru menamatkan kuliahnya di Fakultas Hukum. 

Mendadak Menul yang tinggal dirumah sederhana dipinggiran kota Solo dikirimi kulkas dan teve baru. Menul menolak menerimanya karena tak pernah merasa memesan. Sebaliknya si pengirim, usahawan sukses Pak Bachtiar (El Manik) tak habis mengerti mengapa maksud baiknya ditolak. 

Bachtiar sendiri menemui Menul. Bahkan secara mengejutkan mengajukan lamaran. Tapi menul tak menanggapi , karena kekecewaan hidupnya dimasa silam. 

Dalam pada itu, kegembiraan Sri yang baru di wisuda, pupus demi pcarnya , Soni (Donny Damara), memutuskan hubungan. Pasalnya orangtua Soni mengangap latar belakang Sri sangat tidak jelas. Sri menjadi penasara, ingin mengetaui siapa ayahnya sebenarnya. Demi mmebongkar kamar bunya, Sri menemukan ratusan wesel yagn tak pernah diuangkan, kiriman dari Hamdan (Pangky Suwito). 

Sri ingin mencari Hamdan di Jakarta. Menul mencegahnya, sampai tak tahan menampar wajah Sri. Demi menenangkan Sri yang histeris, Menul mengungkap masa lalunya. 

Gara-gara ayahnya suka berjudi, keluarga Menul dililit hutang pada renternir Sunardi. Untuk melunasi hutangnya, asah Menul (TB Maulana Husni) setuju menikahkan putrinya dengan si lintah darat. Tapi Menul memilih minggat. Ia mencari sahabatnya , Wiwik (Clara Sinta) yang bekerja di kompleks rumah peristirahatan 

Ketika Menul bekerja sebagai pelayan di kompleks inilah, ia di perkosa oleh lima pemuda yang tengahberpesta minuman keras. Dengan menahan sengsara, Menul pulang kerumah oranguanya.Terpaksa menyetujui dinikahkan dengan Sunardi. Namun Sunardi yang kecewa karena Menul sudah tak perawan lagi, segera menceraikannya. 

Terlunta-lunta Menul ang diusir ayahnya, mengembara sendirian. Bekerja sebagai pelayan di restoran kecil, sampai bertemu Wiwik yang mengajaknya menjadi wanita penghibur. Namun Menul tak bisa memaksakan diri berkencan. Menul memilih bunur diri, beruntung muncul pemuda Joko (Arswendi Nasution) yang menolong dan menampungnya di rumah kostnya. Bahkan Joko inilah yang mengurus Menul sampai melahirkan Sri. 

Cerita panjang Menul, menyadarkan Sri betawa menderitanya sang Ibu. Sri mengajak ibunya menyelidiki siapa senenarnya Hamdan. Tiba di stasiun Gambir, mereka disambut Hamdan dan putranya. Burhan (Ari Sihasale). Dirumah ada pula Hanny (Marini Zumarnis) adik Burhan. 

Dalam sebuah kamar, Menu melihat banyak lukisan wajah. Mungkinkah Hamdan salah seorang pemuda yang dulu memperkosanya? Hamdan mengakui, saat peristiwa itu terjadi, memang ia berada disana, tapi ia tak ikut memperkosa. Atas inisiatif Burhan dan Hanny, Hamdan bersama Menul dan Sri merancang rekontruksi untuk membuktikan siapa sebenarnya ayah Sri. 

Lima lelaki diundang untuk reuni ditempat dulu mereka memperkosa Menul. Kelimanya asyik bernostalgia sampai mendadak muncul Sri yang didandani persis Menul dulu. Kelimanya terkesiap dan mulai saling tuduh dengan versi masing-masing. Ada yang berargumentasi kalau dirinya impoten, hingga tak mungkin memperkosa, ada yang berdalih batal melakukannya karena ketakutan melihat Menul sudah pingsan. Lalu siapakah sebenarnya ayah kandung Sri?

Diam-diam Menul sudah menyiapkan sebilah pisau dalam tasnya untuk membalas dendam pada laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya dua puluh lima tahun yang lalu. 

Gaya bertuur Jajang yang disesuaikan dengan skenarionya Arifin, terasa tidak biasa dilakukan dalam Sinetron Indonesia. Cenderung mengngatkan pada karya besar Sutradara Empu dari Jepang, Akira Kurosawa , Rashomon (Pemenang PIala Oscar untuk film Asing Terbaik 1950) di mana tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu kasus perampokan pembunuhan, pemerkosaan secara kilas balik mengungkap apa yang terjadi menurut versi masing-masing. 

BUKAN PEREMPUAN BIASA membuktikan Christine Hakim bukan aktris Biasa. Dengan kekuatan aktingnya yang telah jauh lebih matang daripada saat bermain di film Ponirah Terpidana produksi 1983 dengan peran nyaris serupa, ia bisa membuat pemirsa berminat untuk terus menontonnya dari episode perdana sampai tuntas. Lalu mungkin kelak ada Bukan Perempuan Biasa, kedua  atau sinetron lain yang dilakoni Christine Hakim. ~MF284/250/XIII/3-16 Mei 1997

Produksi PT Multivision Plus

Produser : Raam Punjabi

Sutradara : Jajang C Noer, 

Cerita/Skenario : Arifin C Noer

Kamerawan : Winaldha Melalatoa

Penata Artistik : Berty Ibrahim

Editor : Karsono Hadi

Pemain ; Christin Hakim, Desy Ratnasari, Donny Damara, El Manik, Pangky Suwito, Remy Silado, Eeng Saptahadi, Ari Sihasale, Marini Zumarnis, Clara Sintya