Sunday, January 18, 2026

WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA

 


WENNY ROSALINE, AKTRIS LAGA INDONESIA. Wenny Rosaline bintang yang mencuat lewat film laga , dalam sebuah film ia ditunangkan denan Barry Prima. Ayah rupanya menginginkan Wenny bersuamikan pendekar pula. Wenny tak kuasa menolak keinginan ayahnya. Ia pasrah, selain itu diam-diam iapun ingin mengesankan pada ayahnya bahwa ia anak yang baik. Cerita tersebut cuma ada di dalam film "Pendekar Ksatria" produksi PT. Kanta Indah Film . Wenny menjadi anak Ki Wadas Putih yang diperankan oleh Advent Bangun, seorang pendekar tua yang kepincut dengan ketampanan dan kegagahan seorang pendekar muda meski akhirnya harus berseteru dengannya karena diketahui Ki Wadas putih berkhianat. 

Ini film ke sekian Wenny untuk jenis film laga. Memang sebagai artis yang baru, Wenny termasuk cepat melejit. Sejak ikut film "Kelabang Seribu"  dimana ia berperan sebagai nenek sihir yang 'memperjakai' Barry Prima, Wenny seperti tak pernah istirahat. Wenny sudah membintangi banyak film. Dari jenis film laga, drama sampai komedi ia pernah main. Dari peran kecil sampai peran utama. 

Bertutur tentang awal keterlibatannya dalam dunia film, Wenny menyebutkan sejak tahun 1982 "Waktu itu saya mendampingi Eva Arnaz dan Barry Prima dalam film "Membakar Matahari" yang disutradarai Arizal," ujar artis film yang mulai dari dunia fashion show itu. "Waktu itu saya bingung juga. Antara keinginan main film, bentrok dengan kerja yang selama ini saya tekuni seperti peragaan busana, foto model dan usaha salon. Tapi berkat pertimbangan yang diberikan ibu, akhirnya saya putuskan menekuni dunia fashion dulu, " tambahnya. 

Anak kedua dari lima bersaudara hasil perkawinan bapak R.R Surya Kusumanegara dan Ibu Ida Farida ini, entah mengapa kemudian terseret juga ke film. Adalah sutradara Dasri Yacob yang mengusiknya. Waktu itu ditemui Dasri sekaligus mengajaknya untuk ikut main dalam film "Petualangan Tak Kenal Menyerah", Wenny mau. Apalagi ibunya yang sejak 1983 menjanda sejak ayahnya mennggal itu mengijikannya berangkat ke Jakarta. "Waktu itu usia saya sudah 21 tahun. Dianggap ibu sudah dewasa, kata perempuan kelahiran 18 Maret 1966 ini. 

Tapi sekalipun sudah membintangi beberapa film, Wenny mengaku dari dunia yang satu ini belum mendapat apa-apa kecuali kepuasan batin. Soal honor, cuma cukup untuk hura-hura dengan teman-teman. Paling-paling sedikit untuk bantu ibu," jawabnya. Soal adegan syur, ia tak lantas paku mati. "Kalau terpaksa, ya harus pakai stand in. Soalnya saya enggak mau ngecewain orang tua, kilahnya. 

Dalam film "JAWARA" yang kemudian berganti judul "PENDEKAR BUKIT TENGKORAK" Wenny kebagian adegan yang menyingkap kain pembalut tubuhnya. "Sebagai pendekar wanita, ketika mandi saya diserang penjahat. Terjadilah perkelahian sambil berendam air. Tapi jangan nuduh dulu, saya pakai celana pendek waktu itu. Lagi pula yang di sut cuma punggung saya, " tuturnya. Apa salahnya?

Menerima adegan-adegan yang mesti begitu, Wenny mengaku tak bisa menolak begitu saja, "Saya menyadari masyarakat penonton film sudah terlalu peka. Kritis. Sepanjang tidak berlebihan saya pikir tidak apa-apa. Tapi supaya tahu saja, saya bukan artis yagn cuma bisa adegan begituan, " tantangnya. 


~~dikutip dari MF 053/21/Tahun IV, 9-22 Juli 1988

Saturday, January 17, 2026

SUTING MALU MALU MAU, SISWORO GAUTAMA PUTRA GARAP FILM KOMEDI


 SUTING MALU MALU MAU, SISWORO GAUTAMA PUTRA GARAP FILM KOMEDI.(Kisah Lawas). Jam 08.00 semua kru nampak siap dengan tugasnya masing-masing. Seperti biasa merek anampak sibuk. Ada yang mempersiapkan sarapan pagi, ada yang make up, pasang lampu dan segala macam tetek bengek lazimnya persiapan suting film. Dua hari terakhir itu film "Malu Malu Mau", nya Warkop memilih suting di Super Star Diskotik di kawasan Cideng Timur Jakarta. Jam 9.00 disaat semuanya hampir ok, muncul Sisworo Gautama , sutradara "Malu malu Mau" mengenakan kaos bergaris-garis, celana pendek, kaos kaki dan sepatu hitam kombinasi putih. 

Habis main tenis Sis? "Ah enggak, cuma dengan begini rasanya lebih rileks. Biasa kalau lagi suting enakan begini, " kata Sisworo, sutradara kelahiran Kisaran Sumatera Utara. 

Sehari sebelumnya ditempat yang sama, sutradara jangkung kehitam-hitaman itu lengkap pakai celana panjang dan sepatu, nyaris seperti pegawai kantor. Seperti biasa suaranya membahana hampir ke seluruh ruangan, terutama kalau dia sedang member aba-aba suting. "Opname kamera, yaaa go...," teriaknya kalau memberi aba-aba suting. Itu memang ciri khas Sisworo. masing-masing sutradara memang punya ciri khas sendiri-sendiri. 

Tumben, sekali ini Sisworo Gautama menggarap film dagelan (Dono menolak di sebut film komedi). Biasanya Sisworo menggarap film misteri, horor atau film-film aksi, macam "Nyi Blorong" dengan sekian banyak versi, atau film-film aksi yang banyak menampilkan trik (adegan tipuan) "Jaka Sembung" konon sempat membuat pengamat film di Eropa dan Amerika terheran heran. 

"Membuat film jenis dagelan seperti ini jelas lebih ringan ketimbang film aksi, horor atau misteri yang sering saya garap," ucap Sisworo. Suasana kerja pun berbeda. Kalau dalam film-film terdahulu selalu serius terus, maka dengan Warkop ini lebih banyak guyonnya. Tidak berarti penggarapannya tidak serius cuma suasana kerjanya itu yang lebih santai. "Ini film dagelan saya yang pertama.  Tidak ada pretensi lain kecuali film ini disenangi penonton banyak dan produser untung, " katanya blak blakan. 

Suting dua hari di diskotik itu mengisahkan Kasino ikut lomba nyanyi tuna netra. Belakangan ketahuan Kasino cuma pura-pura buta. Suasana pun jadi kacau balau apalagi ternyata panitia yang di dalangi Paul tukan kibul. Perihal Kibul mengibul ini juga melibatkan Dono yang ikut kuis berhadiah. Dia dikerjain habis-habisan oleh panitia, sampai akhirnya Dono, Kasino dan kedua teman wanitanya Nurul Arifin dan Sherly Malinton lari terbirit-birit meninggalkan tempat acara. 

Suting pertama "Malu Malu Mau" dimulai pada 26 November 1988. Selesai seluruhnya 27 Desember 1988 atau 24 hari kerja, karena sempat istirahat beberapa hari termasuk hari Natal. Ngebut? "Enggak juga. Soalnya memang sudah ditargetkan satu bulan. Kebetulan selama suting ini kami nyaris tidak ada hambatan sama sekali. Semua pemain selalu siap, tidak ada masalah. Walaupun Nurul merangkap dua film (Dia juga suting film "Saskia} tapi skedul suting dengan Warkop berjalan mulus. Skedul untuk Nurul mengikuti kami, " kata Sisworo yang sebelum ini merampungkan "Santet". Baik film Santet maupun "Malu Malu Mau" sama-sama menghabiskan bahan baku 55 can (kaleng). Bedanya jumlah hari suting film "Santet" lebih banyak Bisa dimengerti karena film sejenis itu pembuatannya lebih sulit dan memakan waktu lama. 

Kesan santai dalam menggarap "Malu Malu Mau" ini seperti tercermin selama dua hari, Senin 26 Desember dan 27 Desember yang lalu. Suting di warnai gelak tawa melihat ulah Kasino, Dno atau Paul yang pelawak dari kelompok Srimulat. Selama dua hari itu mereka mampu menghidupkan suasana sehingga tanpa terasa hari sudah jam lima petang, persis waktu yagn diberikan oleh pihak Super Star, karena malam hariny amereka harus operasi seperti sedia kala. 

Selama dua hari itu pula Kasino selalu duduk di belakang Organ sambil jari-jarinya menari diatas tuts. Sambil membawakan lagu-lagu nostalgia dan masa kini. Sekali-sekali Paul yang sudah berusia 63 tahun tapi tetap segar itu sempat juga melantunkan suaranya. Mantap dan mendayu dayu, mengundang tepukan hangat dari semua pemain dan figuran yang memadati Super Star. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989



Friday, January 16, 2026

PENDEKAR CABE RAWIT

 


PENDEKAR CABE RAWIT, PEMUDA DESA - KEJAHATAN KOTA. SYAIFUL NAZAR yang pernah menjadi juara silat dan senam ini, biasanya cuma kebagian peran pembantu, baru sekarang lewat produksi PT. Garuda Film yang juga merupakan karya penyutradaraan pertama bagi Abdoel Kadir, ia diserahi peran utama . Postur tubuhnya yan gagak pendek kendati gempal, membuat ia cocok dengan julukan "kecil Kecil Cabe Rawit".

"Ide Cerita diilhami dari film perdana Bruce Lee - "The Big Boss", namun tentu saja telah di gubah sedemikian rupa hingga membumi disini, " aku produser Hendrick Gozali. Persamaannya cuma tinggal si tokoh utama sama-sama datang dari desa, untuk bekerja di kota, tapi kemudian ternyata juragannya adalah gembong penjahat. Kalau Bruce Lee bekerja di pabrik es, maka Syaiful 'ngenger' di pabrik batik. 

Lawan main Syaiful adalah Uci Bing Slamet, Johan Saimima, WD Mochtar, Sutopo HS dan pendatang gres Monica Oemardi. 

Film diawali dengan adegan upacara Tiban, untuk memohon turunnya hujan. Pemuda-pemuda bertarung adu sabte rotan. Agung dengan kelincahannya berhasil menang. Tapi saingannya, Lompong menjadi sirik dan menyatroni pondok Nenek Agung. 

Nenek mendesak Agung agar 'ngenger' pada pamanna di kota, tapi jangan sekali-kali menunjukkan kemampuan silatnya. Paman Marko yang kaya raya dengan pabrik batiknya bersedia menampung Agung. Tapi putranya Jarot, memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Sedangkan Pak Aman yang menjadi mandor, juga tak bersikap ramah. Padahal Pak Aman sebenarnya ingin melindungi Agung dari Ancaman pamannya. 

Agung mengintai Jarot yang menculik gadis sedesanya, Sri. Diam-diam ia menolong gadis manis ini dari tempatnya di sekap. Rahasia kalau Agung menguasai ilmu silat tak bisa di tutupi lagi, Berbarengan Pak Aman juga buka rahasia, dulu ayah Agung di bunuh Paman Marko yang ingin mengangkangi harta dan pabrik batiknya. Rahasia ini harus dibayar Pak Aman dengan jiwa. 

Terdesak oleh keadaan, terpaksa Agung pun menumpas Jarot, Paman Marko yang licik menyandera Sri di puncak candi. 

Pendekar Cabe Rawit mendapat  penilaian cukup baik oleh anggota Komite Seleksi FFI 1990 hingga masuk dalam daftar 18 film Pilihan 1990.


MF 119/87 Th VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Thursday, January 15, 2026

FAROUK AFERO, PEMAIN ANTAGONIS PUN HARUS DIBAYAR MAHAL

 


FAROUK AFERO, PEMAIN ANTAGONIS PUN HARUS DIBAYAR MAHAL. Farouk Afero sempat lama tidak main film. Bukan karena produser sudah muak padanya, tapi dia sendirilah yang tak mau menerima begitu saja tiap tawaran. "Selain skenarionya harus cocok, saya juga harus dibayar mahal", ujarnya. Lebih dari itu, sikap hidupnya yang terlalu idealis, diakuinya memang menyebabkan banyak kalangan perfilman yang enggan berhubungan padanya. "Tapi tidak apa-apa. Berdiri diluar, saya malah blebih rasional. Tidak lagi emosional. Dan kalau kemudian saya menerima tawaran TVRI itu untuk ikut membintangi sebuah sinetron, itu karena saya ingin menyalurkan kerinduanya pada dunia film. Itupun setelah menolak banak tawaran yang disodorkan," tambahnya. 

Lelaki kelahiran Pandori Bali, Pakistan, 4 Juni 1940 tampil juga dalam TVRI di sinetron dengan judul "Tangan Tangan Hitam". Mulai terjun ke film tahun 1964 lewat "Ekspedisi Terakhir". Farouk yang nama aslinya Farouk Ahmad ini mengaku baru dikenal setelah ikut membintangi film "Bernafas Dalam Lumpur" tahun 1970. "Afero sendiri adalah nama tambahan setelah saya terjun sebagai petinju amatir," ujarnya. 

Tahun 1983 ikut pula bermain dalam film "Wolter Monginsidi ", lantas sebagai orang yang kini tak terlibat langsung, Farouk melihat dunia film Indonesia di akir 80an makin merosot di banding tahun-tahun sebelumnya dimana ia masih aktif. "Secara teknis, dalam arti film sebagai tontonan memang sudah baik. Tapi untuk yang lain-lain temasuk gagasan-gagasan yang ditawarkannya, nanti dulu," katanya. 

"Artis film Indonesia saat ini ibarat spare part. Tidak diberi kesempatan menjadi matang. Benar, dimanapun di duni aini produser adalah orang yang paling berkuasa. Solidaritas antar sesama pekerja film saja sudah tidak ada. Masing-masing memikirkan perutnya sendiri-sendiri. Dan dari dulu sistem yang tidak membina inilah yang saya tentang. Saya protes dengan cara kerja saya sendiri, kata aktor yang diluar kemauannya sendiri terpilih jadi aktor pembantu terbaik FFI 1976 lewat film "Laila majenun" itu. 

"Saya emmang bercita-cita artis Indonesia harus mahal. Harus bagus kondisi sosial ekonominya. Sebab saya yakin kreativitas lahir kalau kondisi ekonomi seseorang sudah mapan", ujar aktor terbaik FFA 1971 lewat "Noda Tak Berampun".


~MF


Wednesday, January 14, 2026

FILM TERAKHIR SISWORO GAUTAMA PUTRA, KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG


 KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, FILM TERAKHIR SISWORO GAUTAMA PUTRA. Inilah film horor karya kenangan sutradara Sisworo Gautama Putra yang meninggal tak lama seusai pembuatannya. Sutradara kelahiran Asahan yang meninggal karena serangan mendadak penyakit jantung ini, termasuk laris dan konsisten dengan film-filmnya. Rata-rata menyelesaikan dua film pertahun. 

Memulai karirnya sebagai pencatat skrip untuk film Tujuh Prajurit (1962). Meningkat menjadi astrada setelah pernah pula menjabat asisten unit dan Pimprod. Baru di tahun 1972 dipercaya Ratno Timoer untuk menyutradarai langsung film silat Dendam Si Anak Haram yang digubah dari cersilnya Kho Ping Hoo. 

Lewat film-filmnya, Sisworo banyak memperkenalkan pendatang baru yang kemudian melejit . Antaranya Advent Bangun, Barry Prima dan Siska Widowati. 

Belakangan ia lebih mengkhususkan menggarap film-film bertema horor. Sejak Sundel Bolong, sampai ke Nyi Blorong, Putri Nyi Roro Kidul dan sejenisnya, hampir semua horor mistik yang dibintangi Suzanna. 

Selama 20 tahun kariernya, Sisworo telah merampungkan lebih dari 40 judul film. Suatu prestasi yang cukup membanggakan. Kendati diakui belum pernah di calonkan sebagai sutradara terbaik, namun produser Gope Samtani dari Rapi Films dan Ram Soraya dari PT. Soraya Intercine Film memujinya, rata-rata filmnya komersial. 

Begitupun diharapkan karya terakhirnya, Kembalinya si Janda Kembang. Menilik judulnya, orang pasti menduga sebagai sekuel atau kelanjutan dari Misteri Janda kembang arahan Tjut Djalil yang sukses di tahun 1991 yang sama-sama di produksi Soraya dan dibintangi oleh Sally Marcellina. Padahal tidak demikian, ceritanya sama sekli tak berkaitan. 

Nampaknya setelah Suzanna mengundurkan diri dari kegiatan main film setelah terakhir diarahkan Sisworo dalam Ajian Ratu Laut Kidul, memang Sally bakal menggantikan kedudukannya dalam blantika horor. 

Lawan mainnya terdiri dari pendatang-pendatang baru seperti Ibrahim Azhari, Eddie Gunawan, dan Irfan yudha. Ikutan mendukung juga pemain pemain tua tua keladi, Him Damsyik dan Pak Tile. 

Salah Satu Trik baru yang di tampilkan disii adalah sosok tangan wanita yang berkeliaran melompat-lompat di lantai bungalow angker. Rasanya teknik ini diilhami film monster kontemporer "The Addams Family". Bedanya kalau dalam film Amerika itu, si hantu tangan tak berperan serta dalam cerita, sebaliknya disini justru potongan tangan itu merupakan kunci cerita. 

~MF 174/141/TH IV, 6 - 19 Maret 1993

Tuesday, January 13, 2026

SELAMETAN SAUR SEPUH III KEMBANG GUNUNG LAWU


 SELAMETAN SAUR SEPUH III KEMBANG GUNUNG LAWU, Dalam sebuah adegan Saur Sepuh II Pesanggrahan Keramat, diceritakan betapa Lasmini dicelakai oleh anak buah suaminya sendiri, Juragan Basra. Ia di perko sa dan tubuhnya di buang ke jurang curam. Diluar dugaan seorang nenek berjubah putih, menangkap tubuh tak berdaya ini. 

Ternyata beliau adalah tokoh sakti bergelar Nenek Lawu. Lasmini diangkat jadi muridnya. Digembleng menjadi pendekar mumpuni  yang sulit dicari lawannya. Inilah awal cerita film "Saur Sepuh III, Kembang Gunung Lawu".

Selamatan berlangsung pada hari Senin Kliwon, 9 Oktober 1989, di studio Kanta Indah Film Kalideres, Jakarta Barat. Pada kesempatan ini, pihak Kanta Indah Film dan Kalbe Farma, sesuai tradisi memberikan sumbangan kepada lima panti asuhan yang berdomisili di Jakarta (P.A Muslimin, P.A Vincentius Putra, P.A Muhtarom, P.A Islamic Center dan P.A Yayasan Nurul Hasanah). 

Seusai slametan, sutradara Imam Tantowi langsung memulai suting hari pertamanya. Mengambil adegan antara Raden Bentar dengan Ibundanya, Dewi Pramita. Perlu diketahui bahwasanya Fendy masih terlibat suting film "Misteri Dari Gunung Merapi" yang berlokasi di luar kota. Jadi adegan untuknya harus menunggu setelah sutingnya disana selesai. 

Suting Saur Sepuh III selain di studio juga di hutang lindung Pangandaran, Cicalengka dan Pantai Haka di pulau Bangka. "Panoramanya luar biasa. Pantainya pasir putih bersih, namun ada batu-batu alam yang besar, bulat-bulat dan berwarna hitam legam," promosi Tantowi. 

Para pemain utama masih tetap sama seperti sejak episode pertama, "Saur Sepuh, Satria Madangkara", hanya saja porsi penampilan Fendy Pradana dan Elly Ermawatie agak berkurang. Sebaliknya Murtisaridewi malah lebih menonjol sebagai pemeran judul. 

Dua pemeran penting lainnya, Hengky Tornando dan Anneke Putri kali ini malah absen. Sebagai gantinya menonjol pendatang baru Candy Satrio yang berperan sebagai Raden Bentar. Sedangkan pemeran Dewi Pramita dipercayakan kepada Fitria Anwar yang baru pertama kalinya main film. 

Pemeran Juragan Basra tetap Afrizal Anoda. Begitu pula halnya dengan dua tokoh pendekar ilmu hitam, Ki Jara dan Lugina masih diperankan dua juara bela diri Karate dan Taekwondo, Yoseph Hungan dan Lamting. Adapun pemeran Nenek Lawu dipilih Corrie Mochtar, janda mendiang aktor Mohammad Mochtar. 


~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt-10 Nov 1989

Monday, January 12, 2026

CHRIST MITCHUM

 


CHRIST  MITCHUM boleh jadi bintang asing yang paling laris di Indonesia di era 80an memegang peran utama. Setelah Christ muncul di "Pertempuran Segitiga", "Menentang Maut" "Dendam Membara dan "Pemburu Berdarah Dingin".

"Ini usaha hidup saya sebagai bintang film. Jadi soal main film dimana saja jadi, " ujar Christ. PT. Rapi Film mengontrak Christ yang kurang di kenal di Holywood sendiri ini dibawah harga standar seorang bintang cukup punya nama di Asia. Toh ia masih berada di puncak di banding honor tertinggi pemain Indonesia. 

"Itu wajar saja. karena saya tahu film yang saya bintangi akan di edarkan keluar negeri semacam Spanyol, Mexico selain Amerika dan beberapa negara Eropa," ujar Christ yang tak pernah nonton film Indonesia. 

Christ yang telah membintangi sekitar 30 film (1988) ini tak melakukan adegan berbahaya. Untuk itu sudah disediakan stuntman asal Indonesia. Gatot yang jungkir balik, jatuh bangun memakai baju miri Christ Mitchum. "Mereka, para stuntman ini dimana saja sama, saling gila-gilaan demi hidup," komentarnya. "Saya sendiri waktu umur 17 tahun pernah melakukan adegan berbahaya tanpa stuntman dalam "Summer Time Killer,". Saya terbang dan masuk air. Sekarang saya takut ambil resiko", kata Christ, anak dari bintang besar Robert Mitchum. 

Usai suting terakhir film Dendam Membara, terdengar tepuk tangan ketika bintang nekat pengganti Christ, Gatot selamat dari nubruk supermarket. Dan tiba-tiba terdengar teriakan dari megaphone "Saudara-saudara silahkan kumpul. Kita makan sate dan bir," ujar Christ Mitchum yang mentraktir semua kru setelah usai suting .

Dan Christ tidak langsung pulang ke Amerika, "Saya akan mampir dulu ke Pulau Seribu menikmata hawa negeri indah ini, " ucapnya. 


~MF 056/24 tahun IV, 20 Agustus - 2 September 1988

SUTING FILM PEMBURU BERDARAH DINGIN


 SUTING "PEMBURU BERDARAH DINGIN". Sekitar jam sebelas, tepatnya Senin 11 Juli 1988, masyarakat yang khususnya pada waktu itu berada diseputar Jakarta Pusat jadi pada bingung. Beapa tidak?. Siang itu, dua pesawat helikopter dengan jarak terbang rendah, tengah saling berkejaran di udara. pesawat jenis Bolgo itu saling menukik, berkelok diantara gedung-gedung pencakar langit, bolak balik diatas jalan Thamrin dari arah utara ke selatan dan sebaliknya. 

Memang siang itu sedang berlangsung suting untuk pengambilan salah satu adegan untuk film "Pemburu Berdarah Dingin". Sebanyak lima kamera telah dipersiapkan PT. Rapi Film untuk pengambilan adegan pada scene 31,32 dan 38 dalam film ini. Setiap kamera masihng-masing ditempatkan berbeda. Seperti Paul telah siap diatap gedung Hotel Indonesia, Kamto disekitar Masjid Istiqlal sedang Bambang di percayakan untuk mengambil di Jembatan Semanggi. Sementara itu, Suranal dan Asmawi masing-masing berada di dalam kedua pesawat heli yang di terbangkan dari Halim Perdana Kusumah, bersama sutradara Arizal dan pemain utama Christ Michum. 

Suting film kali ini memang bisa dikatakan lain dari kebiasaan suting pada umumnya. Diaas atap tertinggi gedung Hotel Indonesia hanya nampak 7 kru yang terdiri dari kameraman, clepper boy dan still foto. Suasana cukup hening, panas udara diatas gedung berbaur dengan hembuan angin. Semilir dan cukup hening. Tak terdengar kata-kata sutradara yang mengatur peran, seperti suara"..kamera..s iap, action.. atau cut!. Yang nampak hanya produser Gope Samtani yang mukanya mengernyit lantara sengatan matahari sambil memantau kerja kru perusahaannya. 

"Ya, sebelumnya kira-kira jam 8.00 sutradara di kantor telah memberikan pengarahan pada setiap kameraman untuk mengambil adegan kejar-kejaran heli itu, " tutur Gope yang juga turut mengatur kerja kameraman di hotel Indonesia. 

"eh...! Tiarap.... tiarap.." kata Paul, sedikit membentak orang-orang yagn dirasa menghalangi tembakan kameranya. Maklum disitu tak ada sutradara yang biasa mengatur suasana. Jadi kameramen ini sendiri yang mengatur posisi, sambil sebelah matanya tetap brada di teropong bidik kamera untuk mengambil gambar. 

Film yang telah selesai sutingnya ini memang dibintangi aktor yang membintangi film "Dendam Membara" yang juga diproduksi PT. Rapi Film, yaitu Chris Michum, Ida Iasa juga Augus Melasz. Ditambah kini dengan Roy Marten dan Paul Hay, termasuk Sutradara Arizal dan skenario Dedi Armand. 

Lokasi Suting adalah dilakukan di Jakarta, Puncak dan Bandung. Untuk film "Pemburu Berdarah Dingin" ini, PT. Rapi Film telah membeli 12 buah mobil yang dihancurkan termasuk sebuat truk tangki. MANTAP!!


~MF 056/24 tahun IV, 20 Agustus - 2 September 1988