Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Sunday, March 22, 2026

FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN


 FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN. Langkah Langkah Pasti merupakan karya ke 7 sutradara Acok Rahman, Produksi ke II PT. Metro Vistaria Film . Pendukung film ini cukup bisa diandalkan. Menggunakan artis besar yagn sebagian remaja seperty Hengky Tornando, Sally Marcellina, Vivian Boyoh, Simon Cader, Johny Indo, Rudy Salam dll. Sementara tokoh old crack Muni Cader yang biasa dapat peran antagonis, dalam film ini diberi peran sebagai orang baik yagn selalu jadi tumpuan nasihat dan harapan anak-anak muda. 

Film laga ini oleh Acok Rahman sengaja tidak di visualikan untuk lebih banyak meletuskan senjata api. Yang dominan justru fight menggunakan tangan kosong. 

"Saya ingin menonjolkan Indonesianya di film ini. Jika dengan senjata modern seperti aetion modern Barat atau HOngkong, saya rasa kuran sreg. Ada adegan mobil nyebur, atau menembus pertokoan atau lewat etalase kaca. "Saya perlu menampilkannya, mengingat cerita itu sendiri, kata sutradara Acok Rahman, yang sudah menangani 7 film, sejak film pertamanya "Mandi Madu" pada tahun 1984.~MF 095/63/Tahun VI, 17 Feb - 2 Mar 1990


SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


TIEN ISTRI BZ KADARYONO

 


TIEN ISTRI BZ KADARYONO, (berita lawas). BZ Kadaryono salah satu nama sutradara yang terkadang jadi bulan-bulanan pemain orbitannya, tentu saja yang dimaksud pemain cewek. Berbagai tudingan pun mampir bertubi-tubi bahwa sutradara bertubuh jangkung ini cenderung memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti memacari si pemain atau mengintiminya dengan maksud-maksud tertentu. Benar atau tidak kabar burung ini hanya yang bersangkutan yang lebih tahu. 

Tapi istrinya, Tien Kadaryono malah membenarnkan, meski tidak seratus persen,. "Omongan oran gluar itu pernah saya buktikan kok. Cuma saja kita orang-orang tua berpikir panjang kalau sampai persoalan ini menjadi malapetaka dalam keluarga. Ya sudahlah selama ia masih memperhatikan kebutuhan anak-anak dan saya, macam gituan saya redam saja, " tukas Tien maklum. 

Karena Tien juga sebagai pemain sering mendapat godaan dari sutradara atau sesama pemain. Di lokasi itu segalanya bisa saja terjadi, namun Tien bilang kompensasi itu perlu asal tidak melahirkan ekses. Nah, bagi Tien soal pergi ke disko misalnya, tetap masih suka. penah suatu saat Tien juga dikait-kaitkan dengan Hengky Tornando. "Ya saya sering jalan bareng dengannya, namun tuduhan itu nggak mutlak, karena disamping Hengky saya ditemani Lina Budiarti,  papar Tien. 

Ulah suaminya yang sering dipanggi Mas Yon, Tien bilang wajar-wajar saja. Yang namanya manusia, ada yang tahan atau tidak menepis godaan. Mungkin, kata Tien suaminya puya maksud baik dalam pendekatannya kepada pemain, tinggal tergantung pemain itu sendiri menentukan sikap. "Karena pernah suatu hari saya kedatangan cewek yang juga pemain film. Gara-gara berita dimajalah, bahwa Mas YOn makin intim dengannya. Saya tenang saja dan ia minta maaf. Justru dengan maaf itu saya tambah bingung. Masalahnya jika orang itu minta maaf berarti punya salah kan?, "Sikap mas Yon sendiri, ya gitulah namanya aja laki-laki, ' gumamnya seperti ada sesuatu yang mengganjal. 

Tien berterus terang segala macam kabar buruk tentang suaminya diluar itu tanggungjawabnya. "Tugas saya menetralisir keburukan itu kepada anak-anak. Abis mau gimana. Mas Yon kan manusia bukan hewan, masa sih mau kita paksa untuk takluk pada pendirian kita. Mana mungkin?, serganya. "Dirumah ia suami saya dan diluar milik publik. Saya pasrah saja dengan takdir. Jika memang kabar burung itu menjadi kenyataan, " tandasnya agak klise. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


MAAF DARI KELUARGA VAN DANOE, EPS SPESIAL LEBARAN


 MAAF DARI KELUARGA VAN DANOE, EPS SPESIAL LEBARAN, (Berita lawas). Serial Keluarga Van Danoe memang berbeda dengan lenong Rumpi. Kalau dalam serialnya Boim dan kawan-kawan itu, tokoh dan profesinya terus berganti-ganti setiap minggu, maka sekarang karakter setiap tokoh sudah paten. Robby Tumewu sebagi si kepala keluarga konglomerat Karel Van Danoe Wiryo, Ferina (Isterinya, Ceu Kokom), Debby Sahertian (Adiknya, Zus Zeba Van Santen), Ari Wibowo sebagai anak sulunya, Jansen, Dina Laenia (Si Bungsu Leince), Merry Hakim (Si Pembantu Madonnah). Hengky Solaeman selain mengarahkan juga berperan sebagai Oom Piet, si penasehat yang di sebelin dan sesekali tampil Bob Sadino (Oom Koes, sesepuh keluarga).

Sudah pernah ditampilkan bintang-bintang tamu dari si pesulap Frans Harrary sampai Rano Karno, Chintami Atmanegara dan lain-lainnya. 

Untuk menyambut Idul Fitri (1413 H) bertepatan dengan tahun 1993 Masehi, disiapkan episode spesial bertajuk Maaf, Maaf, Maaf. Seluruh keluarga main semua, plus bintang-bintang tamu Anna Shirley, Chintami Atmanegara dan Merdy Salim. Durasinya dilipat duakan menjadi satu jam penayangan. 

Ceritanya keluarga Van Danoe merencanakan bet-long-week-end ke Los Angeles. Belum apa apa, Kokom dan Koba sudah ribut sendiri menentukan tujuan mereka, sedang Karel memilih menginap di Santa Monica, lokasi suting serial Bay Watch dimana banyak cewek seksi berbikini berseeliweran. 

Si Sopir Ono dan si babu Onah diajak juga. Tugas Oom Piet untuk menyiapkan paspor mereka. Eh, Oom Piet sendiri jebul tak diajak, "Jij jaga rumah saya ya, kan lebaran banyak tamu yang datang, cuma jij Piet yagn ike percaya, " ujar karel. 

Karual Oom Piet kecewa berat. Kebetulan Oom Koes datang. Langsung  Oom Piet menghasutnya. berhasil. Oom Koes memarahi seluruh keluarga Karel. "Kalian sok kaya ya, sudah melupakan adat timur Lebaran kok malah jalan-jalan ke LA bukan di rumah!".

Batallah rencana muluk-muluk mereka. Tibanya Hari Raya disambut dengan acara sungkem seluruh keluarga. Tamu berdatangan bagai tak putusnya,sampai Karel kelelaha. Eh mendadak datang juga biduanita kece, Chintami Atmanegara. Tergugah semangan Karel mengajaknya ke ruang privae. Kokom yang sudah bangun tidur jadi cemburu banget. 

Keluarga Van Danoe tayang di saluran RCTI. ~ Mf 175/142/Th. IX 20 Maret - 3 Apr 1993

PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN!

 


PEDANG NAGA PASA, BANYAK ADEGAN TERBANG YANG MENDEBARKAN! (Cerita Lawas). Menurut data produksi dari sekretariat PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), sebenarnya masih cukup banyak film tema action yang di produksi para produser kita. Namn semua itu seakan tenggelam oleh sukses besar Saur Sepuh yang telah beberapa serial di produksi. 

Kecuali PT. Inem Film yang tetap produktif dengan tema action untuk penonton bioskop kelas menengah kebawah. Beberapa perusahaan lain tak mau ketinggalan. Mercu Alam Abadi menggiring H. Rhoma Irama untuk tidak selalu berda'wah lewat Jaka Swara, Raja dangdut yang kini mulai memudar pamornya, diorbitkan sebagai bintang action baru. Ini adalah film full action Rhoma Irama yang pertama. 

Masih dari perusahaan yang sama, Liliek Sudjio  yang memang sejak dulu telah dikenal sebagai sutradara trampil dalam menggarap film-film action, menangani Misteri dari Gunung Merapi. Cerita tersebut juga diangkat dari cerita sandiwara radio yang telah populer dikalangan masyarakat. Ternyata Misteri dari Gunung Merapi sukses besar. Alhasil dilanjutkan dengan film keduanya.

Lalu, Rapi Film perusahaan yang cukup produktif tahun 90 ini memproduksi sekitar 12 judul, dimana dalam berproduksi cukup bervariasi, tak mau pula ketinggalan untuk menampilknan tema action. Pedang Naga Pasa judul film yang beredar serentak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur dan Sumatera Utara 24 September 1990.

Film yang dibintangi oleh Advent bangun, WD Mochtar, Erick Soemadinata, Baron Hermanto, Devi Ivone, Anneke Putri, Alba Fuad, dan ratusan pemain lain, termasuk puluhan pemain yang menguasai ilmu bela diri pencak silat dan karate. Jumlah tersebut masih ditambah lagi dengan keterlibatan sekitar 100 ekor kuda, sehingga benar-benar nampak sangat kolosal. 

Memang tidak ada burung raksasanya yang terbang gagah diangkasa. Tapi soal adegan adegan terbang yagn sangat mendebarkan. Dalam pedang Naga Pasa yang cerita dan skenarionya ditulis oleh Baron Achmadi dan disutradarai Slamet Riyadi, tidak kalah dengan Saur Sepuh. 

Walau mengaku telah berpengalaman untuk adegan terbang, ternyata Pedang naga Pasa, Devi Ivone yang sudah bermain dalam 20 film, dimana 15 diantaranya film action. Terpaksa harus sering menahan kesakitan. "Tangan saya sempat nyaris patah tulang!" kenang Devi yang juga menambah profesi jadi penyanyi. 

"Soal di gantung-gantung (sling) sudah biasa. Tapi yang satu ini memang benar-benar berat!" tukas Alba menimpali. Pendatang baru yang mengawali karirnya di film Permainan Di Balik Tirai, juga produksi Rapi film, memang tidak sempat menderita separah Devi. "Lecet-lecet kecil, biasa. Namanya juga film beranteman!" tukas putri Fuad Hasan drummer God Bless (Alm) yang mendapat kecelakaan lalulintas itu. 

"Kala saja tidak di dukung bintang-bintang action saya pasti akan banyak mengalami kesulitan. Beruntung pemain yang terlibat tidak saja mempunyai ilmu bela diri yang tangguh. Mereka selama ini telah dikenal sebagai aktor laga!" tukas Slamet Riyadi sang sutradara.

Meski proses ke luar negeri ini bukan pelanggaran. Sebab peraturannya masih memungkinkan sebuah film yang bagian-bagiannya belum bisa dikerjakan di dalam negeri, masih bisa diberikan izin untuk prosesing keluar negeri. Dan Pedang Naga Pasa keluar negeri seizin pemerintah. 

"Film action sukmanya pada spesial efek. Kalau spesial efeknya kurang sempurna, pasti kurang menarik. karena itu kami tak segan ke luar negeri, meski dengan biaya yang relatif lebih mahal, " tukas Gope T Samtani sang produser. Mudah-mudahan masyarakat tidak kecewa dengan film ini, tambah Gpe lagi. MF 110/78 Tahun VI 15-28 September 1990

Wednesday, March 18, 2026

RITA ZAHARA

 


RITA ZAHARA, Mengejar Sutradara Mati Hidup di Film (Cerita Lawas). Ada orang yang senang mem bunuh? Dengan menghunus rencong di tangan kanan, dan tanpa ragu-ragu ia hunjam senjata khas daerah Aceh itu ke tubuh wanita di hadapannya. Bles. Darahpun bersimbah di sekujur tubuh fatimah. Wanita itu mengerang dan roboh disaksikan banyak orang. 

Mengapa itu dilakukan, tanya pemimpinnya. Maafkan saya, jawab wanita yang memegang senjata rencong itu. 

"Diantara semua adegan, cuma adegan diatas yang paling saya senangi," ujar Rita Zahara yang berperan sebagai Nya' Bantu dalam film "Tjoet Nja' Dhien". Meski jawaban Nya' Bantu singkat, menurut Rita, mempunyai arti yang sangat dalam. "Karena adegan tersebut dapat dikatakan titik puncak kemarahan Tjoet Nja Dhien kepada pengkhianat, yang dapat dirasakan, lalu di terjemahkan oleh Nya' Bantu. Bagi pengkhianat hukumannya kan jelas mati. Maka secara spontan saya, eh maksudnya Nya' Bantu, harus membunuhnya, ' tutur Rita di kediamannya di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. 

"Film ini memang banyak memeras tenaga, waktu dan biaya. Tapi hasilnya dong, luar biasa sekali, cetus Rita Zahara sambil menggeleng-gelengkan kepala kagum. Dan ia sendiri salut pada keberanian Eros yang memvisualkan wanita Aceh itu. Dikatakannya bahwa Eros tekun dan teliti. Tak pelak, Rita pun dituntut untuk menghayati peran, yang meurutnya boleh dikatakan agak berat juga.  Karena itu Rita melakukan observasi secara langsung hidup dan bergaul dengan masyarakat terutama di Sigli. Maka ia mengerti dan memahami bahasa setempat, yang bicaranya tidak lemah lembut, cara berjalan yang gagah berani. Pokoknya saya tidur dan bergaul dengan mereka, sehingga tahu cara hidup mereka, kata Rita. 

Ria Zahara, Ibu 7 anak dan lahir di Singapura pada 5 Desember 1942, sedang magang sebagai asisten sutradara dalam film "Pacar Ketinggalan Kereta" garapan Teguh Karya. Lulusan ATNI tahun 1964 ini berniat mengisi profesi sutradara wanita yang masih langka di negeri ini. Sebelumnya, ia pun telah menjajal kemampuannya sebagai pembuat skenario sekaligus pengatur laku dalam sandiwara "Rona Rona" di TVRI. Juga ia telah merampungkan beberapa skenario film dan teve, yang ia beri judul "Darah Hitam", "Tangismu Milikku", "Keramat Batu Lebur" serta "Usia dan Cinta".

"Saya sangat mencintai dunia film ini. Saya tidak akan menyeleweng dari dunia seni. Kalau film lagi sepi, maka saya berusaha nyanyi, main drama atau menulis skenario. Saya hidup sekaligus membesarkan anak-anak dari hasil dunia ini. Saya nggak punya bakat bisnis, misalnya," tutur istri Piet Pagau yang juga pemain film. "Dan mudah-mudahan cita-cita sutradara itu tercapai. Namun saya beranjakdari tidak punya duit, yang saya andalkan adalah kemampuan dan pengalaman serta dorongan sutradara Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Asrul Sani, " ungkap Rita sungguh sungguh. 

Rita Zahara pertama kali terjun ke layar putih lewat film "Gaya Remaja" (1960) Film-film selanjutna seperti "Teror Di Sulawesi Selatan", Macan Kemayoran", "Fajar Di Tengah Kabut", "Senja Di Jakarta", "Honey Money & Jakarta Fair", Misteri Di Borobudur, "Panji Tengkorak", "Manusia terakhir", "Kemasukan Setan", "Pembalasan Si Pitung" serta ikut pula dalam Jakarta 66" dan Noesa Penida".

Rita menceritakan bahwa kehidupan keluarganya yang berdarah seni itu telah di tularkan pada anak-anaknya. Ketujun anaknya, bahkan cucunya telah mencicipi dunia seni, entah di film, teve maupun nyanyi. Pokoknya saya menganjurkan pada mereka menggeluti dunia seni. Kan seni tak begitu banyak memerlukan pendidikan dan biaya, " katanya. "Apalagi sekarang betapa sulitnya cari kerjaan", tambahnya, Rita yang pernah terkenal sebagai penjaga gawang sepakbola pertama di Indonesia selain menikah 3 kali. sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988


LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR


 LISA PATSY, TENTANG CIUMAN BIBIR (Berita Lawas). Tantangan bintang Indo tampaknya lebih banyak. Mereka umumnya menjadi sasaran dagang bagi produser dan sutradara. Ini dirasakan sekali oleh Lisa Patsy, cewek yagn di besarkan di negeri Paman Sam sana. Ia mengungkapkan ogah bradegan berbuka ria dan ciuman bibir. Waktu itu bertepatan dengan shooting film "Godain Kita Dong" bersama Warkop DKI. Rupanya sikapnya ini goyah juga, dan tak mampu berkutik pada sutradara Arizal. Dalang komersil ii menyuruhnya mengenakan pakaian seksi dan merangsang dalam film "Membakar Lingkaran Api". Bahkan ada satu adegan pemer kosaan dimana sebagian tubuhnya tersingkap bebas. "Biarin deh, asal tidak berkesan jorok. Kang nggak semua adegan buka-buka menimbulkan kejorokan. Lagian disitu kan saya di per kosa masa sih mesti tertutup rapat kayak mayat, " tandas Lisa yang mulai lancar bahasa Indonesia. 

Sebetulnya, kata Lisa soal pakaian seksi atau adegan buka-bukaan baginya secara pribadi tidak keberatan. Yag menjadi persoalan menjaga nama baiknya di sekolah dan lingkungan di mana ia tinggal. "Bohong kalau saya bilang nggak pernah main "begituan" contohnya ciuman atau main raba. Saya kan udah punya pacar, jadi logis saja bercinta di barengi usap-usap," akunya polos. Tapi yang satu ini Lisa pesan jangan ditiru cewek ingusan yang lain. Ia sendiri memang baru menginjak usia 15. Soal sudah matang dalam bercinta, mungkin lingkungan negara tempat membesarkannya menghendaki begitu. 

Cewek bernama asli Priscilia Lisa Maria ini masih sangat polos, hal ini disadarinya betul. Cuma yang paling sulit baginya untuk melawan perasaan dan kemauan orang lain. Nah, sekarang lIsa teguh tidak main buka-bukaan yang vulgar, tapi ia sendiri nggak tahu untuk esok. "Saya berani bilang begitu, karena hidup ini lewat proses. Sikap oran gbisa berubah dengan sendirinya seusai tuntutan perasaan tadi. Pokoknya untuk film saya nggak bisa obral janji dulu baik yang menyangkut batasan peran atau segalanya, nanti takut dibilang munafik, " begitu prinsip Lisa. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE


NANI WIJAYA, PERAN "BERAT" JADI WANITA KERATON DI SELAMAT TINGGAL JEANETTE (Berita Lawas). Butuh waktu sebulan lebih untuk menghayati perannya, Nani Wijaya masih harus membaca buku, mengamati kehidupan Keraton, melihat pertunjukkan kesenian dan nonton pertunjukkan wayang orang Sriwedari untuk bisa menyatu dengan tokoh yang dimainkan, Kanjeng Gusti Gusdini Suryo dalam film "Selamat Tinggal Jeanette".

"Inilah film terberat buat saya selama main film. Saya ditantang untuk bisa benar-benar menjadi wanita Kraton," ujar peraih Citra FFI 1978 lewat film Yang Muda Yang Bercinta. 

"Hambatan moral dan psikologis jelas ada. Tapi syukurlah sutingnya kebetulan di Kraton. Lokasi itu jelas sangat menolong saya, " tambah istri tokoh Sinematek Indonesia, H. Misbach Yusa Biran ini. 

"Saya memang berusaha sebisa mungkin untuk menyatu dengan Kraton. Menjadi wanita Kraton. Dan itu sangat berat," tuturnya Bayangkan Saja saya harus memerankan tokoh yang introvert. Tokoh yang pengetahuannya tentang dunia luar sangat terbatas. Sampai akhirnya saya harus menyerah karena saya tidak bisa mengatasi kenyataan yang terjadi, " katanya lagi. 

Dengan perannya yang seperti itu, Nani mengaku memang tidak terlalu optimis bakal tampil sebagai aktris peraih piala citra. Ia pun mengatakan tidak pesimis. "Mudah-mudahan saya deh yang meraih Citra tahun ini," katanya. Tapi tanpa citrapun saya sudah cukup senang karena orang-orang merasa puas denga permainan saya di film ini, " kilahnya. 

"Tapi kalau saya yang tampil sebagai peraih Citra, saya akan senang sekali. Soalnya saya merasa sudah bermain sebaik mungkin. Sayangnya saya tidak menyimak permainan rekan-rekan saya yang lain sih, ujarnya lagi. "Yang jelas banyak tantangan yagn aya hadapi dalam film ini. Termasuk beberapa isyarat yagn diberikan kerabat kraton agar tidak melakukan ini dan itu, cerita ibu lima anak ini. ~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

Monday, March 16, 2026

EDWARD PESTA SIRAIT


 EDWARD PESTA SIRAIT, Periode 88/89 Edward Pesta Sirait sempat menghilang, namun kemudian muncul kembali menyutradarai film. "Soalnya proyek saya tentang film alternatif lewat video gagal, " katanya. 

Dan kegagalan itulah yang agak membawa Edo, begitu ia akrab di panggil, kembali ke Jakarta dan kembali menyutradarai film bioskop. 

Adalah "Dua diatara tiga pria" film pertamanya setelah come back. Produksi PT. Raviman Film yang berkisah tentang penyelewengan kaum lelaki seperti penelitian yang dilakukan Dr. Naek L Tobing yang pernah menghebohkan itu.

Sutradara jebolan ATNI dan Kino WOrkshop ini, memang di kenal sebagai sutradara berbakat yang melahirkan film-film bagus. Beberapa kali ia masuk sutradara unggulan FFI karena film-film yang digarapnya. Film Tinggal Sesaat Lagi juga masuk dalam film nominasi FFI 1987. 

Memulai kariernya sebagai pembantu Sutradara tahun 1966. Edo yang pernah jadi asisten show manager Sarinah ini mengawali karir sutradaranya secara penuh lewat film "Chica" tahun 1976 dan berhasil mendapatkan penghargaan pada Festival Film di Kairo setahun kemudian. Setelah itu beberap afilm lahir dan tampil sebagai film yang berhasil dan menjadi pembicaraan. Mala filmnya "Gadis Penakluk" berhasil menempatkan namanya sebagai sutradara muda berbakat dan mendapat perhatian kalangan film. 

Lantas mengapa Edo kini menyutradarai film komedi?. Hanya ingin menyajikan sesuatu yang lain saja". kilahnya. Dan sesuatu yang lain itu isa jadi sesuatu yang menghibur. Dan sama seperti film-film Edo yang terdahulu, kali inipun sutradara ini tetap  melibatkan Remy Silado sebagai salah seorang pemainnya. "Soalnya saya cocok dan seide dengan Remy, " begitu dia pernah bilang. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Thursday, March 12, 2026

SI CEWEK GENDUT ILLA DOTH


 ILLA DOTH. (Kisah Lawas). Artis bertubuh subur dengan bobot hampir satu kwintal itu punya kebiasaan menarik. Kalau biasanya orang yang lagi sedih tidak doyan makan, lain lagi dengan Illa Doth, kalau dia sedih justru makannya banyak. Kebiasaan ini ia jalani sejak kecil. Baginya hidup ini cuma sekali jadi harus senantiasa gembira. itulah sebabnya ia selalu menghindari kesedihan. Maka tak perlu heran jika tubuhnya subur. 

Orangnya cuek, ngomongnya ceplas ceplos penuh humor. Barangkali inilah yang membuat ia awet gemuk. Ia begitu bangga dengan keadaannya, sementara banyak orang melakukan diet jika merasa sedikit gemuk, tapi Illadoth cuek saja. "Kalau orang langsing dan cantik itu banyak tapi cewek gendut kayak Illadoth banyak yang cari. "akunya sambil mengunyah coklat, makanan kesukaan yang tidak pernah ketinggalan setiap hari. 

Ia tidak takut dengan nafsu makannya yang kuat, sebaliknya ia akan bertanya-tanya jika nafsu makan itu tiba-tiba menurun. Gemuk baginya adalah karunia Tuhan. Memang benar, dengan kegemukannya itulah membuat ia laris menerima tawaran main film. Sudah puluhan film yang dibintangi. Juga laris untuk backing vocal penyanyi. Dalam siaran TPI ia pun nongol untuk menghibur anak-anak balita lewat acara yang diasuh oleh Titi Qadarsih. 

Belakangan ini beratnya naik 3kg gara-gara dikecewakan cowoknya membuat ia menambah porsi makannya. Makan adalah kesukaannya, sehingga makanan akan menghibur dirinya bilamana menghadapi kesusahan. "Pokoknya gua emang gak mau susah, jika gua  punya persoalan berat, gua makan sekenyang-kenyangnya. NGapain mikirin yang susah-susah:, jelas Illa Doth yang beratnya mencapai 90 kg. 

Pada suatu hari, cewek Nasution yang satu ini pernah mencoba mengukur sejauh mana kekuatan makannya. Menurut pengakuannya jika lagi mood makan rasanya tidak ada kenyangya. Setelah di cobanya ia mampu melahap satu bakul nasi berikut lauk pauknya dan makanan lain yang memenuhi meja makan. Habis itu ia terkapar dan tidak bisa bangu lagi sampai esok harinya. 

~MF

Wednesday, March 11, 2026

SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK

 


SUTING SAUR SEPUH IV, ISTANA MADANGKARA 2 KALI AMBRUK, Angin laut selatan menerpa-nerpa pantai wisata karang Tirta Pangandaran, Jawa Barat. Udara membawa uap panas, membuat suasana semakin gerah. Namun tidak membuat kru film Saur Sepuh IV episode Titisan Darah Biru larut dengan udara panas, menyengat dan membakar kulit. Jauh-jauh hari kru artistik yang di komandoi El Badrun dan Dellsy Syamsumar telah bekerja membangun set candi tua, mempersiapkan properti dan atribut-atribut lainnya menurut sejarah masa Majapahit yang menjadi patokan ide cerita Nikki Kosasih.

Dari arah jalan, tempat wisata Karang Tirta seperti sebuah "pasar seni" meriah dan tak pernah terjadi suasana seperti ini sebelumnya. Biasanya pantai Karang Tirta hanya sebuah semi padang rumput dan dihiasi semak belukar tak terawat. Dengan berdirinya gapura istana Madangkara setinggi 15 meter, membuat tempat rekreasi lokal yang tak pernah disentuh Pemda Jabar ini semakin anggun. Sebelah kanan arah jalan terdapat sebuah istana Keputren. Istana itu dibangun diatas padang rumput dengan memanfaatkan belukar liar sebagai pepohonan rindang. Sekali pandang, kita akan asing dengan dua bentuk istana keputren itu. Selain warna cat nan legam, relief lengket di dinding berkesan magis. Sehingga seperti rumah orang bunian (jin), begitu mencekam. Padahal bangunan istana keputren ini terbuat dari tripleks , sedang atapnya terbuat dari fom (gabus) yagn di cat berwarna hitam. "Sebelum suting, kami bertiga , saya, Badrun dan Tantowi telah membaut seketnya. Jadi bangunan dirancang jauh-jauh hari, " kata Dellsy Syamsumar. 

Sebelah kiri jalan terbentang perkampungan era Majapahit, atapnya membumbung tinggi beratap rumbia. Sementara dindingnya terbuat dari kayu-kayu laut tanpa di ketam (serut). Kawasan bangunan itu memiliki lima bangunan induk yang begitu asing. "Kami tidak hanya mereka-reka bentuk rumah penduduk masa Majapahit. Kami mencari bentuknya dari literatur, yakni dari buk karangan Rafles. Dari buku karangan Rafles ini kami berani membuatnya. Jadi punya argumentasi kuat membuat bangunan ini, ' ujar Dellsy meyakinkan. 

Setting interior Istana Madangkara dibuat jauh dari bangunan induk lainnya. Karena keadaan di Karang Tirta tidak memadai, istana itu dibuat megah, semegah nama Madangkara. Oleh karena itu dibutuhkan lapangan yang luas, tempat berdirinya dinding dan sangkutan lampu. Tidak ada jalan lain, kecuali membuatnya di lapangan terbuka. Karena angin laut langsung menerpa dinding istana, membuat Istana Madangkara ambruk dua kali. 

Setiap episode seri Saur Sepuh sutradara Imam Tantowi, selalu memiliki binatang maskot seperti burung Rajawali, Buaya dan di saur sepuh ke 4 adalah kelelawar. Ini yang membedakan saur sepuh dengan tema klasik lainnya. Justru itu Imam Tantowi harus bekerja keras. Tidak hanya memanpilkan ketrampilan laga, tapi juga seni membuat adegan fantastik, seperti yagn terdapat dalam dongeng-dongeng. Variasi antara fantastik dengan drama action klasik menjadikan Saur Sepuh IV  lain dari episode sebelumnya. Karena kreatifitas ini membuat Saur Sepuh tidak pernah kalah pamor dengan film sejenisnya. Meski banyak suradara maupun produser meniru suksesnya Saur sepuh agaknya Tantowi tidak pernah gentar.

Rencana Imam Tantowi membuat hutan absurd sudah ada ketika dia menggarap film Soerabaia '45. Konon angan-angannya itu sudah sekian tahun yang lampau. Lewat Saur sepuh IV ini keinginannya itu terwujud. "Kawasan hutan itu merupakan hutan raksasa, dimana dua puluh orang tidak akan bisa merangkulnya, " kata Imam Tantowi. "Hutan seperti ini zaman dulu pasti ada, tapi sekarang menjadi absurd, ? kilahnya pula.

Nyata sekali Imam Tantowi menyuguhkan suasana yang lain. Dimana kelak hutan raksasa akan membuat suasana yang lain. Mencoba keluar dari kebiasaan, dimana setiap film yang meminjau masa Majapaphit, selalu membaut hutan dengan batang pohon kecil. 

Ternyata membuat film klasik membutuhkan kerja keras, kalau digarap serius. karena membutuhkan property serta set dan atribut lainnya yang tidak ada dijual, kecuali membuat sendiri. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sediki. 150 juga rupiah dana  disediakan produser PT Kanta Indah film untuk artistik. 

Titisan Darah Biru mengungkap suksesi yang terjadi di kerajaan Madangkara. Dimana terjadi pemberontakan dari pihak yang lalim, untuk menumpas generasi muda Madangkara keturunan Brahma Kumbara ingin di tumpas. Karena generasi muda Madangkara ingin membangun kerajaan seperti jayanya Majapahit. Sementara kaum tuanya menginginkan  kerajaan Madangkara tanpa ada kemajuan. 

Maka kaum tua melakukan penghkhianatan, isteri Brahma Kumbara di culik oleh manusia berhati iblis. Sebab manusia berhati iblis itu berniat menguasai Kerajaan Madangkara dengan otak liciknya. Ternyata Imam Tantowi juga bicara politik lewat episode Titisan Darah Biru

Film ini dibintangi oleh Candy Satrio, Anneke Putri, WIda Nathasa, Baron Achmadi, Rita , Hans Wanagi, Devi Pertama Sari, Agus Kuncoro, Belkies Rahman, Annas Rohisszein dan Satria S, serta ratusan film figuran. 


Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Sunday, March 8, 2026

TORRO MARGENS

 


WAWANCARA DENGAN TORRO MARGENS! (Berita Lawas). Sementara sutradara lain tengah membelot ke sinetron sebagai pelarian tidak adanya produksi film, Torro Margens sutradara muda (kala itu) kelahiran Tegal (Pemalang?) Jawa Tengah ini justru laris manis. 

Di paruh tahun 1994 ini Torro kembali menyutradarai film Sorgaku Nerakaku dan film ini cukup sukses di gedung-gedung bioskop kelas B di Jabotabek. Sementara film sejenis sudah jeblok dan dijauhi pentonton. Karenanya, Parkit Film perusahaan yang cukup produktif memproduksi film memberikan kepercayaan lagi pada sutradara yang juga seorang dubber tangguh ini untuk menggarap film drama percintaan yang dibumbui adegan-adegan syurr. 

Apa resepnya dalam menggarap film sehingga film-filmnya banyak meraih penonton? Apakah Torro hanya mampu menggarap film-film tema esek-esek atau "Action tanggung" macam Anglingdarma 3 atau Saur Sepuh V? berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film No. 216/182/ThXI/24 Sept - 7 Okt 1994 di lokasi suting film Kabut Asmara di Anyer Jawa Barat (sekarang Banten).

Apa Yang membuat anda begitu menggebu untuk tetap menyutradarai film, sementara sutradara lain lari ke sinetron?

Kalau boleh bicara sombong, kembalinya saya menyutradarai film karena saya merasa prihatin dengan keadaan film sekarang ini yang kata orang mengalami kelumpuhan. Nah supaya jangan lumpuh total, saya berkewajiban untuk menyembuhkan kelumpuhan itu. Memang saya bukan dokter, tapi paling tidak saya berharap bisa ikut menyembuhkan dari sisi yang saya bisa. Karenanya saya cukup bangga dan senang apabila ada produser yang mengontrak saya untuk menyutradarai film. Sekarang ini saya malah sampai menolak tawaran. 

Apa alasan Anda untuk bertahan di film sementara para sutradara lain serta para produser begitu pesimis akan perkembangan dunia film kita saat ini?

Nggak tahu ya, saya kok berkeyakinan kalau film kita akan terus bertahan. Kenapa? Karena dengan perkembangan penduduk Indonesia yang begitu pesat, tentunya membutuhkan pasokan film yang begitu besar. Nah sekarang bagaimana insan film kita mencari formoulanya agar film Indonesia bisa digemari lagi. 

Sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat kita di pedesaan masih membutuhkan film Indonesia. Hanya masalahnya sekarang sampai nggak film kita ke polosok tanah air. 

Ada beberapa sutradara dan produser yang mengeluhkan sistem peredaran film Indonesia yang dilakukan PT. Perfin karena tidak seperti yang diharapkan mereka. Seperti kasus film Langitku Rumahku. Apa komentar anda?

Buat saya dan film saya nggak ada masalah, buktinya Sorgaku Nerakaku bisa bertahan 3 hari di Studio 21, di Roi saya lihat sendiri sampai 14 hari, begitu juga di Kramat. Saya yakin kalau tidak ada kasus penurunan poster, akan bisa bertahan lebih lama lagi. 

Anda begitu yakin kalau film anda, Sorgaku Nerakaku bisa bertahan lama di bioskop Jakarta dan daerah. Apa alasan anda?

Karena saya punya kartu As, yakni yang mengedarkan film itu jagonya pengedar film. Selain itu film ini kan hasil kerja bareng beberapa produser (konsorsium). Begitu juga film saya sebelumnya, alhamdulillah banyak meraih penonton. 

Apa resep anda dalam menggarap film jenis action dan "esek-esek". Sehingga film anda selalu meraih penonton?

Mungkin karen saya dalam menggarap film tema esek-esek tidak terlalu nge-seks, apalagi digarap secara serampangan. Karena saya selalu memegang prinsip bahwa film bukan sekedar tontonan tapu juga tuntunan dan panutan. Dan saya selalu menggarapnya seartistik dan sehalus mungkin, sehingga tidak dibabat BSF. 

Seperti film Sorgaku Nerakaku , sebagai contoh itu film sebenarnya juga "esek-esek" tapi karena di dukung cerita yang menyentuh sehingga film itu bisa diterima masyarakat. 

Apakah film anda selalu menganut falsafah, tontonan, tuntunan dan panutan?

Selalu. Kalau hiburannya 80% tuntunannya 20%.

Sangat disayangkan oleh sebagian insan film bahwa kegairahan sesaat produksi film dibarengi ulah produser yang membuat poster film yang seronok sehingga muncul protes, dan klimaksnya terjadi penurunan poster oleh Bapfida-bapfida setempat. Apa komentar anda tentang hal ini?

Terus terang saya sangat menyayangkan dengan sikap sebagian produser kita, yang justru terlalu mengeksploitisir poster. Padahal kalau dipilih ada gambar yang bagus dan artistik yang pantas untuk dijadikan poster. Tapi anehnya produser memilih gambar yang murahan seperti itu. Akhirnya terjadi protes. Kalau sudah terlanjur seperti ini, semua kan kena getahnya. 

Pernahkah anda mengajukan keberatan pada produser masalah poster yang nggak sesuai dengan harapan anda?

Pernah!. Tapi kalau kemudian produser memberikan alasan apa yang dilakukaknya untuk meraih penonton, itu kan kaitannya dengan bisnis, jasi sudah bukan wewenang saya. 

Dengan kasus penurunan poster beberapa waktu lalu, menurut anda siapa yang salah. Produserkah, Bapfida atau BSF sebagai penjaga gawang?

Bapfida, karena poster sendiri sebelum di pasang dan diedarkan sudah diseleksi melalui badan sensor film. Nah kalau BSF sudah meloloskan itu artinya baik poster maupun filmnya sudah layak di konsumsi masyarakat. Tapi pada kenyataannya kok terjadi penurunan poster. Saya juga nggak habis pikir dengan kejadian seperti ini. 

Kalau begitu Bapfida melangkahi BSF?

Ya. Jelas dong! Karenanya untuk menjernihkan masalah ini antara Bapfida dan BSF perlu lobying serta mengadakan dialog. Supaya bisa satu kata dan satu pandangan supaya kasus penurunan poster tidak terulang lagi. 

Kenapa anda selalu menggarap tema "esek-esek" dan semi action. Apa nggak kepingin menggarap tema lain?

Lha, kalau yang datang film-film tema "esek-esek" seperti itu. Apa saya harus menolak? Sementara hati kecil saya sedih melihat film nasional lumpuh seperti sekarang. Soalnya keinginan menggarap tema lain, saya juga punya keinginan. Malah saya punya obsesi untuk menggarap film musikal seperti film-film Rhoma Irama. 

Dulu anda produktif menulis skenario, kenapa sekarang tidak lagi?

Biasanya, saya menulis kalau saya berkeinginan untuk menggarap tema lain. Seperti ketika saya menggarap film Pernikahan Berdarah dulu, saya yang menulis skenarionya. Keinginan untuk menulis skenario terus menyala dalam dada saya, cuma waktunya yang agak sulit. Karena beberapa kesibukan saya akhir-akhir ini seperti dubbing. 

Sepertinya anda setiap selesai menggarap film, kemudian break beberapa saat. Apa alasannya?

Terus terang saya tidak ingin tubuh saya di peras untuk suatu pekerjaan, dan tubuh ini kan butuh keseimbangan. Jadi begitu kerj yang melelahkan, saya mesti istirahat. Kalau dalam satu minggu kerja enam hari, ya saya mesti istirahat satu hari . Ini namanya keseimbangan Setelah itu baru kerja kembali.

Sebagai sutradara nampaknya anda sangat disiplin soal waktu, terbukti anda tidak pernah melakukan syuting hingga diatas jam 24.00 WIB?

Alasannya, jiwa raga saya dan kru, ini kan butuh istirahat dan butuh keseimbangan seperti yang saya sebutkan diatas. Jadi buat apa kita kerja mati-matian, tapi kemudian  kerja teman-teman nggak maksimal. Dan saya punya jam kerja 8 jam, misalnya kita bekerja mulai pukul 10.00 pagi, pukul 18.00 mesti break. 

Disiplin waktu itu mulai anda terapkan sejak kapan?

Sejak saya mulai merasakan capai dan jenuh menyutradarai, karena sebelumnya kerja saya tidak kenal waktu. Sehingga badan saya merasakan cepat capek dan jenuh. Setelah break panjang, saya kemudian menemukan formula disiplin 8-10 jam itu tadi. 

Gaya kerja anda beda dari sutradara yang ada. Anda nampak santai dan terkesan guyon. Apa anda tidak takut dilecehkan kru anda?

Dengan sikap saya yang santai dan penuh guyon, mereka justru enjoy dalam bekerja. Bahkan mereka lebih menghargai , lebih serius dalam bekerja. 

Kenapa setiap anda menyelesaikan satu adegan kemudian anda minta tepuk tangan kepada para hadirin yang ada?

Saya hanya memberi semangat  kepada para pemain yang telah bekerja dengan baik. Karena dengan tepuk tangan, buat pemain itu merupakan penghargaan. Kalau sudah begitu bisanaya mereka akan bekerja lebih giat lagi. 

SINETRON WARISAN II, KEBANGKITAN DARTO JONED DI SINETRON SERIAL


 SINETRON WARISAN II, KEBANGKITAN DARTO JONED DI SINETRON SERIAL (Berita lawas).Waktu Warisan I yang di bikin sebanyak 6 episode dan di tayangkan RCTI tahun 1993, sinetron drama seri ini berada "diatas angin" dalam perolehan iklan. Jeda tayangan 18.5 menit yang di sediakan langsung banjir dengan iklan. Maka wajar kalau sinetron produksi Joned Vidia Sinema sekaligus arahan pemiliknya, Darto Joned ini meraih rating 52 dalam perolehan iklan. Satu hal yang tidak diduga oleh banyak pihak, terutama RCTI sendiri. 

Januari 1995 pihak RCTI memperpanjang kerjasama dengan Joned Vidia Sinema untuk memproduksi sinetron seri Warisan II (mulai episode 7 sampai 33) dibikin sebanyak 26 episode. Penayangan ditetapkan pada 7 Maret 1995 pukul 19.30 dengan durasi 48 menit. 

Langkah yang luar biasa bagi Darto Joned, disaat menjamurnya sinetron ia tetap berdiri tegar dan dapat berdiri sejajar dengan sutradara-sutradara beken RCTI. 

"Kiat saya dalam membuat sinetron adalah bagus dan komersil. Artinya saya tidak ingin membikin sinetron sok seni, tetapi tidak banyak yang menantinya, akibatnya tidak komersial, " katanya di sela break suting di kawasan Cipanas, Jawa Barat. 

Darto Joned dikenal sebagai sineas yang pendiam, tapi produktif. Bersama-sama Ali Shahab, ia termasuk perintis dan "pembabat hutan" persinetronan Indonesia. Dari tangannya banyak lahir sinetron-sinetron panjang dan populer, seperti diantaranya "Serumpun Bambu, Tembang Di Tengah Padang, Minarti Bidan Tercinta, semuanya ditayangkan di TVRI saat stasiun itu masih satu-satunya yang mendominasi pemirsa TV . Tak heran jika jumlah penggemar yang cukup membanggakan. 

Dengan ketrampilan dan produktivitas serta jam terbang yang dimilikinya, kini Darto Joned menjadi rebutan televisi swasta. Seusai menggarap Jalur Putih untuk Indosiar, langsung di cecar stasiun televisi lainnya. Lepas Warisan II ia segera memproduksi tiga sinetron yakni, Lampor Bala Tentara Ratu Kidul, Dua Pilar dan Darah Leluhur. 

Joned Vidia Sinema mampu membikin 6 hari suting untuk satu episode dengan durasi 48 menit. "Bagi saya membikin sinetron harus cepat, namun laku dan komersial. Tidak zamamnya lagi membikin sinetron berlama-lama," ujarnya. 

Dari Setting, property, dan para pendukung sinetron Warisan II kelihatan keinginan Darto Joned untuk merebut pasar. Wajar saja bila anggaran untuk satu episodenya mencapai 50 juta rupiah. 

Lihat para pelakonnya, Nike Ardilla, Tabah Penemuan, drg. Fadly, Anggraini Joned, El Manik, Alicia Djohar, Firdha Razak, Eeng Saptahadi, Clara Shinta, Sigit Hardadi, Retno Mulandari, Tahta Perlawanan, Rita Zahara, Nizar Zulmi, Herman Ngantuk, Roldiah Matulessy, Elly Ermawatie, BZ Kadaryono dll. Sinetron terbilang mahal ini mengambil lokasi suting diantaranya Jakarta, Sukabumi, Bogor, Cipanas dan Jawa Barat lainnya. 

Pada Warisan episode sebelumnya telah di ceritakan bahwa Bayu yang dulu dibuang oleh orang tuanya, kini hidup dan besar di kalangan keluarga Danu Prakosa, pemilik pabrik dan perkebunan teh. Dalam Warisan II ini, mengkisahkan tentang apa saja yang terjadi terhadap Bayu, setelah ia kembali kepada orang tuanya. Banyak persoalan yang dihadirkan, sebagai sebuah fenomena dalam kehidupan sekarang. 

Dengan penceritaan yang melemparkan masalah besar tapi dapat di cerna oleh segala level kehidupan ini semakin keatas semakin tajam. Ada suspance, laga dan diramu dengan drama keluarga yagn menegangkan. Untuk mewujudkan visual itu direkrut kru handal seperti Ambari BA (Kamerawan), Surya Haditya (Co Sutradara) Ninos Retna Niswara (Editor), Nanang Hidayat (Penata Suara), Wandhono Trinugroho (penata Artistik), Srie M Ariesa (Penata Rias) , Bogel Alkatiri (Pimpinan Unit) dan M Daim Pohan (Pimpinan Perusahaan).~MF 227/193/XI/25 Feb - 10 Maret 1995

Saturday, March 7, 2026

BANDIT BANDIT FILM INDONESIA

 


BANDIT-BANDIT FILM INDONESIA. (Bahasan Lawas). Tukang per kosa, peram pok, pembuat onar, pengganggu rumahtangga orang, pembacking rumah pelacu ran, penculik anak gadis, lalu ber kelahi, main keroyok, gebrak-gebrak meja, akhirnya kalah, menyerah, bertobat atau mati sekalian. 

Itulah potret paling kentara dari sosok bandit-bandit dalam film Indonesia sejak dulu . Gambaran yang muncul selalu saja beringas pada awalnya, kemudian loyo dan kalah diakhir cerita. Biasa.

"Memang begitu. Masa ada sih bandit yang bisa jadi pemenang? Di luar negeri mungkin ada. Tapi di negara kita kan lain? kondisinya berbeda. Belum banyak masyarakat kita yang bisa menerima kemenangan bandit-bandit dalam sebuah cerita, " ujar Advent Bangun, bintang laga yang sering jadi bandit.  "Tapi masalahnya bukan itu. Bermain dengan peran antagonis. Semua harus total. Semuanya menuntut kemampuan, " tambahnya. 

Namun Advent menyadari, terus menerus bermain dalam peran bandit membuatnya sering kesal. "Efek psikologisnya dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga saya memang ada. Tapi saya tidak bisa berbuat lain. Produser meminta dengan alasan para booker yang menuntut, padahal saya yakin bisa main tidak cuma jadi bandit ", tutur lawan main Barry Prima ini. "Memang istri saya pernah menjadi kurus ketika menonton film saya dimana saya melakukan adegan per kosaan, "tambahnya. Soalnya istri saya bukan dari kalangan orang film.  Orang batak lagi, wajar kalau ia menjadi shock. Tapi sekarang istri saya kayaknya sudah mulai ngerti, " kata Advent. 

Tapi Advent tidak sendiri. Banyak bandit-bandit lain dalam film Indonesia. Baik yang terus menerus kebagian peran bandit maupun yang satu dua kali menyelinginya sebagai hero. Ada Farouk Afero, Pong Harjatmo, Muni Cader, Harun Syarief, Hendra Cipta atau Soultan Salading, adalah beberapa nama yang akrab sebagai pemain antagonis dalam film-film Indonesia.

"Memang betul keberhasilan kita berperan sebagai bandit, sering membuat produser ketagihan dan terus menerus meminta kita main jadi bandit. Akibatnya memang terasa. Masyarakat ikut-ikutan antipati pada kita. Sosok kita sebagai bandit akhirnya mengental dalam diri mereka, " ujar Farouk Afero, bandit yang melonjak lewat film "Bernafas Dalam Lumpur" itu. Tapi sekarang masyarakat kita sudah maju. Mulai mengerti bahwa semua itu cuma dalam film. Saya akui efek psikologis memang ada. 

Beda dengan Advent dan Farouk, Harun Syarief mengaku tidak punya beban apa-apa. "Wong itu permintaan sutradara," katanya. Namun tak cuma itu yang membuat Harun tak merasa perlu menanggungkan dosa. "Saya ini bandit yang selalu bertobat. Dan itu meringankan beban saya, "ujar bintang yang akrab dengan drama panggung dan TV ini. Tapi Harun mengakui memang itdak enak terus menerus ditokohkan sebagai bandit. "Saya memang pernah main tidak sebagai bandit, tapi itu belum cukup untuk menghilangkan citra kebanditan saya. Sekalipun saya tahu masyarakat tidak pernah menggugat saya. 

Sama seperti ketiga bandit diatas, HIM Damsyik juga merasakan hal yang seperti itu. Cuma Damsyik agaknya lebih realistis. Sadar akan potensi yang dimilikinya, Damsyik mengaku sulit untuk memilih-milih peran begitu produser menyodorkan skenario kepadanya, "Sebenarnya saya sih kepingin sama seperti rekan-rekan yang lain, tapi imej penonton memang sudah terbentuk sedemikian rupa bahwa saya ini bandit. Melulu jadi tokoh antagonis, " ujarnya. 

Lalu apakah tidak ada gugatan dari keluarga? "Enggak juga. Saya sering ditanya teman-teman dan  saudara-saudara saya, kenapa mau memerankan tokoh itu. Dan saya berusaha keras menjelaskannya. Sampai mereka mengerti bahwa semua yang saya lakukan itu, hanya trick-trick kamera saja, " jawab Advent. "Kalau saya sih enggak punya anak. jadi enggak ada tuntutan macem-macem," tutur Harun Syarief pula. 

Kenyataan-kenyataan seperti itu, memang dihadapi oleh hampir semua bintang yang kerap kebagian peran antagonis. Pong Harjatmo, Soultan Salading, Muni Cader juga mengalami nasib yang sama. Sekalipun mereka menginginkan peran yang lain, menjadi hero misalnya, tapi imej yang sudah terbentuk seperti pengakuan mereka, sulit sekali di hapuskan. Meskipun mereka sendiri pernah menjadi tokoh baik-baik dalam beberapa film yang mereka bintangi. 

"Itulah yang selalu menuntut saya. Saya ingin tidak terus-terusan menjadi bayang-bayang Barry. Menjadi lawan Barry. Saya ingin tampil bukan sebagai tokoh antagonis. Tapi produser selalu saja menolak dengan alasan yang sama. Produser takut kalau saya yang jadi hero film tidak bakal laku Pahadal saya berani jamin, fans saya ini banyak. Mereka malah selalu mengirim surat pada saya kenapa sih saya enggak main  sebagai orang yang menang", Ujar Advent Bangun kesal. Dan kalau sekarang saya coba-coba kerjasama dengan Dedi Setiadi untuk main dalam drama TV, itu saya lakukan karena saya ingin sesuatu yang baru. Peran-peran yang tidak keras melulu, " katanya lagi. 

Kekerasan itu memang menjadi gambaran yang sangat identik dengan mereka, tokoh-tokoh antagonis ini. Muni Cader, Faouk Afero, Rachmat Hidayat, Hendra Cipta, Harun Syarief, dan Advent Bangun adalah bintang-bintang yang selalu menggebrak, memelototkan mata, menyandang sejata api atau menyelipkan senjata tajam di pinggangnya. Memang ada kekecualian. Damsyik atau Pong Harjatmo malah sama sekali tanpa wajah yang keras dan garang. Namun kesan sebagai bandit yang licik tak bisa mereka elakkan. Dan itu semuanya merupakan satu bangunan yang mempertebal sosok mereka dalam imej masyarakat. ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

Thursday, March 5, 2026

LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG"



SALAH SATU  LOKASI SUTING FILM "SI BADUNG". Serombongan anak-anak berseragam merah ptih SD meluncur dengan sepeda mereka dari puncak jalan menurun. Ramai berceloteh merundingkan apa yang dihadiahkan untuk ulang tahun guru mereka. Segalanya berjalan cukup lancar, tapi mendadak Imam Tantowi yang berdiri di tepi jalan berteriak, "Cut! Cut".

Dengan cepat Kamerawan Tjutju Sutedja menghentikan kerja kameranya. Apa pasal? Ternyata salah seorang anak itu ada yang melirik kearah kamera. Kesal Tantowi mengomel, "Sudah berapa kali saya bilang, jangan memandang ke arah kamera. Ya wajar saja, Ayo ulangi lagi!.

Begitulah adegan anak-anak bersepeda di jalanan desa Cibadak itu harus diulangi sampai tiga kali. Menyusul adegan berikutnya, anak-anak badung bermain di pematang sawah. Dasar anak-anak, senang saja main belepotan lumpur. !

"Memang ada kesalnya, tapi ada pula lucunya, mernyutradarai anak-anak ini", aku Tantowi. "Kebanyakan mereka memang bandel bande. dan baru kenal disini, tapi cepat sekali menjadi akrab. Wah, waktu malam pertama, kami hampir tak bisa tidur, karena mereka ramai bermain terus. Malah ada yang lompat-lompatan di tempat tidur segala. 

Semua pemain anak-anak ini memang di boyong dari Jakarta. Ditempatkan di Wisma Haji, Jl. A Yani 37 Sukabumi. Saking ramainya kemudian diambil inisiatif, rombongan anak-anak dibagi dua. Sebagian di Wisma PGRI yang letaknya tak berjauhan. Sebagian anak-anak memagn disertai oleh ibu mereka, terutama anak-anak perempuan. Namun para ibu yang ngumpul sendiri, membebaskan anak-anak mereka bermain diluar suting. 

"Si Badung" yang semula rencananya berjudul "Si Badung Naik Kelas" ini memang dibintangi oleh belasan anak. Sebagian diantaranya adalah anak-anak bintang populer. Seperti misalnya Toma alias Torro Margens Jr. (Anak Torro Margens) dan Rini yang puterinya Elly Ermawatie. Kawanan yang menyebut dirinya "Kelompok Lima" dimainkan oleh Renno, Viona, Reymon, Rini dan Adam Sandi. Dua bocah badung diperankan oleh Nelson dan Rully. Ikut mendukung Shereen Regina Dau, Jaka dan Adi. 

Peran Kepala Sekolah Pak Jarir di mainkan oleh Drs Purnomo alias Mang Udel. Istrinya oleh Mien Brodjo. Guru baru oleh Nurhuda, Pak Kebon oleh Belqiz Rachman. Masih ada lagi Eva Putri, Arbain, Tarsan, Syamsuri Kaempuan dan lain-lainnya. 

Lokasi sengaja di pilih di sebuah SD Negeri Cibadak diluar kota Sukabumi, karena ceritanya memang dikisahkan terjadi di sebuah kota kecil diluar Jakarta. Keseluruhan suting berakhir tanggal 12 Agustus 1989. Giliran Embie C Noer untuk mengisi ilustrasi musiknya, disamping ada enam lagu anak-anak agn khusus disiapkan olehnya . 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

WIDYANINGSIH PENGISI SUARA BU RADEN, JUGA MAIN FILM

 


WIDYANINGSIH PENGISI SUARA BU RADEN, JUGA MAIN FILM (Berita Lawas) Kalau seorang dubber beralih profesi apa jadinya. Bisakah dia tak mengandalkan vocalnya? Bagi pengisi suara Bu Raden "Si Unyil" ini kiranya jadi masalah juga. Bukan karena dia tak bisa berakting, tapi di atak bisa menguasai ilmu silat dengan baik. Untung suami WIdyaningsih seorang pendekar silat. Sehingga sang suami Atin Martino dapat melatihnya tiap hari, untuk dapat melakoni adegan film "Ajian Gunung Jati" (Nyi Mas Gandasari).

"Itu semua karena suami saya. Saya di paksa tak boleh cengeng . Dan tidak boleh menangis, katanya. Walau suaminya sendiri yang melatih, tapi Ningsih diperlakukan seperti orang lain. "Terkadang kaki saya ditendang sampai biru-biru. Pokoknya seperti latihan silat sungguhan. Saya tetap tak menangis, walau sakitnya tak ketulungan, ujar ibu berbintang Aquarius ini. Latihan keras macam itu juga membuat Ningsih dapat menguasai ilmu silat dengan baik. Dan ia merasa berhasil melakoni film "Pertarungan di Bukit Perawan".

Debutnya tampil di film nasional sudah lama di alakukan, pada tahun 1983 lewat Hati Yang Perawan, Saat Saat yang Indah dan Biar Damai Sepanjang Hari. 

"Nah ternyata saya bisaa akting kan?. Orang film banyak yang tak tahu bahwa saya pnya simpanan juga," kata anak kedua dari 13 bersaudara dari ayah Cirebon dan Ibu Sukabumi ini tegas. 

Kenapa mau main film, bukankah jadi dubber itu lebih enak? "Saya kesal juga bila keluar kota. Sebab saya lebih dikenal sebagai Bu Raden daripada diri saya sendiri. karena itu saya main film. Ingin membuktikan bahwa saya bukan Bu Raden sesungguhnya. Diluar rumah saya juga sering diteriaki Bu Raden, " katanya. 

Toh begitu dunia dubber lebih mengenakkan."Sebab nggak pakai ke lokasi, kalau jadi dubber cuma di studio saja, " lanjutnya. Karena jadi dubber itulah dia bisa menghidupi keluarga dan anak-anaknya. 

Widyaningsih tidak pernah bermimpi bisa sukses sebagau dubber. Awal pertama sekali ikut mengisi suara sandiwara RRI Pada tahun 1970 hanya menggantikan temannya yang tidak datang. Karena vocal baik dan penuh penghayatan dia kontan di puji rekan-rekanya. Lalu menyusul kemudian sandiwara-sandiwara radio "Meniti di Dahan Lapuk", "Yoyom"(Serial Betawi) dan lain-lainnya.  ~MF 087/055/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov

Wednesday, March 4, 2026

SUTING FILM KRISTAL-KRISTAL CINTA

 


SUTING FILM KRISTAL-KRISTAL CINTA. Kristal-kristal Cinta film garapan Wim Umboh. Sesuai dengan judul ceritanya, sudah barang tentu berkisar tentang cinta. Kebanyakan film garapan Wim selalu bertutur masalah cinta. Ingat saja film macam Pengantin Remaja (1971), Pengantin Pantai Biru (84), Serpihan Mutiara Retak (85), Secawan Anggur Kebimbangan (86) atau Adikku Kekasihku (89) dan masih banyak lagi. 

Dalam film "Kristal-Kristal Cinta", Wim mencoba mempertemukan bintang film yang sedang naik daun Onky Alexander dan pendaang baru Anna Valiana Aprilini. 

Sutingnya lebih dari 3 bulan diantaranya di Yogya. Selebihnya di Jakarta. Pada 5 Januari 1990 seharusnya kontrak bintang dan karyawannya sudah selesai, tapi Wim belum menyelesaikan suting. "Sekali ini Oom Wim memang agak kedodoran . Seharusnya kami sudah rampung sekitar Awal Desember 1989 lalu, " kata salah seorang kru. Kenapa? Ya, banyaklah hambatannya. Pemain utama wanita kami sakit tiga minggu, Belum lagi keterlambatan suting karena ulah pemain, katanya lebih lanjut. "Lebih-lebih pendatang baru yang satu itu, Rupanya dia belum bisa menyesuaikan diri kerja di film", kata seorang kru lain. 

Wim Umboh sendiri memaklumi penemuan barunya itu. Sebagai orang baru dia mungkin belum memahami betul cara kerja orang film. Belum menjiwai pekerjaan ini, kata Wim Umboh. Selama suting emosi Wim nampak selalu meledak-ledak. Tak jarang seorang pemain di bentaknya. "Dia sih memang begitu, " kata salah seorang kru seolah membela. 

Onky Alexander menilai mungkin lawan mainnya itu belum total di film. "Bisa main film, jadi enggapun ya tidak apa-apa," paparnya. 

Onky dalam film ini justru di kenal sangat disiplin. Hampir semua kru mengacungkan jempol buatnya. "Wah dalam film ini Onky betul-betul menyenangkan. Kami tidak pernah dibuat susah, " kata Inge penata busana. 

Hari-hari terakhir suting Kristal Kristal Cinta di lakukan di sebuah rumah mewah di kawasan Cinere Jakarta Selatan. Rumah milik Tommy ini diangkat dengan sebuah kolam renang mini, tanaman hias dan bunga-bungaan Kamarnya besar-besar lengkap dengan segala macam perabotan mutakhir. Belakangan ini rumah tersebut semakin sering digunakan oleh orang film. Nyaris tidak putus-putusnya. Selesai satu film disusul film lainnya. 

Pada Januari 1990, misalnya disaat Wim Umboh break suting sehari, langsung di serobot oleh Tiga Sinar Mutiara Film yang sedang menggarap Catat Namaku Rintan yang kemudian berganti judul Cinta Punya Mau. 

Cerita dari film ini adalah : Bomantara (Onky Alexander) teman kuliah Karina (Anna Valiana). Selesai kuliah mereka melanjutkan hidup berumah tangga. Boma kemudian dipercaya menduduki jabatan penting dalam perusahaan milik orang tua Karina. Jadilah keluarga muda ini hidup berkecukupan, tenteram dan bahagia, tapi kebahagiaan berakhir di tengah jalan. Karina ketahuan mengidap penyakit kanker darah. Jiwanya tak tertolong. 

Saat-saat terakhir sebelum di panggil menghadap Tuhan YME, Karina sempat merelakan Boma menikah lagi dengan perempuan lain. Tiara namanya. Pada saat kritis dan sangan mengharukan seperti itu barulah terungkap bahwa Tiara sebenarnya adik kembar Karina yang sengaja di pisah sejak bayi. Pasalnya karena hari lahir Karina dan Tiara persis sama dengan hari lahir ibunya. Tiara dititipkan pada Sopir ayah (WD Mochtar). 

Apa yang ingin disampaikan lewat film ini oleh Oom Wim? "Hidup ini kan penuh persaudaraan, Kita kita ini pada dasarnya kan saudara. Perlu saling kasih mengasihi, itu saja, " jelas Wim Umboh

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF

 


PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?

Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya. 

Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya. 

"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".

"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."

"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata  bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu. 

"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.

Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut. 

"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi. 

Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989

Tuesday, March 3, 2026

IMPORT CHRIST MITCHUM, TEROBOSAN BARU PRODER GOPE T SAMTANI


 IMPORT CHRIST MITCHUM, TEROBOSAN BARU PRODER GOPE T SAMTANI (Berita Lawas). Sedikitnya 15 mobil di hancurkan. Empat gedung mewah di bakar dan sebuah pesawat heli diledakkan. "Itulah usaha kami mencari terobosan baru," ujar Gope Samtani produser Rapi Film, mempromosikan film "Dendam Membara".

Gope mengakui, filmnya yang di dukung Christ Mitchum bintang impor dari Hollywood, yang di kawasan Asia cukup tenar, belum sehebat film laga buatan luar negeri. "Tapi bolehlah dibandingkan dengan film aksi Indonesia lainnya," tukas produser yang mulai aktif sejak 1970 itu. 

Impor bintang asing, khususnya bintang bule, katanya juga merupakan upaya mencari terobosan baru di pasaran luar negeri. "Sementara ini, baru ada titik terang, " jelas produser yagn telah memproduksi banyak film. 

Titik terang yang dimaksud, film-film yang dibintangi pemain bule, cukuplaku di pasaran luar. "Menentang maut" film pertama Christ Mitchum produksi Indonesia, laku terjual di beberapa negara. Dan yang kedua adalah "Dendam Membara" tahap pertama di bursa film Canes, 4 negara membeli masing-masing Spanyol, Korea, Yunani dan Timur Tengah. 

"Karena kami menjualnya lewat forum festival, mudah-mudahan di forum festival yang lain, juga terjual," kata Gope. Karena titik terang itu pula, katanya untuk ketiga kalinya, Christ Mitchum di kontrak film "Pembunuh Berdarah Dingin".

Kenapa Christ Mitchum? "Yaa karena dengan Christ kita sudah tahu tentang dia. Ia cukup disiplin, mudah diajak kerjasama, " sergah Gope. 

Di Indonesia, Christ cukup punya penggemar. Di beberapa daerah macam Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah , film "Dendam Membara" cukup baik peredarannya. "Film aksi di beberapa bioskop kelas atas memang agak kurang. Tapi di kelas menengah dan bawah baik sekali, " jelasnya. 

Iapun segera mengambil contoh, di Depok misalnya "Dendam Membara" mampu bertahan sampai 10 hari dan selalu penuh penonton. Gope agaknya terus melanjutkan sistem terobosan pemasaran ini, yakni sukses di dalam dan luar negeri.  ~disadur dari MF 052/20/Tahunke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988

KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR


 KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR, (Berita Lawas). Kusno Soedjarwadi, lelaki kelahiran Jogyakarta, 16 Juni 1932 tidak sembarangan menerima tawaran untuk main film. "Selain kerja dan kesibukan organisasi, ia juga membina 30 orang lebih anak-anak di Sanggar Teater Graha Mandiri Bogor, " ujar wkail ketua komisi film Dewan Kesenian Jakarta. 

Tapi ada alasan lain mengapa mantan Polisi Militer yang terjun ke film sejak tahun 1956 ii ngumpulin anak-anak dan bikin sanggar teater. "Saya rindu film anak-anak yang tahun-tahun terakhir  begitu langka. Karena itu ia mengumpulkan anak-anak ini di kota saya. Saya bina mereka, saya ajari akting dan main drama dengan cerita-cerita yang mengandung humaniora. Tapi jangan salah lho, bukan berarti anggota sanggar saya melulu anak-anak. Ada juga yang mahasiswa, "ujar aktor yang pernah jadi penjaga gawang dan ketua klub sepakbola ini. 

Menurut aktor terbaik pilihan PWI Jaya lewat film "Perkawinan " tahun 1977 ini, langkanya film anak-anak di negeri ini bukan karena produser atau insan film enggan membuat film anak-anak. "Insan film siapapun dia, pasti berkeinginan untuk membuat film anak-anak, tapi bagaimana kita akan membuat kalau peredarannya jadi masalah? Tidak terjamin, " jelasnya. 

Ketika disinggung tentang apa yang dimaksud dengan film anak-anak tersebut, aktor yagn sudah membintangi puluhan judul film ini, dengan tangkas mengelak, "Batasan untuk pengertian film anak-anak tersebut memang masih kabur. Ceritanya tentang anak-anak atau pemainnya anak-anak? Soalnya tidak semua film anak-anak harus dimainkan anak-anak kan? Orang tua juga bisa memainkannya, " tutur aktor yang juga sutradar aini. 

Kusno mencontohkan film "Don Aufar" . Menurutnya itu bukan film anak-anak. "Soalnya film itu mengambah sih". Karena itu Kusno berpendapat film anak-anak adalah film yang mampu menarik minat dan disukai anak-anak. "Untuk melahirkan film yang disukai dan dimintai anak-anak tersebut kita memang harus lebih dulu mengerti dunia kanak-kanak tersebut, " ujarnya. 

"Pokokny aalasan saya mengumpulkan anak-anak di Bogor adalah untuk mengajak mereka mengenal dunianya dan dapat mengekspresikannya. Kalau mau tahu bagaimana saya membina anak-anak tersebut datang saja ke Sanggar saya, " ajak aktor yang juga mantan dosen Asdrafi Jogya ini 

diambil dari MF 61/29 tahun V, 29 Okt - 11 Nov 1988.

Monday, March 2, 2026

RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk

 


RAJA EMA, Bintang Malaysia jadi Menuk. Sesudah Fauziah Ahmad Daud , bintang Malaysia yang mulai naik daun dalam perfilman Indonesia adalah Raja Ema. Sebenarnya Ema semula lebih dikenal sebagai penyanyi. Baru mulai main film sejak tahun 1986 lewat "Sayang". Tahun berikutnya langsung menyabet gelar "Bintang Harapan 1987" dengan permainannya yang apik dalam"Mawar Merah".

Yang pertama mengajaknya ke Indonesia, produser Hendrick Gozali. Main Filmnya Torro Margens "Pernikahan Berdarah" (1988). Dalam waktu relatif singkat, Ema telah mendukung empat film, dua produksi Garuda Film dan Dua produksi Kanta Indah Film , Api Cemburu, Omong Besar dan Kipas-Kipas Cari Angin. Dan di film Kipas-Kipas Cari Angin, Ema disulap sutradara Nya Abbas Acup menjadi perempuan Jawa. Penampilan bisa dirias hingga mirip genduk-genduk. Masalahnya tinggal pada dialog. Tapi dalam dunia film sama sekali bukan problem, dalam proses suara di dubber (diisi) oleh Putri yang medok logat Jawanya. Sebetulnya sayang memang, sebab kalau suara diisi sendiri, besar kemungkinan nama Ema akan masuk daftar unggulan Aktris Terbaik FFI 1989. 

"Untuk versi film yang diedarkan di Malaysia nanti, saya sendiri yang mengisinya, " tambah Ema buru-buru. "Begitu juga logat tokoh-tokoh lainnya akan di ganti dengan logat Melayu".

Kalau acara Puncak FFI berlangsung di bulan November 1989, maka Festival Film Malaysia ke 8 berlangsung tanggal 9 September 1989 . Yang paling menggembirakan bagi Ema, ia berhasil memenangkan Piala Nilam Purnama Aktris Pembantu terbaik lewat film "Antara Dua Hati".

Keberuntungan Ema berganda rasanya, karena pada event yang sama, ibu kandungnya, Yusni Jaafar juga menggondol piala khusus sebagai Bintang Komedi Terbaik lewat film "Guru badul".

"Sayangnya film-film Malaysia masih sulit beredar di Indonesia, keluh Ema, "Kalau tidak pasti film-film tersebut bisa ditonton juga disini".

Untuk festival tahun 1989 hanya diikuti oleh 18 judul film yang di produksi dalam dua tahun terakhir. Disertakan juga film kerjasama Malaysia-Indonesia, "Irisan-Irisan Hati" yang di anugerahi gelar "Best Join Cooperation Film".

"Dibandingkan dengan perfilman Indonesia yagn memproduksi lebih dari 80 judul pertahun, film Malaysia paling berkisar diantara 10 judul saja, " mengakui Ema. "Sedangkan di Kuala lumpur hanya terdapat 12 panggung (bioskop). Dan 11 diantaranya menayangkan film impor baik dari Amerika, Eropa, Mandarin maupun India. Hanya satu panggung saja yang khusus menayangkan film-film Melayu (Produksi Malaysia) atau Indonesia. 


di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989