Thursday, February 5, 2026

DICKY WAHYUDI

 


DICKY WAHYUDI. Masih ingat dengan aktor yang satu ini? Kemunculan Dicky Wahyudi di layar kaca sangat ditunggu penggemarnya. Artis yagn berawal dari model iklan ini terangkat ketika membintangi sinetron bertema Ramadhan "Doaku Harapanku". Bagaimana tidak, saat itu hanya Doaku Harapanku sinetron bertema Ramadhan. Tak ayal lagi, namanya dikancah persinetronan Indonesia mulai di kenal, sekaligus di perhitungkan. "Saya nggak nyangka Doaku Harapanku nggak hanya disukai kaum ibu dan remaja putri, tapi juga bapak-bapak dan lelaki dewasa, " papar artis kelahiran Jakarta, 23 Septeber 1969. 

Dicky juga kembali hadir dengan tema sinetron religi bertajuk Maha Pengasih. Alhasil kepopuleran pun kian menggelayuti dirinya. Hal itu terus memacu dirinya untuk meningkatkan kemampuan aktingnya. Peran apapun siap di lakoninya. Karakter apa sih yang kamu inginkan? "Semua karakter saya suka. Peran yang membuaat saya tertantang adalah saat main dalam sinetron Abad 21. Disitu saya memerankan seorang lelaki yang mencintai wanita pujaannya. Tapi karena nggak disukai, kita di pisahkan. keadaan itu pula yang mengakibatkan tokoh itu melakukan perbuatan jahat. Boleh dibilang sedikit antagonislah. Model peran seperti itu yagn saya sukai, " tegas bintang sinetron ini. 

Diam-dia lelaki berzodiak Libra ini juga pernah menyanyi. Tak tanggung-tanggung, albumnya yang merupakan gabungan dengan Amartya 8 sudah muncul di pasaran. Usut punya usut album itu sendiri ternyata bermasalah. Pasalnya menurut penuturan Dicky, dia sendiri tak mengetahui albumnya telah muncul. Dan dia mengetahui dari rekannya. Tiba-tiba seorang teman memberitahu padanya bahwa albunya ada di toko kaset dan teman itu sudah mendengarnya. Lagu-lagu VCD karaoke itu tersisip di album Amartya 8. "Teman saya bilang kumpulan lagu VCD Karaoke itu, yang ada suara saya di side B, sementara side Anya lagu-lagu Amartya 8.


~selengkapnya dapat di baca di MF No. 405/371/XVII, 21 Des 2001 - 4 Jan 2002


Wednesday, February 4, 2026

NIZAR ZULMY


 NIZAR ZULMY. Kenal Barep? Dia adalah seorang bapak yang arif, lembut tatakramanya, bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi panutan dalam keluarga besar Krido, pada drama seri "KISAH SERUMPUN BAMBU" karya Darto Joned yang pernah di tayangkan TVRI. 

Nizar Zulmy ini adalah sosok yang urakan, tapi tidak dengan Barep, ia tidak sama dengan Nizar bintang TV ini bekas anak pasaran alias Preman di Lubuk Pakam, Pangkalan Brandan dan Kota Medan. Dan pengalaman di pasaran itulah yang membuat ia berhasil melakoni Wiril, tokoh dalam drama "Doa seorang Narapidana" arahan Irwinsyah , drama TV yang menurutnya paling berkesan. 

Nizar Zulmy anak yang bedarah melayu Deli ini sempat menjadi panutan bagi masyarakat setelah membintangi dalam Kisah Serumpun Bambu, kemudian ia juga mendapat tantangan untuk bermain dalam drama seri karya Darto Jonet yang berjudul "Tembang Diatas Padang". Temanya agak mirip dengan Kisah Serumpun Bambu, madih berkisah tentang transmigrasi. Suting pengambilan gambar di lakukan di Sumatera. 

Apakah Tembang Diatas Padang sambungan dari Kisah Serumpun Bambu? Tidak. Memang ceritanya masih mengenai transmigrasi. Tapi transmigrasi kan macam-macam. Tidak harus selalu seperti kisah "Serumpun Bambu", kilahnya. 

Perokok berat ini merasa telah menyatu dengan "Kisah Serumpun Bambu" dan Nizar merasa sedih meninggalkannya. Tapi apaholeb buat, ternyata drama ini hanya sampai 24 episode saja. "Kami dilapangan ketika itu seperti satu keluarga. Saling membantu. Pokoknya AMK-lah (Aktor merangkap Kuli). ya kadang saya menjadi supier, menjemput artis atau keperluan lain. Kadang juga mengurus kostum dan membangun setting, " katanya. 

Nizar yang siap juga utnuk di botaki atau menguruskan badan, mengaku telah ratusan drama telah ia lakonkan. Tapi dia belum merasa apa-apa. "Saya memang ingin bermain jadi apa saja. Saya sanggup melakonkan apa saja. Dari presiden hingga tukang beling, " katanya. 

"Berdrama bagi saya bukan sekedar hobby, tapi ia sudah menjadi tuntutan hidup bagi saya, "sambungnya melanjutkan. Inilah yang membuat Nizar atau akrabnya Bung Adek ini tidak pilih-pilih peran. Asal mengena di hatinya kontan diterimanya, di dunia film pun Bung Adek bukan muka baru. Tapi dia berkeyakinan satu saat nanti ia akan melambung ke tangga terhormat dalam perfilman Indonesia. 

~MF 61/29 Tahun V, 29 Oktober- 11 November 1988

Monday, February 2, 2026

SUTING NYANYIAN CINTA DIIRINGI HUJAN

 


SUTING NYANYIAN CINTA DIIRINGI HUJAN (Kisah Lawas), Nyanyian Cinta yang kemudian berubah judul menjadi Cinta Anak Muda. Pagi itu, suasana di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail Kuningan Jakarta mendung. Kru Film yang baru tiba pukul 08.00 bergegas menurunkan peralatan. Suasana bertambah mendung tapi mereka tetap semangat. Lokasi yang mulanya sepi mendadak jadi tontonan , apalagi melihat Nike Ardilla , mereka tidak sabar ingin sekali mendekati. 

Film yang suting hari itu berjudul Nyanyian Cinta, sutradara Hadi Purnomo dengan para pendukung selain Nike Ardilla yang ikut suting hari itu, diantaranya Hudy Prayoga, Pendatang Baru Za Rina (Zarima), Jans Stanver dan para figuran. 

Pengambilan gambar yang berlangsung didalam lingkungan Pusat Perfilman, ternyata tidak lama, hanya 45 menit. Saa itu adegan di jalanan antara Nike dengan Hudy. Namun sempat diulangi 3 kali karena Nike kurang konsentrasi. 

Sekitar pukul 11.00 kru film tiba-tiba kelabakan, ada yang mengamankan kamera dan menutupi seperangkat peralatan film yang sebagian masih ada di mobil. Cuaca hujan gerimis, tapi sutradara tetap pada pendirian, suting berjalan terus. "Wah,bisa-bisa kalangkabut, " teriak salah seorang kru yang saat itu menjaga peralatan. 

Ketika suting dilanjutkan di jalan raya dekat pom bensin, hujan bukan berhenti, namun agak deras. Atas seruan sutradara suting tetap berjalan. Kameraman yang membidikkan kamera diatas mobil jadi puning, kewalahan, ia bukan hanya membidik, tapi berusaha mengamankan  kamera dari tetesan air hujan. Pengambilan gambar saat itu adegan olehraga sepeda dan lari. 

Pukul 13.00 pengambilan gambar dilanjutkan di lokasi gedung Regent Kuningan. Karena melihat hujan semakin deras, maka suting terpaksa untuk sementara di hentikan. Madu Mathany selaku produserdalam film ini mengatakan "Film ini menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta. Dalam hal ii honor tertinggi Hadi Purnomo, Sutradara film dibayar Rp. 12.5 juta, sedang peran utama dibintangi Nike Ardilla dibayar Rp. 7 juta. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT


 PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT, Bukan cuma karena kasus mayat terpotong tujuh banyak orang datang ke kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo. Tapi Azrul Zulmi, terpaksa ikut-ikutan kesana. Bukan untuk melihat mayat terpotong-potong itu, tapi untuk suting film. Akibatnya bapak dua anak ini seminggu tidak bisa makan. 

"Bau mayat yang membusuk di kamar mayat itu membuat saya muntah-muntah. Sampai sekarangpun kenangan terhadap bau itu tetap  menghantui saya. Saya sering nggak bisa menelan nasi kalau teringat, " tuturnya. 

Awalnya adalah ketika Azrul ikut main dalam film "Tragedi Bintaro" garapan Buce Malawau. Azrul berperan sebagai bapak Junet, diharuskan menjenguk korban kecelakaan Kereta Api di Bintaro tersebut di kamar mayat. Mulanya sih Azrul menduga kamar mayat biasa-biasa saja. "Saya memang tidak takut melihat mayat. Tapi begitu masuk, baunya yang buat saya nggak tahan. Akibatnya saya muntah. Padahal sutingnya lama banget. Mana panas terik lagi, baunya jadi menguap, " cerita Azrul. 

Karena bau yang tak tertahankan itu, menurutnya, selesai suting ia buru-buru keluar. Tapi sepatunya ternyata penuh bercak karena lantai becek. "Sepatu sayapun membawa bau. Saya buang saja. Soalnya saya kehabisan akal untuk menyelamatkan sepatu saya agar tak membawa wabah penyakit ke rumah, " ujarnya. 

Pengalaman itu, menurut Azrul merupakan pengalaman paling menarik sepanjang karirnya di dunia film. "Tapi saya tidak pernah jera untuk ikut suting di kamar mayat. Asalkan perannya cukup besar, " katanya. 

Tentang film "Tragedi Bintaro" itu sendiri, Azrul mengaku dapat peran yang menantang meskipun tokoh Effendy, ayah Junet itu tidak punya kelebihan apa-apa. "Karakternya terlalu datar, " ujarnya. "api pengalaman suting di kamar mayat itu lucu juga lho. Saya terpaksa kaki ayam pulang dari lokasi, " tutur Azrul sambil tertawa, 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988


Saturday, January 31, 2026

RANJANG CINTA, Derita Istri Bersuami Sadis

 


RANJANG CINTA, Derita Istri Bersuami Sadis. Rapi Films merupakan satu dari sedikit perusahaan film yang masih berkiprah di tengah kelesuan produksi film nasional di pertengahan tahun 90an, suatu semangat kerja yang patut di puji. Produksinya "Ranjang Cinta" merupakan karya sutraara Emil G Hampp yang diangkat dari cerita skenario rekaan Armantono. Dibintangi oleh si cantik terlaris sepanjang tahun 1995 Inneke Koesherawati dengan dukungan Teguh Yulianto, Ferry Tanjung serta pendatang baru seperti Rika Herlina, Lydia Larengkeng, Nancy Prancis dan Hengky Siregar. 

Di ceritakan, Clara adalah istri yang merasa sangat tersiksa oleh ulah suaminya sendiri, Aldo. Walaupun Aldo adalah usahawan sukses yang kaya raya dan bisa melimpahinya dengan harta. Bagaimana tidak, karena setiap malam, bila hendak menunaikan tugas intim, hubungan suami sitri, selalu aldo lebih dulu menyiksanya. Aldo baru mendapatkan kepuasan lahir batin setelah kelihatan Clara merintih kesakitan. Rupanya lelaki muda ini mengidap penyakit s e k s , Sado-Masochis yang sudah akut. 

Aldo bukannya tak menyadari hal in, maka demi cintanya pada Clara ia pun mencoba mengobati penyakitnya ini pada dokter. Malangnya, belum pernah berhasil pulih sebagaimana lazimnya lelaki normal. 

Muncul tokoh lain, Atari, seorang pemuda yang baru diterima Aldo bekerja sebagai pelatih kuda di ranchnya. Clara yang begitu menderita phisik ditangan suaminya, merasa menemukan kelembutan pada usapan tangan Atari. Si nyonya cantik terhanyut rayuan si tukang kuda, hingga terjerumus ke lembah perselingkuhan. 

Sepandai-pandainya mereka menyembunyikan rahasia, toh akhirnya Aldo mengendus juga hubungan serong istrinya dengan pegawai barunya. Ternyata bukan cuma Atari yang pandai memanfaatkan kesempatan , ada lelaki ketiga, Pak Mul yang justru merupakan tangan kanan alias orang terdekat ALdo dalam bisnisnya. Pada saat Aldo dirawat di rumah sakit internsional di Singapura, lelaki parobaya ini nekad memper kosa Clara. 

Cerita berkembang dengan terungkapnya rahasia Atari. Diam-diam pemuda ini menyimpan dendam kesumat pada Aldo. Sebenarnya ia adalah aduk kandung istri pertama Aldo yang tewas tersiksa diatas ranjang. Itu sebabnya, kini Atari sengaja merusakkan rumah tangga barunya Aldo. 

Film Ranjang Cinta mulai tayang sejak 29 Maret 1996 ditengah kelesuan film Indonesia. 

Produksi : PT. Rapi Films

Produser : Gope T Samtani

Sutradara : Emil G Hampp

Skenario : Armantono

Kamerawan : Tantra Suryadi

Penata Musik : Musya Joenoes

Pemain : Inneke Koesherawati, Teguh Yulianti, Ferry Tanjung, Rika Herlina, Lydia Larengkeng, dan lain-lain 

RODA RODA ASMARA DI SIRKUIT SENTUL


 RODA RODA ASMARA DI SIRKUIT SENTUL, Cinta Segi Tiga Pembalap Muda. (Kilas Balik)  Produksi PT. Virgo Putra Film yang ke 63 merupakan film nasional yang menggelar adegan balap mobil di sirkuit internasional Sentul. Sutradara muda Norman Benny yang berpengalaman menggarap film mengenai penerbang-penerbang muda dalam Perwira Ksatria, kali ini menghadirkan pembalap muda Alvin Bahar sebagai pemeran utama prianya. Dari namanya sudah ketahuan kalau Alvin adalah putra pembalap senior Asvin Bahar. 

Dua bintang seksi yang sedang naik daun Inneke Koesherawati dan Febby R Lawrence dipasang sebagai pendamping-pendampingnya. Kalau anda jadi Alvin, siapa yang lebih menarik, Inneke atau Febby? pasti sulit menjawabnya karena mereka memiliki kecantikan dan daya tarik sensual masing-masing. 

Diperkuat lagi oleh Achmad Yusuf, Monang Batubara (Abang kandung Cok Simbara), Lucy Imelda, Dewi Octaviana, Irul Luthan, Yan Rompies, dan Novita Wibowo. Ikutan mendukung sebagai bintang-bintang tamu juara-juara balap sejadi seperti Chandra Alim, Suhandi ANgriawan, dan pembalap remaja Ananda Mikola. 

Tiga tokoh utama dalam cerita film yang skenarionya di tulis oleh Zarra Zettira Zr ini adalah Desi, Alvin dan Novi. Sebagai wanita karir, Desi yang berkecimpung di dunia desain busana sudah memiliki peruahaan garmen. Hubungan Desi dengan pacarnya, Jodi, pembalap senior yang mulai redup pamornya, kian merenggang. Apalagi sejak Desi mengenal Alvin, pembalap muda penuh harapan. Padahal sahabat Desi sendiri, Novi, sudah semenjang kecil berteman baik dengan Alvin. Sekarang Novi yang tomboy malah bekerja sebagai mekanik untuk tim balap Garuda, tempat mangkal Alvin. 

Jodi yang ingin meniti karier di luar arena balap, mengincar kursi Direktur Garmen Desi. Demi ambisinya, ia bersama Desi sengaja memabukkan Alvin dalam pesta topeng. Dalam kondisi teler, Alvin meniduri wanita yang disangkanya Desi, padahal sebenarnya Novi. Akibatnya Novi hamil, tapi ia tetap merahasiakan hal tersebut. Sebaliknya, Alvin yang merasa bersalah pada Desi terpaksa mematuhi Desi meskipun sebenarnya tak mencintainya. 

Alvin sering absen dari latihan hingga prestasinya terus menurun. Baru setelah pelatihnya mengancam keras, Alvin bertekan berlatih untuk mengejar ketinggalannya. Desi yagn merasa kesal berkencan dengan teman lamanya, Benny. Melihat hal ini Alvin pun memutuskan hubungannya. 

Di bengkel, Alvin bertemu lagi dengan Novi. Saking cemburu Desi melabrak Novi, akibatnya gadis bengkel itu terjatuh dan keguguran. Desi terpana demi mendengar pengakuan Novi tentang keamilannya. Sadarlah Desi bahwa sebenarnya Alvin terpaksa menemaninya, cuma karena merasa bersalah atas peristiwa malam itu. Desi menunggu sampai Novi sembuh, lalu mengajaknya ke arena balap Sentul. Alvin tengah berjuang melwan pembalap-pembalap kawakan untuk memperebutkan piala Juara Balap Indonesia. 

Drama berlatar dunia balap mobil yagn cukup berbobot ini mulai tayang di Jakarta pada 4 April 1996 ditengah lesunya perfilman Indonesia 

Produksi : PT Virgo Putra Film

Produser : Ferry Angriawan

Sutradara : Norman Benny

Cerita-Skenario : Zarra Zetira

Kamerawan : Syamsudin

Penata Musik : Chossy Pratama

Pemain : Alvin Bahar, Inneke Koesherawati, Febby R Lawrence, Achmad Yusuf, Monang Batubara


SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana


 SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana, (Kisah Lawas) menurut pepatah kuno, banyak jalan menuju Roma. Slamet Effendi, Indon ebrdarah campuran Jawa-Madura Cina dan Belanda itu setamat SMAnya segera menenteng ransel, meninggalkan kota kelahirannya, Jember menujur Surabaya. 

Kalau kesampaian ia tentu ingin pula sampai ke Roma, Kota yang konon penuh berbagai keindahan. Cuma sampai kini Effendi yang kemudian tenar dengan nama Fendi Pradana itu masih ngendon di Jakarta, Sibuk mencari nafkah di dunia film. 

Tentang keterlibatannya dengan dunia perfilman itu. Fendi bilang bukan cita-citanya. "Kebetulan saja ada kesempatan!" tutur Fendi. Setamat SMA lanjutnya, keinginan pertama adalah mencari lapangan kerja. "Karena itu saya pergi ke Surabaya yagn lebih besar dari Jember!" jelasnya. 

Di kota Pahlawan itu, ia mulai mendapatkan lapangan kerja yang diinginkan. Pendidikan formalnya memang hanya SMA. Tapi ia punya modal lain. Postur tubuhnya atletis, tampangpun boleh. Inilah yang menggelitik  pengusaha biro iklan untuk menawarkan kesempatan, Fendi dijadikan  model iklan untuk perusahaan rokok raksasa di Indonesia. 

Perjalanan dilanjutkan ke ibukota. Di Jakarta, ternyata kesempatan yang di peroleh memang lebih besar. Ia kini  tidak saja sebagai model iklan, tapi telah  boleh menyandang predikat aktor. 

"Semula saya tidak pernah punya cita-cita jadi bintang film!" tukas Fendi yang boleh di sejajarkan dengan nama-nama tenar lainnya di film laga seperti Advent Bangun dan Barry Prima. 

Kembali ke persoalan  pepatah diatas. Memang benar, banyak cara  dan jalan untuk mencapai tujuan. Jalan yagn di tempuh Fendi melangkah ke dunia film walau tanpa di sadari, melalui dunia periklanan, lalu pada saat itu secara kebetulan  antara Tobali Film dan Kanta Film sedang memperebutkan Ferry Fadly untuk membintangi Saur Sepuh. 

Rebutan pemain untuk peran Brahma dimana akhirnya Ferry Fadly berhasil di kontrak Tobali film untuk membintangi Brahmana Kumbara (cat . Brahmana Manggala) yang jalan ceritanya "jiplakan" cerita Saur Sepuh, membuka peluang baru buat Fendi Pradana. "Saya tidak pernah mengira kalau kesempatan untuk muncul di film itu begitu mudah buat saya. Dan yang tidak pernah terpikirkan  lagi, kesempatan pertama itu langsung pegang peran utama, " Kenang Fendi. 

Tiga serial Saur Sepuh telah mengorbitkan namanya sampai ke puncak popularitasnya. Tapi untuk Saur Sepuh IV, Fendi bilang tak akan muncul lagi. "Kontrak saya sudah habis, saya tidak mau memperpanjang kontrak itu, " jelasnya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Friday, January 30, 2026

SUTING LANGITKU RUMAHKU


SUTING PERTAMA "LANGITKU RUMAHKU". Dua jam usai syukuran, siang itu juga suting film "Langitku Rumahku" yang digarap sutradara Slamet Rahardjo, di tempat yang sama. Tepatnya lokasi itu sekitar 2km, sejajar pintu gerbang masuk Taman Impian Jaya Ancol kearah Tanjung Priok. Tempatnya di tata sedemikian rupa, hingga bila suting dilakukan, nampak mudah di kenal lewat tenda pita biru yang bersemat di baju mereka. Di balik tenda besar tempat pesta syukuran, nampak dibangun perkampungan kumuh, laik gubuk gubuk liar, yang sudah lama ada. Sepuluh hari lamanya Satari bagian artistik dari PT. Ekapraya Film, membangun seting untuk film. 

Sementara kegiatan suting belum dimulai, nampak puluhan figuran yang kumal dan Kusam, menunggu di gubug-gubug kardus mereka. Suasananya, memang seperti berada ditengah perkampungan pemulung atau gembel saat itu. Kepulan asap dari tiap gubuk, lewat tungku dan kompor butut, berbaur dengan tumpukan karton-karton, botol-botol bekas serta rongsokan barang nampak menyampah disana. Gerobak sampah dan delapan ekor anjing yang berkeliaran, serta timbangan kusam ada tergantung di sudut kanan. Wajah para figuran yang kotor serta anak-anak yang banyak bertelanjang dada, cukup mewarnai kemelaratan saat itu. Konon para figuran yang dikerahkan dan dilibatkan untuk adegan ni, dicomot dari orang-orang asli penduduk seperti yang dituntut skenario dari daerah Rawasari dan kawasan rel kereta api Senen dan sekitarnya Ancol. 

"Tadi juga banyak yang datang untuk figuran, tapi kebanyakan disuruh pulang lagi. Dipilih yang jelek-jeleknya saja mungkin yang disuruh pulang itu kecakepan nggak cocok?, celoteh seorang sopir unit film. 

Scene 32, sedang dipersiapkan untuk diambil. Beberapa kru membantu memberikan instruksi pada para pemain. Dipinggir sungai keruh, kamera Sutomo GS sedang di set, mencoba panning, bergerak memutar 220 derajat. 

"Siap. ya...? Masing-masing sibuk. Jangan lihat kamera. Lihat tangan saya, disebelah sini mulai bergerak. Ya, mulai ya...? teriak Slamet Rahardjo sambil bertelanjang dada kepanasan. 

Lensa kamera mulai bergerak dari seberang sungai, lalangnya lalu lintas kendaraan, ke kesibukan transaksi barang-barang bekas, bapak dengan sepeda butut dan anak kecil yang kumal, serta pemulung sampai suasana perkampungan dengan kegiatan mereka. Sementara itu di dekat posisi kamera, Phil Judd , penata suara, saat itu sedang kebingungan lantaran jarum indikator bergerak nggak beres. Tangnnya sibuk mengutak ngatik peralatan, pijit tombol, goyang goyang kabel, akhirnya memberikan kode, lewat jemolan yang diarahkan ke bawah. Suara nggak jalan, Eros Djarot yang dari tadi berada dekat mereka langsung kompromi. Saat itu juga dia menyuruh kru lainnya untuk mencari alat yang rusak, ke Singapura. Akhirnya yang tadinya adegan itu akan direkam secara langsung (Direct Sound) gagal. 

Kurang lebih 3 jam, hari pertama suting dilakukan untuk mengambil adegan itu. Panasnya udara Jakarta, saat itu cukup membuat orang pada nyengir kegerahan. Christine Hakim yang saat itu berada di lokasi dengan kacamata hitamnya, langsung mojok ke tempat yang agak teduh. Sutradara yang tadi bertelanjang dada, tukar baju dengan baju kakaknya, Eros yang lebih tipis. Sementara Phill Judd yang sudah pakai topi minta untuk dipayungi disaat kerjanya. Selesai semua kegiatan, orang lebih suka untuk berada di dekat tenda besar sambil berteduh dan beristirahat. Sementara, para figuran bersama anak-anak yang ikut terlibat, langsung menyerbu meja yang ada makanan sisa syukuran. Mereka capek dan lahap atau memang mumpung ada sisa makanan? Anak-anak tampak ceria, sementara beberapa membungkus sisa makanan untuk dibawa pulang. Kacang panjang yang dibuat pagar hiasan makanan yang banyak itu, terlihat menumpuk di kepalan tangan kecil yang masih kotor lantaran make up. Mereka nampak suka untuk memanfaatkan situasi seperti itu. 

Film anak-anak yagn dibintangi oleh Banyu Biru Djarot, Pietrajaya Burnama, Reynaldo Thamrin, Totok Sutrisno, Sunaryo , dan Andri Sentanu ini mengisahkan tentang persahabatan dua anak yang berbeda karena kelas ekonomi keluarganya. Keduanya memang jadi anak jaman yang hidup sekarang yang lagi ramai dibuat film anak-anak. Semua kan beda seleranya. Saya cuma tertarik untuk mencoba karena film ini dibuat secara 'direct sound', tadinya kan saya sedang mempersiapkan film "Harimau Harimau". Tapi saya juga masih mau untuk membuat film anak-anak yagn kedua, ketiga... tapi tidak mau untuk jadi spesialis film anak-anak lho?, Komentar Slamet Rahardjo yang mengakui belum punya metode untuk bikin film anak-anak ini. 

"Pokoknya untuk seting dengan figuran ini saja, satu hari harus mengeluarkan dana setengah juta, " kata Eros Djarot selaku produser film yang diangkat dari cerita Harry Tjahyono ini. 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988



GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON


GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON, (Cerita Lawas) Boleh percaya  tidakpun tak apa. Di zaman modern serba canggih sekarang ini, ternyata sebagian masyarakat, khususnya orang-orang tua di Jawa baik itu Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat, masih menganggap malam Jumat adalah malam "keramat" terlebih lagi malam Jumat Kliwon. 

Karena dianggap keramat, orang yang melakukan aktivitas kerja, sesaat, harus berhenti dan istirahat. Bila dilanggar akan terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Sekali lagi, inipun boleh percaya, tidak pun tak apa. 

Mungkin hanya kebetulan mungkin pula malam "keramat" itu minta korban. Gino Makasutji, di malam Jumat Kliwon ketika suting film "Perempuan Berambut Api" menjadi korban. Ia jatuh dari pohon besar, dari ketinggian sekitar 3,5 meter. Karena patah tulang, malam itu ia tak lagi bisa melanjutkan sutingnya. Ia dilarikan ke dokter terdekat, lalu siangharinya diobati dukun ahli patah tulang. 

Sebenarnya tengah malam keramat itu, seluruh kru dan pemain sudah istirahat menikmati kopi hangat dan makan tengah malam. Kebiasaan seperti ini menurut Lilik Sudjio, sutradara film tersebut, memang bukan hanya pada malam Jumat tapi setiap malam. 

"kita kerja, harus ada istirahatnya. Sebab kalau di paksakan pasti hasilnya juga tidak baik. Apalagi kerja di malam hari, kondisi kesehatan mudah rapuh karena angin malam. Karena itu tak mau terlalu forsir," tutur Lilik. 

Sebagian karyawan waktu itu sambng Subekto, pimpinan unit film, memang sudah ada yang mulai bekerja, mengatur lampu dan set agar segera bisa suting lagi. "Disaat karyawan itu sedang sibuk kerja, tiba-tiba Gino teriak : "Oke!" lalu ia lari memanjat pohon besar yang dijadikan rumahnya .  Sampai di atas, ...buk... ia lepas, jatuh menimpa cabang pohon, baru kemudian jatuh ke tanah, " jelas Bekto. Kalau tidak jatuh kepala Gino pasti pecah karena jauthnya kepala duluan. 

"Pohon besar itu memang angker, " tukas Gino. Waktu itu, lanjutnya , perasaan sutradara sudah memberi aba-aba siap action. "Maka sayapun segera lari," tegasnya. 

Jangankan aba-aba action, menurut Bekto, menata lampu pun belum selesai. 

Ia juga bilang, sebagai orang Jawa, juga atas saran warga setempat untuk mengadakan selamatan, telah dilakukan. "Namanya juga mohon keselamatan.Setiap kita akan melangkah, kita kan harus berdoa. Apalagi kerja di tengah hutan, dimana masih banyak pohonnya yang besar. Roh roh halus, masih banyak. Kita harus hati-hati, " kata Bekto. 

Memang, sambung Lilik Sudjio, sebagai orang beragama, berdoa sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, menjadi keharusan. "Soal tempat angker, roh halus dan sebagainya kita ini ya percaya nggak percaya.

Akibat kejadian malam Jumat Kliwon itu, sutradara, kameramen, pemain dan siapa saja yang terlibat dalam produksi film Perempuan Berambut Api selalu berhati-hati. "Apalagi film ini sutingnya hampir 75% harus adegan malam, " jelas Lilik Sudjio. 

Menceritakan pengalaman naasnya di malam Jumat Kliwon itu, Gino Makasutji pemain film tampang Indo itu bilang "Saya sebenarnya baru kali ini mengalami kecelakaan suting film. Soal adegan-adegan keras yang menuntut ketramprilan, bagi saya hal yang biasa. memang saya lebih banyak main film action. Dan kali inipun sebagai Datuk Panglima Kumbang, tokoh orang sakti , tentu saja saya harus menunjukkan ketrampilan saya. Di samping mungkin benar, tempat itu angker, saya lagi naas,".

Menurut perasaan Gino, sebelum jatuh, ada orang yang menepuk nepuk bahunya, lalu mendorongnya. Setelah itu, ia tak tahu apa-apa lagi. "Saya sadar setelah digotong, " kenangnya. 


~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Thursday, January 29, 2026

FEBBY RENASARY LAWRENCE

 


FEBBY RENASARY LAWRENCE, memasuki era 90an wajah-wajah baru yang ranum dan membangkitkan gairah, tetap muncul di pentas artis Indonesia seberapapun kusut kondisi perfilmannya. Inilah dia salah satu contohnya, Febby Renasary Lawrence, si jelita Indo Jerman yang masih 19 tahun di tahun 1993 yang juga menjajal peruntungan di dunia film, sinetron dan model. 

Film yang menampilkan wajahnya pertama adalah Rini Tomboy garapan sutradara IKJ Noto Bagaskoro yagn langsung menjadi film pilihan FFI 1992. 

Lalu dia di boyong ke Jepang untuk membintangi sinetron yagn dikonsumsi di Jepang. "Febby sebulan tinggal di Tokyo," katanya. Dan begitu kembali, ia berperan di  film Gadis Metropolis garapan sutradara Slamet Riyadi. Selanjutnya film-film bertema erotis ia bintangi sesuai dengan tuntutan jaman , dan masuk jajaran artis-artis 'panas' meski kemudian ia juga bermain dalam sinetron seperti Serpihan Mutiara Retak. 



Wednesday, January 28, 2026

ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT


 ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT, Hidup Harus Ulet dan Tekun! Hidup itu tidak gampang, penuh tantangan dan untuk menghadapi segala tantangan itu, perlu perjuangan dan ketekunan, keuletan agar meraih sukses yang diharapkan. 

Demikian papar mantan juara IPSI se Jatim yagn sejak akhir tahun 1985 menggeluti dunia film, ketika wawancara disela-sela suting "Anak Anak Kolong" arahan Lukmantoro yang berlokasi di Cirebon - Kuningan dan sekitarnya. 

ATIN MARTINO yang mengawali karir sebagai film figuran lewat film perdananya "Menerjang Badai" arahan Dasri Yacob ini mengaku sejak usia SD hobby nonton film action. Dari situlah ia tertarik belajar bela diri Pencak Silat dan menggemari kung fu. 

Anak bungsu dari pasangan Soedirman dan Soenarti ini terlahir di kota Surabaya tepatnya 16 Desember 1962. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia dituntut mengikuti jejak kakak-kakaknya belajar hidup mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. 

Itulah sebabnya ia memutuskan memilih film sebagai ladang hidupnya. Siapa bilang film tidak bisa diharapkan, buktinya saya berangkat dari bawah sebagai figuran. Modalnya itikad dan semangat juang, saya bersikeras menggeluti dunia film ini sampai prestasi puncak, tutur arek Suroboyo penggemar musik cadas ini. 

Alhamdulillah sudah banyak film yang saya geluti diantaranya Mat Ireng, Wiro Sableng dalam judul Kapak Maut Tutur Sepuh , Anak-anak Kolong dan lain-lain yang sebagian besar film aksi, " ujar Atin Martino yang berperakawan kekar dengan tinggi 172 cm . 

Aktor yang mulai naik daun ini sudah beberapa kali memegang peran utama. Namun ia sendiri tidak pernah merasa puas, ia selalu mengevaluasi diri dari film yang satu ke film lain, disamping menimba pengalaman dari para senior dan sutradara. 

Setiap insan pasti merindukan keluarga, akan halnya saya dalam kegiatan syuting terkadang muncul rasa rindu. Dalam hal ini, kita harus bisa membagi jadwal antara profesi dan kepentingan keluarga, dengan penuh pengertian dan ketulusan hati, " ucap Atin . 

Menyinggung soal honor main film, ia mengelak. Ini rahasia dong dan rasanya kurang etis diketahui secara umum kilahnya. Pokoknya lumayan buat kebutuhan "dapur ngebul" dan prinsip hidup saya, menerima apa adanya dengan penuh kesadaran ikhlas dan tabah menghadapi tantangan hidup, ujar laki-laki yang benci kepada orang yang tidak jujur dan munafik ini. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, January 27, 2026

ADVENT BANGUN, PUNYA DUA KARAKTER


 ADVENT BANGUN, PENULIS SKENARIO DAN CERITA  GENTA PERTARUNGAN Jangan pingin jadi juara kalau anda tak bisa menaklukkan diri sendiri. Ini bukan nasihat, tapi setidaknya ini wanti-wanti yang harus di dengar oleh setiap orang yang akan memasuki perguruan silat atau ilmu bela diri yang lain. 

Advent Bangun, Jawara dalam soal beran tem dalam film, memegang kuat falsafah ini. Dan dia laris membintangi film laga. Sebuah film yang juga masih berkisar soal bak buk muncul. Ide ceritanya diilhami oleh pengalaman Advent sendiri. Film itu berjudul Genta Pertarungan yang mempunyai judul asli "Sang Pemenang". 

"Ide itu memang muncul dari pengalaman pribadi, yang kemudian saya angkat dalam cerita. Tentu perlu di dramatisir sedikit supaya tambah seru, " kilah Karateka penyandang DAN IV ini dengan suara mantap dan menggelegar. 

Film ini menceritakan tentang seorang karateka yang mempunyai keinginan besar untuk menyabet kejuaraan terbuka, dalam sebuah perlombaan. Padahal oleh isteri dan mertuanya, sang jagoan ditentang mati-matian karena khawatir akan terjadi apa-apa. Sampai-sampai pakaian karate yang sering di gunakan di bakar oleh si mertua. Si jagoan ini makin penasaran. Pada saat pertandingan berlangsung, ia sudah mulai cedera. Tangannya luka parah, bahkan nyaris patah tulang. Apalagi ia tahu kalau ada lawannya yang menggunakan dopping. Ia ingin menaklukkan lawannya sekaligus menaklukkan diri sendiri. Akhirnya iapun memenangkan pertandingan itu, menjadi sang pemenang. 

"ini memang pengalaman pribadi saya. Sebenarnya saya dilarang ikut karate oleh orang tua dan kakak saya. Darisinilah ide itu saya tulis dalam sebuah cerita dan setelah saya sodorkan pada produser, ernyata diterima, " tambah Advent Bangun. 

Film ini jelasnya mengisahkan heroisme seseorang. Benar begitu bung? "Lho saya kan jagoan, tapi saya nggak boleh sombong. Apalagi saya hidup di Melayu. Kan haru srendah hati. Meski saya orang Batak, tapi saya pernah lama hidup di Yogya. Makanya saya punya dua karakter, Batak dan Jawa.. haha.

~MF

Monday, January 26, 2026

CHRISTINE ARIESTA


 CHRISTINE ARIESTA. Namanya sempat mencuat lewat film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta". Dalam film yang sarat konflik itu, Christine Ariesta berperan sebagai Tasia berpasangan dengan pemain kelas Citra Deddy Mizwar dan bintang remaja Gusti Randa. 

Tasia yang Christine perankan, dikisahkan sebagai remaja yang lahir dari keluarga broken home. Lantaran kekurangan kasih sayang, Tasia akhirnya menjadi cewek pemberontak yang badung bukan kepalang. Peran yagn dibawakan itu betul-betul menantang dan katanya bertolak belakang dengan watak aslinya. 

Padahal, mahasiswi Akademi Bisnis Manajemen, Jakarta ini baru pertama kali itu terjun main film. Ia memang terbilagn bintang film berbakat. Kemampuan aktingnya cukup lumayan, diatas rata-rata pemain sekelasnya. 

Sebelum main film, gadis berbibir tipis ini dikenal sebagai foto model. Wajahnya yang unik dan fotogenic kerap nampang menghiasi sampul majalah, kalender, dan iklan. Terutama iklan yang berbau kecantikan seperti shampo , bedak dan sabun. 

Selain itu, Christine juga aktif di bidang drama. Khusus di bidang yang satu ini, dia sempat berlakon unik dalam sandiwara rakyat Sunda, "Nyai Kadarsih" produksi TVRI Stasiun pusat Jakarta. 

Sejak tampil dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" Christine sempat berkali-kali ditawari main film panas yang berbau "ranjang" tapi tawaran itu ditampiknya mentah-mentah. Takut adegan syur? "Ah enggak, melakukan adegan seperti itu bagi saya sih nggak terlalu jadi masalah, itu kan cuma di film. Saya nggak munafik kok, " kilahnya. 

"Soalnya saya melihat ada itikad tiak baik di balik tawaran tersebut. Tahu kan itikad tidak baik?, nah itulah yang bikin saya ngeri," tukasnya lagi. 

Lantaran kukuh terhadap prinsip, untuk sementara ini Christine terpaksa cabut dulu dari dunia film. Daripada nganggur dan kesepian, dia kemudian minggat ke Pulai Bali. Ngapain? "Cari uang dan pengalaman, " sahutnya singkat. 

Di Bali cewek kelahiran 19 April 1967 ini bekerja di Sube'c Disco Mirror Club. Konon gajinya lumayan besar. Paling tidak cukup buat 'menghidupi' diri sendiri, tanpa harus bergantung pada orangtua. 

Konon Orangtua semula menentang keras dan sempat uring-uringan melihat putri tercintanya nekat jadi pekerja malam. Apalagi di diskotik yang konon selalu sesak dan ramai dibanjiri bule-bule. Christine sendiri mengakui selama bekerja disana, banyak pengunjung yang suka iseng, juga tak sedikit yagn terang-terangan mengajak kencan. 

Cukup lama juga Christine malang melintang di Bali. Setelah bosan, dia lantas balik ke kota asalnya Jakarta.  Lewat bantuan seorang kenalan, Christine akhirnya bekerja di Ebony Diskotik, sebagai lighting jockey. 

"Tugas Saya di Ebony mengatur lampu disco, agar ruangan lebih hidup dan alunan musik  terasa lebih manis bersma paduan lampu-lampu itu. 

~076/44/Th.V/27 Mei-9 Juni 1989

Sunday, January 25, 2026

SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG


 SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG (kisah lawas). Si Doi merupakan film ketiga yang dibintang utamai oleh Sally Marcellina, cewek kelahiran Jakarta, 28 Juli 1969 berdarah campuran ayah Manado dan ibu berasal dari Minang. Semula judul film tersebut "Catatan Si Doi" tapi atas berbagai pertimbangan akhirnya cukup dengan "Si Doi" saja. Ceritanya seakan akan kebalikan Catatan si Boy. Yang jadi idola dalam Si Doi justru seorang cewe yagn sering nangkring diatas mobil balap Porsche. 

Di mulai sebagai figuran lewat film "Jejaka Jejaka", Sally berperan sebagai gadis cakep diincar Richie Ricardo. Kemudian muncul pula dalam film "Birahi dalam Kehidupan", dan mendukung beberapa episode ACI yang pernah ditayangkan di TVRI. 

Sudah kerasan di film rupanya, "Masih kepingin lihat-lihat dulu. Main film sekedar menyalurkan hobby, mengisi waktu sementara masih nganggur. Suatu saat nanti saya akan kuliah, " katanya. Sementara belum kuliah, Sally memang kepingin sepenuhnya konsentrasi di film. Merasa enak di film, terutama suasana kerjanya maupun pergaulannya. Kebetulan kedua orang tuanya mendukung kehadiran Sally sehingga bertambah licinlah jalan kearah itu. 

Nama Sally mulai dikenl sesudah membintangi "Macan Kampus" mendampingi Rano Karno. Sesudah itu Sally di gaet Andah Kencana Film untuk membintangi "Putri Kuntilanak" menyusul "Si Doi" dan "Si Gobang" produksi Virgo Putra Film. Dua film terakhir disutradarai oleh Atok Suharto. Bedanya kalau dalam film Si Doi sebuah film remaja masa kini sedangkan Si Gobang bercerita Betawi tahun 1800an.

Bedanya lagi dalam film ini Sally berperan sebagai Jamilah gadis Betawi tempo doeloe dengan latar belakang budaya betawi jaman baheula. Untuk menghayati tokoh Jamilah dalam si Gobang ini Sally cukup repot juga. Bayangkan memerankan sebuah tokohyang bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari, cukup bikin ia repot. "Tapi saya senang, karena dengan begini saya merasa ditantang, " kilahnya. Saya memang kepingin mencoba macam-macam tema, sehingga dengan begitu saya bisa mengukur kemampuan saya di film. Saya kepingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di film, " lanjutnya.

Tapi konon tidak berarti Sally kepingin selamanya di film. "Nanti dulu, saya malah kepingin mendalami sastra Prancis, karena selain senang juga perhatian orang kearah ini masih belum sebanyak yan gmemilih jurusan sastra inggir misalnya. Di film sekaligus bisa di jadikan batu loncatan untuk memupuk karir di belakang hari. Setidak-tidaknya kalau saya selesai kuliah nanti, orang akan mengenal saya. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mencari lapangan kerja yang saya minati, " katanya. 

Apa bermaksud meninggalkan dunia film? Sementara ini memang belum terpikir kearah itu. "Tapi suatu saat nanti mungkin saya akan meninggalkan film dan terjun ke masyarakat. Bekerja misalnya, nah untuk itu kan saya musti punya bekal. " katanya. 

Bagaimana dengan adegan cium dan ranjang? Saya tidak tabu dengan adegan-adegan semacam itu. Asal wajar dan sesuai dengan alur cerita, ya boleh boleh saja, katanya bernada klise. Memang cewek manis yang satu ini kehadirannya di beberapa film cukup menantang. Salah satu adegan Si Doi yang terpampang penghias kalender 1989 menampilkan sebuah gambar yang cukup hangat. Pahanya tersibak keatas karena kakinya yang mulus nangkring diatas mobil warna merah yang ikut menghias film Si Doi. Posenya yang menantang itu cukup berbicara bahwa pendatang yang satu ini cukup berani sepanjang beralasan.  ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989


Saturday, January 24, 2026

KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, ARWAH CANTIK MENCARI POTONGAN TANGANNYA

 


KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, ARWAH CANTIK MENCARI POTONGAN TANGANNYA, Setting kisah berawal dari zaman Belanda. Willem Van Larsen beristrikan pribumi cantik, Kismi. Namun betapa murkanya Tuan ini, demi memergoki istrinya berbuat serong dengan seorang pemuda bungalownya. Tanpa ampun lagi ia menembak mereka . Si Pemuda kelojotan tewas di tempat. Tapi Kismi masih sempat lari keluar bungalow kendati dadanya telah ditembus peluru. Disiram hujan lebat, ia kabur ke hutan. 

Konon, Kismi memakai cincin Zippus dari Mesir Kuno di jari manis tangan kanannya. Itu sebabnya ia tak gampang-gampang di bu nuh, kecuali bila cincin sakti itu dicopot. 

Tuan Willem yang kalap terus memburu isterinya. Dengan kejam ia memeng gal tangan kanan Kismi. Barulah Kismi terkulai tak berdaya lagi. Selruh peristiwa mengerikan itu disaksikan oleh Kosmin, si pembantu setia merangkap sopir. Tuan Willem memaksa Kosmin merahasiakan kekejamannya dengan sejumlah uang yang besar. 

Beberapa tahun kemudian, baik Tuan Willem maupun Kosmin telah lama tiada. Bungalow peninggalannya terlihat angker menyeramkan. Sering terjadi peristiwa yang meminta korban jiwa disini. Kabarnya setiap pria yang menginap disini pasti bertemu seorang wanita jelita yang mengajaknya bercinta, Imbalannya, malam berikutnya si pria ditemukan mati bu nuh diri. 

Peristiwa ini pun dialami mahasiswa Norman. Kematiannya yang tragis sangat membuat teman-teman sekostnya penasaran. Apalagi menjelang ajal, Norman sempat menyebut-nyebut nama Kismi. 

Menyusul Deny dan Tigor pun bertemu dengan wanita misterius tersebut. Beruntun mereka juga menemui ajal secara mengenaskan. 

Mahasiswa ke empat, Hamsad berjuang keras untuk mengungkap misteri kematian ketiga rekannya. Dengan berani menyatroni bungalow angker. Sama seperti yang lainnya, iapun didatangi dan bercinta dengan Kismi. Namun Hamsad selalu waspada, berhasil mengatasi kemurkaan arwah Willem Van Larsen yang mendadak muncul. 

Terbukalah rahasia kalau arwah Tuan Willem masih terus mengawasi arwah isterinya. Ialah yang mengakibatkan kematian pemuda-pemuda yang berani berhubungan dengan Kismi. 

Hamsad terhindar dari maut. Bahkan bisa menemukan potongan tangan Kismi yang mengenakan cincin Zippus. Selama ini arwah Kismi memang gentayangan untuk mencari tangannya yang terpenggal itu. 

Dengan khidmat Hamsad menyatukan kembali tangan dengan jasad Kismi yang masih utuh karena disimpan Tuan Willem dalam peti kaca hampa udara ditempat rahasia. 

Kembalinya si Janda Kembang diperankan oleh Sally Marcellina, Ibrahim Azhari, Irfan Yudha, Eddie Gunawan, Pak Tile, Him Damsyik dan lain-lain dengan sutradara Sisworo Gautama Putra yang merupakan film terakhir dari Sisworo. ~MF 174/141/TH IV, 6 - 19 Maret 1993

HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH

 


HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH (Kisah Lawas).  Bintang film bertubuh langka Him Damsyik yang kembali mencuat lewat tokoh "Datuk Maringgih" dalam mini seri "Situ Noerbaya" kena getahnya. Tidak sedikit makian yang meluncur dari mulut pemirsa terhadap Datuk Maringgih, padahal pemutaran "Siti Noerbaya" telah lama berlalu. Makian atas keberhasilan Damsyik memerankan Datuk yang kaya, sombong, angkuh dan bermuka buruk itu. 

Baginya, permainanya dalam mini seri itu tidak ada yang perlu dibanggakan. 

"Saya rasa biasa-biasa saja, nggak ada yang luar biasa. Kalaupun dikatakan berhasil, itu cuma perasaan masyarakat saja, " Ucap Damsyik merendah. 

Meski peran antagonis, tapi Damsyik tidak melihat adanya antipati masyarakat terhadapnya. Itu terbukti ketika ia melakukan perjalanan ke tanah kelahirannya , Teluk Betung, Lampung.  "Sambutan disana luar biasa. Jalanan macet total, " katanya. Semuanya positif, begitu juga ketika berada disalah satu bank di Teluk Betung. Seluruh kegiatan bank tersebut berhenti total. Karyawan maupun manajer bank memberi selamat. 

Yang paling merepotkan, kata Damsyik, ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Begitu tiba di Bakauheni, tepatnya saat memasuki kapal penyeberangan, ia langsung disambut oleh para staf kapal tersebut lewat pengeras suara. Karuan saja seluruh penumpang yang ada disitu menyerbu tempat Damsyik berada . Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, Damsyik terpaksa diselamatkan dan di boyong ke anjungan kapal. 

"Sebenarnya sih nggak apa-apa. Cuma staff kapal takut terjadi sesuatu. Maklum namanya orang banyak. Mereka cuma mau salaman, ucapin selamat, foto-foto. Begitu juga waktu di Teluk Betung, ya mungkin karena mereka bangga terhadap putra daerah. Sayakan dilahirkan dan dibesarkan disana, " paparnya. 

Sambutan itupun menurutnya merata, mulai dari anak-anak, remaja maupun orang tua. Hanya saja, katanya yang paling banyak adalah kaum wanita. 

"Yang saya lihat memang ada kemajuan. Apresiasi masyarakat terhadap sinetron atau film kita cukup meningkat. Terlebih mengapresiasikan akting seorang pemain. Buktinya mereka semua salut, bukan benci, " kata Damsyik bangga. Namun berdasarkan pengamatan dari beberapa pemirsa, ada rasa dendam yang amat dalam terhadap Damsyik yang berperan sebagai Datuk Maringgih itu.

"Kalau saya ketemu itu orang, saya mau timpuk pakai batu, " kata seorang pemuda di bilangan Tanjung Duren, Tomang Barat, Jakarta Barat yang enggak disebut jati dirinya. Semula memang pemuda yang satu ini merasa biasa-biasa saja. Ia sadar kalau itu cuma kebolehan seseorang dalam memainkan peran tapi setelah ia menyaksikan episode ketiga sinetron "Siti Noerbaya" emosinyapun tiba-tiba muncul. Apalagi setelah melihat penderitaan Noerbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih. 

"Mam pus kek orang itu," celetuk beberap aanak kecil saat menyaksikan sinetron episode ketiga itu dirumah salah satu keluarga di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

MF 140/107 Th VIII/9-22 Nov 1991

Friday, January 23, 2026

EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH

 


EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH, DARI RAJAWALI KE MANUSIA RAKSASA. (Kisah lawas). Para penonton film "Saur Sepuh" (Satria Madangkara) pasti sudah menyaksikan bagaimana hebatnya Brama Kumbara, Satria Madangkara itu, menghancurkan musuh-musuhnya. Dari memenggal kepala, di tembus kerus tubuhnya namun tidak apa-apa, menghancurkan tubuh lawan-lawannya hingga jadi debu, sampai memanggil Rajawali tunggangannya .

Brama memang hebat. Tapi untuk film, seorang lelaki berkulit gelap berada di belakang kehebatan Satria Madangkara itu. Orang itu adalah El Badrun, lelak kelahiran 25 Januari 1950. Dari kerjanyalah muncul efek-efek khusus yang membuat kesaktian Brama Kumbara seperti di Radio, muncul dalam bentuk visual di layar bioskop.

Tapi itu belum apa-apa. Masih kerja efek khusus yang biasa, " ujar badrun. Dan memang, yang lebih dari Badrun ketika membuat efek khusus "Saur Sepuh I" adalah ketika ia menciptakan burung Rajawali Raksasa yang menghabiskan bulu angsa seratus ekor. Dengan teknik Front Projection, Badrun membuat burung itu seakan terbang di angkasa raya, membawa penunggangnya meskipun visualisasinya belum begitu sempurna. 

Kini, seperti tak ingin puas dengan kerja pertamanya tersebut, Badrun punya gagasan baru. "Untuk film Saur Sepuh II yang berjudul "Pesanggrahan Keramat", saya akan membuat manusia raksasa. Tingginya sekitar 30 meter, " ujar Badrun saat suting pertama film Saur Sepuh II. 

Untuk membuat manusia raksasa itu menurut Badrun, bahannya dari spoon plastik denga rangka besi serta rotan. Manusia raksasa itu merupakan sosok Brama Kumbara setelah ia marah dan melakukan tiwikrama atau semedi," tuturnya. "Dalam cerita ini digambarkan Brama marah lalu melakukan semedi hingga tubuhnya berubah jadi raksasa. Untuk membuat itu, saya masih tetap menggunakan  teknik front projection, " tambah lelaki yang sengaja pergi ke Bavaria - Jerman, hanya untuk memperdalam pengetahuannya  soal efek-efek khusus tersebut. 

Tentang efek-efek khusus lain yang akan ditampilkannya di dalam "Saur Sepuh II", dimana Badrun menjadi penata artistik, ia menyebutkan masih sama seperti yang pertama. "Masih mengandalkan trik-trik kamera, " jawabnya. "Tapi, selain mempertahankan imej kesaktian Brama seperti tergambar pada Saur sepuh I, kali ini kita mencoba memberi beberapa tambahan lainya," katanya. 

"Tapi saya punya target. Kalau pembuatan raksasa ini berhasil, saya yakin kita bisa membuat film-film lain yang lebih spektakuler. Film anak-anak atau film seperti "King kong" atau "ET" dan lainnya, " ujar Badrun optimis. 

Tapi untuk bisa menghasilkan kerja yang bagus bagi keperluan pembuatan film-film seperti itu, Badrun mengharap karyawan film yang terlibat mendapat imbalan yang lebih pantas dan layak. "Kalau tidak, sulit hal itu bisa di wujudkan, "katanya. 

"Saya sendiri memang mendapat bayaran yang cukup. Tapi teman-teman kerja saya masih dibayar sangat murah. Padahal siapapun tahu saya tidak bisa bekerja sendirian, " tambahnya. 

"Betul, saya akan terus memperjuangkan honorarium rekan-rekan kerja saya . Karenanya saya setuju sekali dengan sikap George Kamarullah yang memilih mundur dari dunia film karena ketimpangan honorarium yang di terima karyawan film tersebut, " tegasnya. " Tapi sayangnya karyawan film kita tidak kompak. Tidak bersatu. George contohnya, tidak ada yang mendukung dia, " kata Badrun mengakiri keluhannya. 

~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989



Thursday, January 22, 2026

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2. Setelah sebelumnya membicarakan Jawara-jawara film Indonesia yang berantagonis, selanjutnya adalah jawara-jawara  lain yang nasibnya sedikit lebih beruntung. Barry Prima, Fendy Pradhana, Erick Soemadinata dan Baron Hermanto, adalah jawara-jawara film aksi yang nyaris tak pernah jadi antagonis. Barry misalnya sejak pertama main film, ia langsung kebagian peran protagonis. Jadi jagoan dan itu bertahan hingga saat ini (1989)dengan bayaran paling tinggi diantara para jawara film aksi lainnya, yakni 150 juta pertahun.

Yang senasib sama seperti Barry adalah Fendy Pradana. Sejak main film pertama kali dengan Sisworo Gautama Putra lewat film "Malam Satu Suro" Fendy terus kebagian peran jagoan. Belum banyak film yang dibintanginya memang. Tapi posisinya sebagai jawara tampaknya semakin kuat. "Tapi kalau ada tawaran main film dalam jenis lain, saya pasti mau. Jadi tidak terus menerus fight setiap main film, " ujar mantan karateka sabuk coklat ini. 

Beda dengan Barry dan Fendy, adalah Baron Hermanto. Putra aktor Bambang Hermanto ini terjun ke film pertama kali malah bukan  sebagai pemeran film aksi. "Saya main pertama kali film "Permata Biru" tahun 1984. Entah kenapa belakangan ini  saya kok banyak main dalam film-film aksi, " ujarnya yang juga seorang karateka. Baron sendiri mengaku sudah banyak ikut main dalam film Indonesia. 

"Memang saya  sendiri sudah kenal film sejak masih kecil. Tapi kalau main film setelah usia 20 tahun, katanya. 

Jawara lain yang beruntung adalah Erick Soemadinata. Mantan pegawai sebuah biro swasta ini, begitu main film memang tak langsung jadi jagoan. "Mulanya saya jadi  figuran dan kebagian peran-peran kecil pada tahun 1986", ujarnya. Tapi nasib baik membawa lelaki yang pernah belajar silat di PS Panglipur ini ke peran utama lewat film "Si Gobang I dan II". Sejak itu belum banyak film yagn ia bintangi memang. "Tapi saya bertekad untuk terus hidup di film. Terserah jadi antagonis atau apa. Dalam film aksi atau film jenis lain ," tuturnya. 

Memang masih ada beberapa  Jawara lain yang malang melintang dalam film aksi kita ini. Tapi nama-nama diatas agaknya sudah cukup sebagai jaminan bagi mengukur niat kemampuan dan kapasitas mereka sebagai pemain film. Namun entah kenapa sampai  saat ini mereka melulu kebagian porsi sebagai tukang-tukang be r a n t e m di film. Tukang kelahi dan nyaris tak pernah dilirik niat baik dan keinginan mereka untuk benar-benar berakting. "Padahal film aksi kan tak cuma ciat ciat. Dan  kami juga tak cuma bisa berciat ciat. Tapi kesempatan itu kayaknya belum datang ya, ?" tutur Advent . 

Advent benar , film aksi memang bukan melulu film ciat-ciat. Tapi agaknya kecenderungan untuk membuat film aksi adalah film yang melulu  b e r a n t e m , sudah begitu mentradisi. Akibatnya para jawara film Indonesia itu, jarang dilirik, tak terkecuali dalam ajang Festival Film Indonesia. Kenyataan seperti itulah yang membuat Advent Bangun misalnya mencoba merangkum. "Saya ingin peran yang lain. Film yang lain yagn tak melulu aksi. Terserah film drama atau komedi, " ujarnya. 


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1  Film Indonesia adalah film dengan beragam tema. Dan kalau film aksi lebih banyak peminatnya , jangan salahkan produser atau sutradara, tapi tanyakan pada selera. Lihat saja, dari 99 judul film yang ikut FFI (1989), 39 judul diantaranya adalah film aksi dan 60 judul lainnya baru film-film untuk jenis drama komedi dan horor. 

Berdasar dari data it saja, wajar kalau kemudian film Indonesia di tahun tersebut di dominasi oleh pemain-pemain yang bisa ciat ciat dan mahir baku hantam, tapi minus kemampuan akting. Simak saja, bandit dalam film Indonesia adalah bandit dengan ciri-ciri yang mudah ditebak. Berotot menonjol dan berwajah keras. Kaku dalam tindakan dan sinis kalau bicara. Antagonisme dalam film Indonesia agaknya memang lebih gampang agaknya diwijudkan lewat ciri-ciri begitu. Lagi pula , siapa di negeri ini yang mau menerima gambaran lain, seorang bandit adalah sosok yang tampan dan berhati mulia?.

Kebalikan dari peran antagonis itu adalah sosok peran buat tokoh protagonis. Sosok -sosok yang digambarkan begitu gagah, tampan, jagoan, lembut dan berhati mulia. Dan perbedaan profile karakteristik tokoh yang hitam putih itu justru sangat kentara dalam film-film aksi kita. Coba saja, apa ada produser aau malah penonton yang mau menerima jika Barry Prima atau Fendy Pradana jadi bandit? sebaliknya apa mungkin Advent Bangun atau Yoseph Hungan jadi jagoannya. Bisakah identik aksi dalam film Indonesia denga akting?

"Seharusnya bisa. Tapi kondisi perfilman di Indonesia tampaknya terlanjur membentuk seorang antagonis untuk tetap antagonis, " ujar Piet Pagau salah satu pemeran antagonis film Indonesia. Dan memang contoh itu sudah dibuktikan oleh Piet sendiri maupun beberapa pemain lain, Advent Bangun misalnya. Sepanjang sejarah keterlibatan dalam dunia film, jarang sekali memerankan peran lain selain peran antagonis. Di film "Siluman Kera" Advent tidak main sebagai antagonis. "Saya juga nggak tahu kenapa begitu. Padahal saya yakin bisa main jadi apa saja. Terus terang saya rindu lho dapat peran yang tidak antagonis melulu, " ujarnya. 

Biar antagonis Advent toh tergolong jawara kelas satu dalam film Indonesia. Ada beberapa nama lain yang mendampinginya dan tak pernah luput saban film aksi dibuat. Yoseph Hungan misalnya , lelaki bertubuh kekar dan bentuk kulit hitam ini sejak pertama kali terlibatdi film tahun 1987 perannya melulu antagonis. "Saya tidak punya cita-cita main film lho. Saya ikut main film karena diajak Willy Dozan ketika bikin film "Pernikahan Berdarah" tapi kok rasanya main film itu enak. Saya bisa nabung, " ujar DAN II Internasional Tae Kwon Do yang mantan pegawai Dolog di Semarang ini. 

Padahal sebagai Tae Kwon Doin, prestasi Yoseph tak kelanga tanggung. Delapan kali ia secara berturut-turut memegang gelar juara nasional untuk empat kelas sekaligus. Tapi rupanya film memberi peluang lain. Akibatnya dia mengundurkan diri dari kontingen Sea Games Indonesia tahun 1989."Soalnya saya tidak bisa meninggalkan film. Itu tempat saya cari makan. " katanya jujur. 

Peluang itu pula yang menyeret Syarief Friant masuk dunia film. Terjun pertama kali ke film tahun 1982 lewat "Pendekar Liar" sampai tahun 1989 Syarief mengaku sudah ikut main dalam 40 judul film dan semuanya kebagian peran antagonis. "Tapi saya pernah ikut film komedi lho. Entah kenapa Arizal mengajak saya main dalam film "Sama Sama Enak". Saya sendiri maunya bisa ikut main dalam film jenis apa saja dan tidak melulu film aksi, " kata bekas Karateka penyandang sabuk Coklat ini. 

Sebagai antagonis, baik Advent Bangun, Yoseph Hungan maupun Syarief Friant agaknya memang memenuhi syarat-syarat seorang antagonis untuk film Indonesia. Selain bertubuh kekar, tinggi besar, mereka pun bertampang serem dan punya dasar-dasar fight yang memang dibutuhkan. "Tapi saya ingin belajar. Saya ingin lebih dari peran yang saya mainkan selama ini, " ujar syarief. Keinginan itu pula yang mendorong Yoseph Hungan  dan Advent Bangun untuk terus menerus jadi antagonis. "Apapun saya bisa kalau diberi kepercayaan, " ujar mereka. BERSAMBUNG BAG 2


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988